Sidang Tilang

Sebagian pemilik SIM kurasa paling tidak pernah sekali melakukan pelanggaran. Aku sudah 4 kali melanggar, karena salah jalan, tapi selalu dimaafkan oleh oom polisi. Tidak perlu salam tempel. Biasalah kaum ibu  punya ilmu berkelit unggul yang sudah terkenal , ya dipergunakan dalam keadaan darurat, Untung saja selalu berjumpa polisi baik hati dan berkata : ” Silahkan jalan bu, lain kali perhatikan rambu ya”

Sekali waktu di daerah Kemayoran, aku membuat kesalahan lagi. Karena terlalu asyik bercerita dengan teman jadi tak memperhatikan rambu. Aku masuk ke jalur cepat padahal itu seharusnya jalur untuk masuk ke jalur lambat. Sebelumnya sudah kulihat ada mobil patroli polisi dari belakangku.Terlalu sok yakin dahulu di tempat itu memang jalur masuk ke jalur cepat, aku terus saja masuk. Sudah pasti mobil patroli langsung menghampiri. Intinya ya aku disalahkan karena melanggar rambu. Kali ini entah kenapa aku malas berbantah dan ” ditilang saja pak”.

Pak polisi mengeluarkan buku tilang dan mencatat, lalu memberikan surat selembar setelah SIM A  ditahan. Waktu sidang sudah ditentukan tanggalnya dan akan dilaksanakan di Pengadilan Negri Jakarta Pusat sesuai wilayah pelanggaran.

Maka pada hari yang ditentukan, , sendirian kudatangi PN Jakarta Pusat di jl Gajah Mada.  Tanya sana sini aku naik ke lantai dua. Di depan ruang sidang sudah ada beberapa meja yang dijaga polisi. Kuserahkan surat tilang di situ, dan aku disuruh masuk ke dalam ruang sidang.

Di dalam telah banyak orang duduk mengantri. Kupikir pasti giliranku dipanggil masih akan lama sekali. Rupanya tidak terlalu lama.

Maka, ketika namaku dipanggil berikut 4 orang lagi, kami duduk di kursi panjang di depan meja hakim yang berbaju toga. Kami berlima melakukan kesalahan yang sama.

Hakim bertanya : ” Ibu Monda, ibu mengaku bersalah melakukan pelanggaran ini… bla..bla…?”

Aku mengakui.

Lalu, “Ibu harus membayar denda kepada negara sebesar Rp 40.000,-” tok.. tok.. palu diketuk.

Dan selesai,  aku lalu berjalan ke meja di dekat pintu keluar, menyerahkan uang denda dan mendapat tanda terima untuk mengambil SIM di meja luar.  Setelah SIM diterima bisa langsung pulang. Tidak seram kan, jadi buat apa takut ditilang?

Lain lagi cerita mamaku. Ketika  masih aktif di Dharma Wanita, mama dan teman-temannya pulang dari pertemuan. Tante B yang menyetir  ini salah masuk jalur, persis sepertiku. Mobil mereka diberhentikan. Sebelum sempat sang polisi menuliskan surat tilang, para ibu dari dalam mobil ribut memberikan alasan.

Pak polisi menyerah karena dikeroyok ibu-ibu cerewet : ” Ya sudah, ibu jalan saja. Sudah salah malah kaki saya juga dilindas.”

Si tante B, karena kagetnya distop pak polisi tidak sengaja  berhenti tiba-tiba dan melindas kaki petugas. Untung saja sepatunya tebal..:P.

Iklan

89 thoughts on “Sidang Tilang

  1. Ni Made Sri Andani berkata:

    Bagus sekali Mbak. Meng-encourage orang lain untuk mengikuti prosedur saja, tanpa harus khawatir. Kalau memang salah, ditilang ya.. ikuti sidang. Selesai.
    Ternyata nggak seseram yang dipikirkan ya..

  2. muamdisini berkata:

    biarpun cuma 40rb, tetep aja ngeri kalo ditilang bunda…
    ngeri ngurusinnya…kita udah terlalu parno duluan kalo berurusan sama yang namanya tilang menilang apalagi sampe disidang…
    mending taati seluruh rambu jalan raya..ya kan bun?
    hehehehe

  3. MasGiy berkata:

    memang …. kalau kaum hawa yang melanggar lalin, biasanya tidak akan menemui kesulitan dengan petugas polisi, beda banget jika yang melanggar adalah kaum adam …. heh….ribet dan …….

  4. nh18 berkata:

    Saya juga pernah menempuh jalan perang seperti itu kak …
    (instead of jalan damai …)
    and yes … musti ke pengadilan Jakarta Selatan di Jln Ampera …

    prosesnya cepet kok …
    tidak seribet yang saya duga sebelumnya …

    tapi ini kejadian udah duluuuuu banget …
    jaman saya kuliah …

    salam saya Kak …

  5. Mechta berkata:

    haha…itulah fungsi sepatu tebal pak poltas ya mbak? 🙂
    ngomong2 tentang sim, lagi pusing ni nyari sim yg ketlingsut…entah jatuh dimana 😦

  6. Imelda berkata:

    Wah aku pernah begitu (masuk jalur cepat) dan karena buru-buru aku dan si supir tidak bisa ke sidang, ya kompromi jalan damai di situ. kena 250rb sajah hahaha. Pelajaran deh

  7. ceritabudi berkata:

    Heeee dengan menghadiri sidang ke PN, menurut saya pribadi bunda monda 100% mengakui kesalahan, meskipun kadang itu dilakukan secara tidak sengaja(kelupaan) hal yang luar biasa dan saya kira jarang sekali dilakukan oleh kebanyakan orang.

    Biasanya orang ego dengan alasan tidak sempat sehingga menitip denda tilang, padahal itu memberikan peluang ini itu ya Bunda heeee
    Membiasakan diri mengurus surat-surat akan lebih baik dari pada dengan calo heeee

  8. BunDit berkata:

    Dulu pas kuliah di jogja beberapa kali kena tilang saat naik motor. Tapi sll “salam tempel”, jd belum pernah merasakan di sidang. Ternyata tidak seribet dan seseram dibayangkan. Btw, cepet dipanggil sidang apa karena yang disidang sedikit ya? Yang melanggar lalin kebanyak pake salam tempel kali 😀

  9. prih berkata:

    dinikmati saja ya Eda, ada saat dibebaskan hanya dengan senyuman, ada saat resmi ditilang, asyiik cerita yang rombongan teman mama saat kroyokan memberi alasan hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s