Santan Kelapa Untuk Rendang

Tulisan ini terilhami dari artikel pak de tentang mesin parutan kelapa. Seperti apa bentuk mesinnya silahkan dicek fotonya pak de ngganteng sedang memarut kelapa.

Jaman sekarang, segalanya bisa dipermudah ya. Salut buat para inovator. Selain mesin parutan kelapa, di pasar tradisional sekarang juga sudah ada mesin pemeras santan.

Semakin mudah saja tugas para ibu memasak rendang. Apalagi tukang bumbunyapun ada. Tinggal datangi kiosnya si uni minta bumbu rendang 1 kilo atau bumbu opor 1 ekor ayam, bumbu ayam goreng dan sebagainya. Semua ada. Bahkan uni bisa kasih tips bumbu apa yang mesti ditambahkan, misalnya daun kunyit. Di hypermarket sekarang juga sudah ada layanan ini lho.

Tetapi dahulu, membuat rendang untuk persiapan lebaran itu sungguh  merepotkan. Resep dari keluarga ibuku, peras santan untuk rendang itu tidak boleh dikasih banyak air. Paling banter boleh dikasih air hangat secangkir untuk 3 buah kelapa parut. Alasannya supaya daging rendang tidak hancur.

Maka, tugas memeras santan itu menjadi tugas yang paling dihindari. Berat dan susah sekali keluar santannya.  Pekerjaan ini biasanya dilakukan berdua. Masing-masing memegang ujung kantong  kain yang berisi kelapa parut, kemudian   diputar sampai keluar santannya. Berulang-ulang dilakukan sampai tak ada lagi santan yang keluar. Telapak tangan sampai memerah.

Kalau memeras sendiri, salah satu ujungnya diikatkan di kaki kursi he..he..

Nah, pekerjaan itupun kami lakukan ketika mudik Lebaran ke rumah Opung di Medan. Opung sudah menjadi sesepuh di sana, sehingga kerabat banyak yang datang. Sudah pasti  hidangan yang disediakanpun dalam jumlah besar. Membayangkan banyaknya kelapa yang harus diperas untuk berkilo-kilo daging rendang saja sudah lemas .

Tetapi ternyata ada inovasi baru untuk memeras santan. Alatnya seratus persen manual,  tak ada mesin. Nantulangku  (tante) membeli dari tukang kelapa di pasar. Alatnya itu berupa sebuah bangku kayu yang  dudukannya terdiri dari dua lapis. Lapis teratas ada engselnya  sehingga bisa diangkat. Di  bagian tengah lapis bawah itu ada sebuah lubang tempat meletakkan kantung kelapa parut.  Setelah kantung diletakkan,  lapis atas diturunkan untuk menekan kantung. Untuk menambah tekanan, duduki saja bangku itu. Dan… keluarlah santan yang banyak yang ditampung dengan baskom di bawah bangku. Sangat praktis dan cepat, dan sudah pasti tak ada telapak tangan merah.  Malah adik-adik sepupu  anggota pasukan bebek (karena  kebanyakan cucu opung itu anak perempuan dan semuanya cerewet seperti bebek) rebutan ingin mencoba sensasi memeras santan.

51 thoughts on “Santan Kelapa Untuk Rendang

  1. niee berkata:

    Bundaaaa… kok gak suka sama daging rendang yang hancur seh?? kalau aku malah makin hancur dan makin kental kuahnya makin aku suka *lap iler*😀

  2. bintangtimur berkata:

    Wah, saya belum pernah lihat alat seperti itu, mbak.
    Yang sering saya lihat di pasar tradisional di Sumatera sana adalah alat buat memarut kelapa bukan alat buat memeras kelapa…
    Makin lama teknologi apapun itu semakin canggih, termasuk bikin santan buat rendang ini🙂

  3. Budi Arnaya berkata:

    Hasil remasan santan tentu mengeluarkan tenaga banyak, pasti otot tangannya kuat…😆
    Tapi dengan teknik yang baru, ngak perlu susah, pastinya lebih cepat dan kuantitasnya bisa banyak ya Bunda

  4. Miss. Indi berkata:

    Wah, unik ya ada alat pemeras santan😀 Berhubung aku pesco-vegetarian, jadi jarang sekali makan masakan yg memadukan santan, tp kalau memang harus aku biasanya cukup pakai santan instan (eg: Kara), jadi belum pernah peras sendiri, hihihi. Thanks for share, btw🙂

  5. Nchie berkata:

    Bener Bunda,sekarang tuh lebih di permudah,ga ada alasan lagi untuk malas memasak ya Bun..
    Jadi inget lebaran,kalo bikin rendang,santan kelapa kan suka mahal banget,tapi tetep aja di beli hihi..
    Tapi yang hebat mama mertuaku,ga mau pake santan hasil parutan,maunya di parut sendiri,katanya ga enak ..cepet basilah..apalah..bener2 SAlut Bun.

