Uniknya Busana Daerah

Akhir bulan lalu kami sekeluarga pulang mudik ke kampung halaman suami di ujung selatan pulau Sumatera untuk menghadiri acara perkawinan salah seorang keponakan.

Menurut kebiasaan suku Lampung Pepadun (suku Lampung terbagi menjadi Pepadun dan Saibatin) biasanya seluruh acara perkawinan diadakan di keluarga pihak pengantin pria. Calon pengantin putri sudah dijemput sebelum akad nikah dan ditempatkan di rumah salah satu kerabat calon suaminya. Nanti ia akan mengikuti berbagai macam upacara adat. Tetapi kini, demi alasan kepraktisan dan lain-lain sudah lazim akad nikah dilaksanakan di rumah keluarga pengantin wanita dan sesudah itu diboyong ke keluarga suami.

Bagiku yang berasal dari suku lain, acara adat ini sangat menarik, karena banyak hal yang baru kali ini kuketahui. Apalagi sewaktu menikah dahulu, acara adat Lampung Pepadun yang dipakai hanya acara mosok, yaitu pemberian gelar.Oleh tetua adat dipilihkan gelar untuk kami suami istri. Lalu, diucapkan nasehat sambil menyebut gelar lalu dahi diketuk pelan dengan sebuah kunci kuno. Maka resmilah gelar yang kuterima. Setelah mendapat gelar Ratu Mustika, maka aku disebut Mustika saja oleh keluarga yang lebih muda, tanpa embel-embel kakak.

Meskipun sudah lama menjadi menantu Lampung, tetapi aku belum bisa berbahasa daerah. Maka, ketika ada acara sambutan berbalas pantun dari tetua adat aku hanya asyik mencoba menangkap kata-kata yang sekiranya kukenal. Ternyata tak ada, bahasa ini kurasa sangat jauh berbeda dari bahasa Indonesia.

Sebelum acara akad nikah, calon penganti wanita “diikat” bergantian oleh keluarga pria dengan memakaikan perhiasan seperti kalung dan gelang. Dan terakhir ” diikat” dengan tali khusus (namanya lupa he..he…). Foto pengantin tak kutampilkan ya, belum minta izin.

Yang menarik kulihat banyak wanita yang memakai baju adat yang beraneka rupa jenis hiasan kepalanya. Ternyata mereka adalah keluarga yang mengiringi pengantin wanita. Dari paling kanan terlihat wanita memakai pakaian pengantin atau yang untuk yang usia perkawinannya masih muda, kemudian berikutnya memakai pakaian untuk wanita yang sudah agak lama menikah, hiasan kepalanya lebih kecil daripada siger pengantin, lalu pakaian gadis remaja, dan paling kiri memakai pakaian khusus wanita yang lebih tua. Motif kain tapis yang dipakaipun ada kekhususan status perkawinan, jadi hanya dengan melihat busananya bisa diketahui status sang wanita.

Foto di bawah ini memakai busana yang lain lagi, tetapi tetap busana keluarga pengiring pengantin, dari keluarga pengantin pria.

Untuk pria mengenakan peci yang telah dibungkus dengan kain songket. Bagian yang menonjol terletak di depan, berkebalikan dengan blangkon ya. Tutup kepala pria inipun bermacam-macam, tergantung status si pemakai. Tutup kepala pria lainnya tak berni kufoto karena tak kenal, lihat dari jauh saja, he..he…
Foto bawah calon pengantin pria memakai peci untuk khusus untuk pria remaja.

20120409-065041.jpg

81 thoughts on “Uniknya Busana Daerah

  1. Ni CampereniQue berkata:

    Unik sekali ya kak
    apalagi yang sama sekali belum tau tentang adat budaya Lampung.
    mestinya difotoin aja kak
    gaya jurnalis gitu xixixi *sendirinya aja gak berani hahaha*

  2. elfarizi berkata:

    Saya orang Sunda, tapi suka adat Lampung. Budayanya menarik, termasuk adat pepadun itu. Teman saya juga bergelar Sutan. Bahasanya juga memang bukan bahasa Melayu seperti Palembang, Padang, atau Bengkulu😀

    Maju lah, Sang Bumi Ruwai Jurai😀

    • monda berkata:

      tau banyak juga rupanya ya El…,
      adat tiap daerah memang beda satu sama lain, tapi itu tetap menarik yang memperkaya budaya nasional

  3. Zee berkata:

    Wah.
    Aku baru lihat tuh model peci dibungkus songket….
    Memang Indonesia ini unik sekali, busana daerahnya keren-keren…

  4. Evi berkata:

    Topi yang dipakai bapak yang dibawah, bentuknya mirip topi datuk di kampungku Mbak Mon..Mungkin akarnya sama kali ya, sesama budaya melayu

  5. Millati Indah berkata:

    memang, bahasa Lampung agak susah. dan sayangnya, teman-teman saya yang orang Lampung selalu menolak kalau saya minta diajari bahasa mereka. pelit T____T padahal kan saya suka belajar bahasa daerah..

  6. Ni Made Sri Andani berkata:

    WOW! Cantiknya Mbak Monda.
    Hi hi hi..aku jadi kebayang deh acara ngereka-reka dan menebak-nebak sendiri arti kalimat dalam bahasa yang nggak kita kuasai..
    Aku juga pernah begitu. Tebak-tebak.. rasanya beberapa ngerti, tapi ternyata kadang-kadang salah tafsir.. he he

    • monda berkata:

      Iya mbak, kata yang paling banyak cuma “pun”, tapi ternyata kata itu tak Ada artinya, miriplah seperti dong atau deh he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s