Duku

Beberapa hari lalu kami membeli duku di tukang buah pinggir jalan. Saat ini sedang banyak ditemui tukang buah yang menjual buah musiman.  Terbayang sudah akan nikmatnya rasa buah duku yang manis dengan biji kecil. Sewaktu membelipun, sudah dicicip dulu, sehingga yakin rasa buah akan lezat.

Sesampai di rumah, kenyataan jauh panggang dari api. Yang didapati buuah duku yang ada ternyata dicampur, ukuran buah tak sama besar. Ada yang besar, ada yang mini. Rasanyapun ada yang manis, ada pula yang kecut dengan biji yang besar, lebih banyak kecutnya..

Pedagang pinggir jalan ini kok ya tidak mau memikirkan kepuasan konsumen ya. Dia hanya memikirkan keuntungan cepat. Pembeli pasti kapok membeli di situ lagi.

Kesal sekali, padahal yang kubayangkan duku yang manis seperti pernah menjadi buah tangan suami ketika pulang berdinas dari Kalimantan Barat.

Kebanyakan duku yang dijual di ibukota berasal dari Sumatera Selatan. Penjual memasang nama “duku Komering” (ada yang menuliskan duku Comring he..he…)., sebuah kabupaten di propinsi Sumatera Selatan.

Dahulu pernah merasakan pengalaman membeli buah duku di tempat asalnya. Ketika itu dalam perjalanan Bengkulu – Jakarta melalui lintas tengah Sumatera. Bis yang ditumpangi melewati sentra penjualan duku di daerah Komering tersebut. Tengah malam bis berhenti di sana. Rupanya supir bis menuruti keinginan para ibu penumpang untuk berhenti  dan memborong duku. Padahal sebetulnya acara itu di luar jadwal, namanya juga bis antar kota. Alhasil, beberapa karung duku pindah ke bagasi bis AKAP.

Saya tak ikut-ikutan, ngantuk… dan juga memikirkan bagaimana membawa karung keluar dari terminal Pulogadung, saya kan tidak minta dijemput.

Asal gambar dari Jambi Torism

Ilmu latar belakang gambar berasal dari ilmu sandal jepit pak Mars

36 thoughts on “Duku

  1. Anonim berkata:

    napasih smua pada komplin m duku yg tercampur rasa kecut ato ada asemnya????
    padahal itu kan berguna buat ibu2 yg lg ngidam,,,,
    hehheheheehhe
    nompang lewat j ka monda

  2. Emanuel Setio Dewo berkata:

    Wah, beberapa hari yang lalu daku menikmati langsat di Makassar. Langsat ini sama dengan duku atau memang buah yang berbeda ya? Kata teman di Makasar, langsat beda dengan duku. Kalau daku sih tidak tahu bedanya, jadi langsung embat saja. Wuenak deh…

    Kayaknya dari 1 pohon, jadi rasanya seragam semua. Wenak tenan…

  3. Lyliana Thia berkata:

    ternyata banyak sekali yg mengalami kejadian yg sama ya.. malah waktu itu aku pernah beli dukunya jadi busuk2 gitu Bun.. beratnya jg jauh berkurang… mengecewakan memang.,.\

    oot, Bun Pak Mars itu jago utak atik html ya hehe.. pengen belajar jadinya😀

  4. Mabruri Sirampog berkata:

    sekarnag saya juga lebih teliti bila mau beli buah2an di pinggir jalan bun, karena ya pernah ngalamin kasus seperti itu. Yang dicicipin sih bagus, eh ternyata sampai di rumah, fyuuuhhh

  5. asepsaiba berkata:

    Ketika masih sering tugas ke Palembang, saya paling senang jika pergi ke sana pas bulan Januari – Desember.. Karena di bulan2 itulah Dukuh komring asli Palembang sedang banyak2bya… Murah dan asli pula…🙂

    Salam kenal bu…

  6. Ni Made Sri Andani berkata:

    ya.. kebayang deh kecewanya. Tapi kadang masih ada yg lebih nyebelin lagi Mbak.. yaitu jika udah bijinya gede-gede, rasanya kecut dan … kegigit pula bijinya yang pahit itu..he he.