  6. LJ berkata:

    bener kak.. sekarang memang praktis krn di pasar sudah ada santan yang sudah jadi.. tapi tetap saja untuk rendang harus ada perlakuan khusus.. krn santan pasar itu dibuat dari bermacam kelapa, bukan pilihan (belum tentu kelapanya tua).. shg gak bagus utk dibuat rendang kering (klo hanya sekedar rendang basah/ kalio saja, gpp..)

    jika di rumah lagi ada pasukan pria, biasanya kelapa cukup pesan yang parut saja, nanti diperas di rumah. tapi jika cuman ada aku berdua mama, maka triknya adlh beli kelapa utuh di pasar, upahin marut dan upahin peras santan sekalian pake mesin. ini agar kita yakin kelapanya tua semua. lalu yang dibawa pulang adalah patinya saja.

    klo air santan tll banyak, didihkan saja dulu sampai menyusut baru masukkan daging.. biar gak hancur. penampakan rendang Aur bisa dilihat di sini http://ladangjiwa.com/9812/ku-cium-wangi-rendang-di-langit-bukittinggi😛

    tapi kepengen juga nyicip rendang ala Opung itu kak..!

    • monda berkata:

      ya mak betul, tunggu mendidih dulu ya baru dagingnya masuk
      hi..hi… mak sekarang mah udah kagak kuat lagi buat rendang sendiri
      pesan aja walaupun lidah ya maunya yang seperti dulu juga…

      link mak yang itu aku ingat, persis mula2 kenal blognya emak… masih sebatas silent reader ya…

  7. ded berkata:

    Mbak kalau dulu waktu kecil (di kampung/padang) saya bantuin nenek memarut kelapa dengan “kukuran”, yaitu besi yang kepalanya pipih dan bundar terus di runcingkan, besi tsb di tumpangkan di sebuah bangku kecil dari kayu.
    BTW saya penasaran seperti apa mesin pemeras santan Mb, ko ga ada gambarnya ?

    • monda berkata:

      nggak ada gambarnya da, nggak kepikiran juga jaman dulu itu buat foto2 he..he..

      iya di kampung kami juga masih pakai kukuran, saya ngak bisa da,udah terbiasa pakai parutan sih..

  8. Tiara Putri berkata:

    mamaku klo mau pake santan, kelapanya dipotong kecil2 terus diblender😀
    iya tuh ya di supermarket udah tersedia berbagai macam bumbu, sampe ke bumbu rujak sekalipun dijual, tinggal diencerin aja, itu pake pengawet ya

  9. krismariana berkata:

    ini postingan khas mbak monda🙂 suka deh.
    tapi kebayang repotnya memeras kelapa kalau mesti pakai bantuan kursi segala haha. aduh, saya beli rendang yg sudah jadi saja deh. hihihi

    • monda berkata:

      resep masak rendang itu memang udah banyak variasinya
      jadi yang dijual di pasaran itu rasanya tetap aja beda dengan yang dimasak di rumah,
      repot2 begini mah pas Lebaran aja kok..he..he…kan maunya Lebaran itu yang serba istimewa

  10. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda…

    Orang tua jaman dulu sangat mementingkan aroma asli, menjaga kelazatan makanan dan ketahannya agar tidak cepat basi. Kerana itu kesejatan pada kepekatan santan kepala sangat diambil berat. Berbeda dengan zaman moden kini yang semuanya mahu segera. Akak memilih santan segera (tepung) untuk menjimatkan waktu dan memudahkan walau rasanya tidak sama dengan yang asli.

    Hehee… akak juga seperti Monda, tidak suka memerah kelapa parut untuk mengambil santan pekat. Tangan sakit dan memerah. Akak sangat menyukai menu kari ayam bersantan pekat masakan ibu dan ibu mertua akak. Sangat lazat.😀

    Salam hangat dan ceria selalu dari akak di penghujung minggu.

