Me Time

Artikel ini memuat 6 foto

Me time untukku rasanya sudah banyak teman blog yang tahu, ke mana lagi kalau bukan ke obyek wisata sejarah.  Kali ini masih jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta, tempat yang berulang-ulang kudatangi, tanpa bosan. Karena masih cuti, sangat leluasa berjalan ke sana di hari kerja.

Tempat yang akan didatangi sudah dicatat. Pertama ke Gedung Arsip Nasional. Gedung ini sangat mudah terlihat dari jalan raya, tak jauh dari Gajah Mada Plaza. Kendaraan umum  yang lewat di sini antara lain mikrolet M 12 jurusan Senen – Kota, M 08 jurusan Tanah Abang Kota, dan busway Blok M – Kota turun di halte Mangga Besar.

Seperti umumnya gedung tua, halamannya  sangat luas, bagian depan sekarang dipakai anak-anak untuk bermain sepeda dan di halaman  dalam bisa disewa untuk pesta kebun (saat itupun halaman dalam sedang didekor untuk pesta). Gedung ini dibangun abad 18  dan dipakai untuk kediaman gubernur jendral VOC Reinier de Klerk.

Gedung dulu sempat dipakai sebagai gedung arsip nasional yang kini telah pindah ke Jakarta Selatan. Bangunan ini  beberapa kali hendak dibongkar untuk pertokoan, tahun 1900 dan tahun 1990an. Akhirnya gedung terselamatkan berkat  sekelompok usahawan asal Belanda. Mereka membentuk  Stichting Cadeau Indonesia (“yayasan hadiah Indonesia”) yang ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Selesai pemugaran tahun 1998, dan sampai sekarang masih dikelola yayasan. Sebagai museum, di sini memajang  banyak perabot lama dan reproduksi peta tua dari abad 16. Masuk ke sini tak ada tiket ya, gratis. Suasananya rapi, apik, bersih dan terawat, bahkan sampai ke toiletnya.

Tujuan berikutnya  sebetulnya ke gedung Candra Naya di wilayah yang disebut Olimo, tapi masih belum dibuka karena sedang pembangunan pertokoan, jadi masih mengintip saja dari kendaraan. Letak gedung ini nantinya ada di kolong pertokoan.

Turun dari mikrolet di depan Museum BI dan langsung ke museum Fatahillah. Kabarnya  tahun ini museum  akan dipugar dan ditutup sementara untuk umum, jadi puas-puaskan dulu melihat sekali lagi ya. Museum ini selalu ramai pengujung. Seharusnya aku senang karena museum tak sepi lagi, tapi rasanya jadi seperti ke pasar malam, bukan  suasana nikmat meresapi  keheningan museum. Banyak remaja yang tak mengindahkan larangan berfoto, menyentuh koleksi, bahkan menaiki badan meriam si Jagur untuk berfoto.

Di sini ada patung Hermes asli, semula letaknya di pinggir jembatan di Harmoni, depan kompleks istana Presiden.  Di Harmoni kini hanya tinggal duplikatnya saja.

Keluar dari sini ke arah kanan ada Museum Keramik, yang masih belum selesai renovasi, perjalanan kulanjutkan ke kantor pos dan ketemu bis surat kuno lagi.

Karena ingin merasakan pengalaman ngojek ontel, kucoba saja .., siapa takut. Ternyata agak susah duduk di boncengannya, agak tinggi he..he… Rutenya mendatangi 5 tempat dengan pemandu  dikenai biaya Rp 30,000. Mula-mula ke Toko Merah, yang selama ini tertutup, bisa kuintip sedikit karena sedang ada pekerjaan dengan kabel-kabel. Bagian dalamnya biarpun masih berantakan , terlihat megah. Sempat masuk sedikit, tapi kemudian disuruh keluar.  Mudah-mudahan segera dibuka untuk umum. Pak Syamsuri, pemanduku, menceritakan kisah singkat gedung ini.

Karena hanya ingin berkeliling dengan ojek ontel, aku tak mampir lagi ke museum Bahari, Jembatan Kota Intan dan Pelabuhan Sunda Kelapa, hanya naik saja  ke  lantai teratas menara Syahbandar, lalu mampir di Galangan VOC yang kini jadi restoran dan tempat kursus musik. Pak pemandu, mungkin merasa tak enak hati,   malah menawarkan mengantar ke tempat wisata religius seperti ke kelenteng tua di Petak Sembilan dan masjid Pekojan , dan beberapa tempat lagi. Insya Allah lain waktu, karena matahari sudah naik dan hari semakin panas. Nanti ketemu  lagi ya pak … Bapak ini asal Jawa tetapi sudah hafal sekali cerita Kota Tua. Dia tahu titik nol Jakarta, cerita suram sejarah Batavia dan lainnya. Tapi beliau agak tersipu ketika kubenarkan semua ceritanya, katanya malu kok cerita sama orang yang sudah tahu.

Sekembalinya ngontel, menghabiskan waktu makan siang di cafe Batavia, sendirian, dan melihat dari jendela lantai dua kegiatan  di bawah sana. Ada sekelompok remaja yang membuka bekal makan siangnya, ada juga yang mulai bergerombol melihat pertunjukan  tradisional dengan kuda lumping yang diiringi dengan musik pukul.

Iklan

67 thoughts on “Me Time

  1. mademelani berkata:

    menarik sekali perjalanannya, dan diakhiri dengan refreshing duduk sendiri di cafe… hmmm hobiku juga itu…
    yah mmg bagus ya museum sdh jadi lbh akrab dengan masyarakat, sayangnya hiburan berfoto ria masih melebihi hiburan mengetahui sepotong sejarah diri kita di masa lalu. tapi semuanya proses ya…

  2. Lyliana Thia berkata:

    iya Bun, museum skrg rame.. tapi banyak abege yg heboh foto2 aja.. hehehe..
    ojek onthel? unik.. sepeda onthel nggak ada yg pendek yah Bun? aku takut naiknya.. heheh

  3. kakaakin berkata:

    Wah… ternyata ada ojek onthel ya… Pasti sensasainya seru ya, Mbak 😀
    Sepertinya cuma di kantor pos tua masih ada bis surat besar seperti itu ya, seperti yang pernah diposting Pakdhe Cholik 🙂
    Huhu… kapan ya, saya bisa ke kota tua Jakarta… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s