Nonton Konser

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Imelda tentang musik klasik, Symphony no 9.

Musik  klasik yang pertama kudengar itu karyanya Johann Strauss II,  dari kaset milik almarhum papaku. Salah satu lagunya yang kusuka, lagu berirama waltz, The Blue Danube atau An der Schönen Blauen Donau. Kemudian setelah kursus piano, yang hanya sebentar, kukenal juga lagu Fur Elise, Ode To Joy, dan beberapa lagu standard untuk pelajar pemula.

Perbendaharaanku tentang lagu klasik memang hanya sedikit sekali. Tetapi aku punya pengalaman tak terlupakan dan agak memalukan ketika ada kesempatan nonton konser musik klasik.

Ketika itu aku  diajak teman kuliah bertahun lalu. Temanku itu  punya ekstra tiket gratis dari tempat kursusnya. Konser waktu itu disponsori oleh sebuah perusahaan otomotif ternama, dengan seluruh pemusik dari luar negeri, maka nama grupnyapun memakai merk mobil itu. Acaranya  di auditorium  sebuah hotel ternama di kawasan segitiga emas Jakarta, karena Di Indonesia kan belum ada concert hall.

Temanku itu memang cukup lama belajar piano, jadi pengetahuan  musik klasiknya pun lebih banyak.

Beberapa kali sebelumnya aku pernah nonton konser musik pop atau rock. Konser musik biasa kan kita boleh berpakaian sesukanya, boleh bertepuk tangan, bergoyang,  loncat-loncat mengikuti irama, bahkan menjerit-jerit memanggil nama artis idola.

Kebalikannya, untuk menonton konser musik klasik itu berbeda. Temanku memberi arahan pakaian  cenderung formal, dan selama pertunjukan tak boleh bersuara,  tak berbicara, tak berbisik-bisik, harus khidmat.  Ungkapan kekagumanpun harus ditahan, tak boleh bertepuk tangan atau ikut bersenandung.  Pokoknya serba tertib. Bahkan, waktu itu aku terlambat datang 5 menit, ruangan sudah ditutup dan baru bisa masuk setelah lagu kedua. Berdiri, berjalan , ataupun mau keluar ke kamar kecil sebaiknya setelah konser selesai  atau waktu rehat.

Pemandu acara  sempat memberi tahukan tata tertib. Tapi apa mau dikata, mungkin memang tak semua penonton familiar dengan musik klasik.  Ada saja yang sempat berdiri dan tepuk tangan ketika musik berhenti, termasuk diriku. Untung saja segera  ditarik oleh temanku.

“Kok, lagunya banyak?’  tanyaku berbisik sepelan mungkin. ” Di buku petunjuk kan cuma empat, ini sudah lebih”

Ternyata, satu lagu klasik itu bisa memiliki beberapa tempo berbeda, ada yang awalnya lambat, jeda dulu, irama sedang, jeda lagi, baru ke tempo berikutnya yang bisa saja lebih cepat. Di saat jeda itulah orang bertepuk tangan, padahal lagu belum selesai, yang berarti terlarang untuk bersuara.

Dan, ketika rehat kedua,  pembawa acarapun sekali lagi kasih peringatan. Lagu ketiga akhirnya berjalan sesuai pakem, tak ada lagi yang bertepuk tangan saat jeda pergantian tempo.


Iklan

48 thoughts on “Nonton Konser

  1. Lyliana Thia berkata:

    wah ternyata seperti itu ya nonton konser musik klasik.. hehehe…
    belum pernah ke konser musik Bun.. musik apapun itu… heheh.. kasian deh akyu.. 😀
    untung baca disini, jd suatu hari nanti aku punya kesempatan nonton nggak salah2 lagi deh (semoga).. hehe.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s