  11. necky berkata:

    hehehe….sampai sekarang mesin perasan santan masih ada di rumah bu. Tadinya mesin saya buat bisnis namun karena sesuatu hal akhirnya bisnis saya tutup dan mesin tetap ada di rumah deh. Setiap ada hajatan, mesin itu kami hidupkan dan sangat membantu mempercepat proses memasak…

  12. Evi berkata:

    Untuk rendang, santan jadi belum bisa menggantikan santan yg dibeli jadi. Gak tahu mereka tambahi apa, kok minyak tidak keluar, sesuatu yg sangat dibutuhkan dalam primanya rendang kita ya Mbak Mon. Sdh gitu rendang pakai santan jadi2an gak wangi..Maka ibuku tak pernah membeli santan jadi untuk rendang. Kalau untuk sayur masih boleh lah..:)

    • monda berkata:

      betul uni alasannya itu ya, katanya kalau santan makin kental dagingnya empuk tapi nggak hancur
      pokoknya masak rendang itu sesuatu banget deh.. pantes aja terpilih jadi nomor satu sedunia

  13. prih berkata:

    Teknologi tepat guna yang inovatif sekali Eda, sari santan keluar, yang memeras juga tidak terlalu berat. Asyik bila ditampilkan fotonya dengan model pasukan bebek ala Eda Monda hehe. Salam

  14. nique berkata:

    OOT dikit ya kak, bagi2 info untuk bikin kelapa sangrainya itulah
    soalnya sampai sekarang buatku bagian itulah yang paling ribet
    sedangkan klo ga pakai kelapa disangrai, kok kurang gimana gitu ya
    hehehe gara2 dulu liat mamak klo bikin rendang pake kelapa sangrai

    OOT ke2😀 pernah liat ga kak parutan kelapa tradisional yg ada di rumah2 jaman dulu, klo orang orang Karo bilang KUR-KUREN, yang kayak bebek modelnya terus klo mo marut kelapa kita harus duduk di situ, persis kayak naik bebek2an gitu?

    • monda berkata:

      rendang pake kelapa sangrai rasanya sih belum pernah buat Ni,
      gulai ayam iya…
      kelapanya ya disangrai aja, tanpa minyak, sampai warna kecoklatan dan wanginya keluar, terus diulek deh sampai halus dan bentuk seperti pasta
      tinggal dicampur aja sama bumbu lainnya

      kukuran ya Nik?
      tau, dulu di rumah pakai itu,aku ya cuma nyoba2 aja, masih SD, tapi nggak berhasil, ada tekniknya sendiri ternyata ya
      setelah pindah dari sumut kan nggak nemu kukuran, jadi ya keterusan pake parutan, jadinya ya nggak bisa2 pake kukuran

      batu gilingan juga beda, di sana kita kan pake batu bulat ya, bukan ulekan seperti di sini,kalau gilingan dan batu bulatnya itu dibawa2 pindah sama ibuku

      • nique berkata:

        klo ga salah ingat, aku terakhir liat kukuran itu waktu ke desa Ciptagelar di Halimun Sukabumi, dapurnya pun persis kayak dapur orang kita di Medan, ada para2nya😀
        cuma sayang waktu itu ga kepikiran ambil fotonya juga sih

        ho oh batu gilingannya beda, untungnya pas pindah ke Jkt, mamak tetep bawa batu giling dari Medan hehehe

            • monda berkata:

              aku googling cari alamat lengkapnya, nggak tau sih.. cuma tau tempatnya doang, di ruko2 gitu deh

              Alamat :
              Kompleks Griya Inti Sentosa
              Jl. Griya Agung No. 62 Blok N3/18
              Sunter Agung , Sunter – Jakarta Utara

              Telepon : 021 6404105

              gulai kepala ikannya itu mantap banget, besar sekali cukup untuk berdualah, rasa2 macam2 asam khas Medan ada semua, mantaplah
              apa kopdar di sana aja kita yuk..

  15. nh18 berkata:

    Hahahah …
    saya membayangkan …
    Santan hasil remasan dengan cara diduduki itu …

    Saya jadi pingin juga merasakan sensasi itu …

    But … Saya bisa makan rendangnya nggak ya ???

    salam saya Kak

  16. Pakde Cholik berkata:

    “…Maka, tugas memeras santan itu menjadi tugas yang paling dihindari. Berat dan susah sekali keluar santannya..”

    Maaf bu amalgam, saya kira bu amalgam malah mudah memeras santan..tinggal jressss gitu aja. ha ha ha ha..
    Mosok wong Sumut gak kuat meres kelapa.
    Makku yang kurus aja trampil kok

    Salam hangat dari Surabaya

    • monda berkata:

      kelapanya nggak boleh ditambahin air sih de
      kelapa asli itu sebetulnya kan santannya dikit banget, jadi ya musti diperas kencang2 he..he..

  17. kawanlama95 berkata:

    Saat ini masak lebih mudah wah saya jadi teringat waktu masih bisnis kuliner kami mengunakan santan kelapa yang sudah jadi dengan mengunakan mesin pemeras santan hasilnya lebih banyak dan perasannya cukup baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s