    Tapi terlepas dari buah duku yg kebetulan tercampur kwalitasnya itu, semakin kita mengenal tanah air kita, semakin banyak kita tahu buah-buahan lokal yang memiliki kwalitas bagus-bagus namun belum dibudidayakan/dipasarkan dengan baik ya, Mbak Monda. Semoga ke depannya buah-buahan kita yang berkwalitas bagus semakin berjaya dan mudah ditemukan di pasaran…

  7. Evi berkata:

    Sebuah sikap yg sangat tak terpuji dari penjual duku tepi jalan. Mestinya mereka mulai berpikir bahwa cara berdagang seperti itu akan menutup pintu rejeki diri sendiri..Semoga dimaklumi saja Mbak Mon. Kadang mereka emang kurang didikan dalam hal kepuasan pelanggan ini

  8. yisha berkata:

    wah, perasaan, setiap kali beli, emang begitu kok, ada besar, ada kecil, ada manis, ada kecut…. biasa aja mbak biasa aja…. nikmati ajaaa… hahahhahhaa

  9. nique berkata:

    duku termasuk buah favoritku kak
    tapi karena lagi gampang kena batuk,
    musim duku kali ini terpaksa membatasi diri deh
    klo musim duku/durian/manggis, jadi pengen pulang kampung aja
    karena di ladang nek karo kumplit tuh semua hehehe

    klo saya kira sih, duku yg di pinggir jalan itu, dicampurnya kak
    jadi yg bagus2 dicampurnya sama yg kecut
    klo ga gitu, mana laku duku yg kecutnya hehehe
    tapi karena doyan, kecut pun tetep diembat

    yang agak susah nyari rambai niy kak,
    pernah nemu rambai di Jakarta ga kak?

  10. kettyhusnia berkata:

    kayaknya ilmu ini boleh juga dicopy..minta ijin dulu lewat mbak Monda..makasih ya Pak Mars
    btw, di tempat saya juga sering dicampur..jadi meringis – tersenyum- meringis lagi makan dukunya🙂

  11. LJ berkata:

    klo belinya banyak trus tyt dukunya gak manis pasti kesel banget kak.
    tapi pengalamanku dulu beli duku di pinggir jalan palembang, cukup memuaskan.
    manis dan murah,, tapi itu dulu tahun 90-an saat pulang kampung naik bis ANS bandung-bukittinggi😛

  12. prih berkata:

    Wow ngumpetin dukunya benar2 di tengah teks biar tidak terbawa pembaca postingan yang hobi makan duku nih Eda. Sayang sekali sang penjual duku sedang kehilangan pelanggan karena kurang menjaga mutu layanan. Salam

  13. marsudiyanto berkata:

    Duku yang bikin duka…
    Kalau durian yg dipalsu, mungkin masih bisa diolah jadi bubur durian
    Tapi kalau duku yg palsu?
    Emangnya bisa disayur?
    Duku palsu biasanya bijinya besar dan rasanya masam banget ya Mbak

  14. bintangtimur berkata:

    Mbaaaak…dulu waktu suami dinas di Jakarta, saya selalu beli duku di Pasar Baru buat dibawa pulang ke Surabaya…hehehe, rela deh nenteng-nenteng 5 kg duku pake tas, abis dukunya enak banget sih, manis dan bijinya kecil-kecil…

    Ssst, coba deh beli duku di Pasar baru, mbak Monda🙂

  15. yuniarinukti berkata:

    Saya paling gak suka beli buah dipinggir jalan Mbak, harga murah pun saya juga gak tergiur, alasan tepatnya adalah mereka suka mengurangi timbangan juga kadang buah yang dijual banyak gak benernya, contohnya sih bagus tapi yang dijual banyak yang masih muda dan belum siap petik..
    Saya pernah punya pengalaman beli jambu merah. Ditulisnya besar-besar Rp. 5.000.. karena murah saya dekati, pas saya bilang mau beli sekilo, penjualnya balik tanya: “Mau pke timbangan biasa apa yang timbangan kue?”
    Jadi maksudnyam klo pke timbangan biasa harganya lebih mahal karena timbelnya mantep, klo timbangan kue jarumnya nyanthol jadi gak sampe sekilo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s