Merahnya Saga

Jika anak sakit, orang tua pasti berusaha meringankan derita si anak. Dicarilah pengobatan, baik secara medis ataupun dengan cara tradisional. Untuk mengobati batuk ada beberapa cara tradisonal yang kukenal seperti makan kencur, minum campuran kecap dan air perasan jeruk nipis, air kelapa muda ditambah sedikit garam dan saga.

Tanaman obat yang ada di sepetak halaman rumah kami adalah saga dan sirih. Kedua tanaman ini seringkali dipakai untuk mengobati batuk, sariawan atau radang tenggorokan. Resep ini sudah dipakai lama oleh keluarga mertua. Di rumah mertua dan ipar ada tanaman saga, maka kamipun meminta bijinya yang berwarna merah untuk ditanam di pekarangan rumah.

Cara meracik daun saga untuk dijadikan obat cukup mudah. Daun saga dicuci bersih kemudian direndam dalam air hangat. Setelah beberapa saat air rendaman dibuang dan diganti dengan air hangat yang baru. Segenggam atau lebih daun saga bersama 2 helai daun sirih diremas sampai keluar airnya. Cairan ini yang diminum, bila kurang menyukai rasanya bisa ditambahkan sedikit madu.

Resep ini rupanya banyak juga yang mengetahui, makanya banyak juga tetangga yang meminta daun atau anakannya untuk ditanam di halaman rumah masing-masing.

Saga itu sendiri ada 2 macam yaitu saga pohon dan saga rambat. Saga pohon (Adenanthera pavonina) biasa ditanam sebagai pohon peneduh di tepi jalan. Buahnya itu berpolong dan berbiji merah. Dari wikipedia ada info biji saga pernah dipakai untuk menimbang emas karena beratnya yang selalu konstan.  Setelah mencari akhirnya didapat kata  kundi yang menurut KBBI daring adalah biji saga. Dahulu di Minangkabau  dipakai ketentuan 1 emas setara dengan 24 kundi . Melirik bunda  Lily, eMak Ladang Jiwa dan uni Evi untuk konfirmasi.

Saga yang dipakai sebagai  tanaman obat adalah jenis saga rambat   (Abrus precatorius). Khasiat sebagai obat didapat dari zat aktif abrus lactone, asam abrusgenat dan turunannnya. Saga ini berbiji jingga kemerahan dengan setitik warna hitam di bagian yang runcing.   Merahnya sangat cantik, merah menyala,mungkin karena itu ada istilah semerah saga.   Saga rambat di rumah kami saat ini belum berbiji, karena baru diremajakan, maka foto atas itu kupinjam dari Wikipedia . Biji saga yang sudah tua sangat awet bertahan, biarpun telah lama berceceran di tanah masih mampu menjadi anakan. Maka, kami tak khawatir ketika membabat tanaman yang sudah merambat ke sana kemari karena penggantinya banyak tersedia.

20120527-152746.jpg

Iklan

81 thoughts on “Merahnya Saga

  1. bintangtimur berkata:

    Buah saga ini sudah jarang saya temui mbak, padahal waktu kcil dulu ngumpulin buah saga ini jadi salah satu favorit saya lo…merahnya keren… 🙂

  2. Pakde Cholik berkata:

    Yang sirih untuk apa hayooooooooooooo……..??

    Selamat bu dokter mendapatkan buku Dahlan Iskan pada Kuis Ada Gula Ada Semut di BlogCamp
    Salam hangat dari Surabaya

    • monda berkata:

      Pagi yang cerah ceria deh, karena dapat kabar baik, bingkisan buku bagus dari Surabaya

      sirihnya bisa buat obat kumur, bersihin mata daaaan untuk kungkum he..he…

  3. lozz akbar berkata:

    yang natural emang relatif tanpa efek dan berkhasiat Tante.. hmm jadi ingat saat kecil ketika batuk suka minum sesendok jeruk nipis plus kecap. Kalau sekarang mah udah diK***X aja 🙂

  4. kakaakin berkata:

    Di halaman rumah om saya belum ada koleksi tanaman saga ini. Rasanya saya juga belum pernah melihatnya. Ternyata saga yang biasa digunakan sebagai istilah itu, adalah biji ya… *baru tau 😀

    • monda berkata:

      si oom punya banyak tanaman obat ya Kin…, kan halamannya luas ya

      jadi mikir…, kira2 ayam si oom doyan biji saga nggak ya..

  5. nanaharmanto berkata:

    Dulu waktu saya masih kecil, gemar banget ngumpulin biji saga ini… merahnya terang dan cantik banget… saya suka… tapi sekarang ini saya nggak pernah liat biji saga lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s