Kita Semua Bersaudara

Keuntungan memakai angkutan umum salah satunya bisa duduk santai dan melihat sekeliling, sehingga bisa kukihat pemandangan mengharukan di jalan protokol ibukota sepulang bekerja sore hari.

Mataku terus memperhatikan keluar jendela bus. Di kiri jalan kulihat seorang bapak penjual rokok yang menyandang kotak kayu berisi barang dagangannya di pundak kanan. Tangan kirinya menarik papan persegi kecil beroda yang ditumpangi putranya yang dari raut mukanya mulai beranjak dewasa. Posisi sang putra tengkurap di atas papan sambil membaca buku yang terbuka di depannya. Si putra ini hanya memiliki kaki sebatas lutut dan kedua tangan tak sempurna yang tak sampai sebatas siku.

Dahulu mereka pernah kulihat ketika sang anak masih berseragam putih merah. Ya, kisah mereka pernah dimuat di harian ibukota bertahun lalu. Demi menyekolahkan anak sang ayah melakukan perjalanan ini dari rumah di Jakarta Timur ke lokasi sekolah khusus di bagian selatan kota, kalau tak salah ingat sekolah menggratiskan si anak. Bertahun-tahun dijalani pergi pulang menempuh puluhan kilometer. Sejak masa SD si anak baru kali ini kulihat mereka lagi. Memang aku hanya bisa bersimpati saja.

Kuperhatikan terus, rupanya niat mereka berjuang untuk hidup masih sangat kuat, meskipun tak tahu masih bersekolah atau tidak karena si anak tak berseragam.
Ketika melewati pintu masuk sebuah hotel, seorang ibu dengan dua koper, tampaknya menunggu taksi, mengeluarkan dompet, mengambil uang dan menyerahkan pada bapak. Mereka terus berjalan, berpapasan dengan banyak orang dan seorang ibu yang jalan bergegas mengeluarkan uangnya. Tanpa menadahkan tangan, banyak orang yang iba. Tercekat tenggorokanku rasanya, masih banyak orang baik di ibukota.

Belum hilang rasa terharuku dan  masih terus mengikuti kedua manusia tabah itu ketika mereka melewati dua orang dari sekian banyak anggota polisi lalu lintas yang sedang bertugas mengawasi jalan yang selalu macet.
Kedua polisi gagah berrompi hijau fosforik dan membawa handy talky. Ketika melihat pasangan ayah anak itu, salah seorang di antaranya menitipkan alat komunikasi itu pada temannya. Dia juga mengeluarkan sedekah, dan kulihat terjadilah perbincangan sesaat. Polisi juga manusia yang bisa jatuh iba melihat orang yang lemah.

Sayang, aku terlambat mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar karena tiba- tiba jalan lancar dan mereka sudah menghilang dari fokus. Kupikir peristiwa ini bisa menghasilkan foto cerita bagus. Tetapi akhirnya kusadari tak pantas mengambil momen personal itu.

Iklan

45 thoughts on “Kita Semua Bersaudara

  1. Ni Made Sri Andani berkata:

    Setuju Mbak. Polisi kan hanya beda tugas, beda profesi saja dengan kita. Tapi kalau urusan hati dan sosial, merekapun sama dengan kita yang memiliki profesi lain ya. Diantara kita semua tentu ada yang baik dan ada yang buruk -ujung-ujungnya kembali ke masing-masing individunya ya Mbak monda..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s