Bau Nyale di Kuta

 Pantai Kuta Lombok  tak kalah indah dengan kembarannya  di Bali, apalagi melihat matahari terbit dari sana, pasti cantik sekali,  satu hal yang selalu luput kulakukan karena sering terlambat bangun, he..he… Uniknya di pantai  Kuta Lombok  setiap  bulan Februari  ada tradisi budaya yang bernama Festival Bau Nyale, yang  hari H diputuskan oleh para tetua adat dengan melihat pertanda khusus. Festival ini bukanlah acara seni pertunjukan, tetapi  mencari cacing laut yang berwarna-warni antara lain oranye yang di bawah sinar bulan purnama terlihat seperti menyala. Dari sinilah didapat nama Bau Nyale, yang berarti bisa nyala. Depz yang sudah melihat langsung tradisi ini mengatakan anehnya cacing yang berwarna oranye ini ketika dibawanya pulang berubah warna  seperti cacing biasa.  Selain mencari cacing laut yang biasa dikonsumsi, festival ini juga diramaikan dengan atraksi budaya, seperti Tarung Perisean, bermain perisai.

 

Seperti layaknya di daerah lain di Indonesia, sesuatu kejadian atau peristiwa selalu dikaitkan dengan hikayat. Begitu juga dengan Bau Nyale yang berhubungan dengan kisah Putri Mandalika. Putri cantik jelita ini dilamar oleh banyak pangeran. Untuk mencegah keributan bila ia memilih salah satu dari para pelamar itu, maka terjunlah sang Putri Mandalika ke dalam laut. Dipercaya cacing laut Bau Nyale adalah jelmaan sang putri. Hikayat dan Bau Nyale serta  Tarung Perisaian sudah kukenal sejak dulu sewaktu masih suka menulis di buku coretan, itulah  yang membuatku tertarik untuk melihatnya suatu saat nanti. Menikmati alam pantai Kuta  yang indah di waktu matahari terbit sambil menikmati keunikan budaya khas suatu daerah, sangat sesuai bukan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

62 respons untuk ‘Bau Nyale di Kuta

  1. lozz akbar berkata:

    kalau NTB saya malah cenderung pingin ke Rinjani tante, baru melepas lelah ke pantai-pantainya.. tapi kapan ya? 🙂

  2. apikecil berkata:

    Koq cacingnya bisa berubah warna gitu ya Tante?
    Kalau kayak cacing biasa sih geli,hiiiii
    Saya lebih suka memandang matahari tenggelam Tante
    apalagi pas semburat jingganya menutupi keseluruhan langit
    hmmm, langsung pengen bilang i love you deh,hehehe

    Tante Monda apa kabar?
    Semoga Tante sekeluarga sehat dan bahagia selalu 🙂

    • monda berkata:

      kabarnya baik Prit…
      kalau matahari tenggelam ya lumayan sering juga nungguin, lihat matahari terbit dari spot yang bagus belum pernah..

  3. Ely Meyer berkata:

    kasihan ya mbak putrinya , hrs bunuh diri begitu

    btw, kira kira ada nggak ya restoran di sana yang menyajikan menu cacing ini mbak ?

  4. Ni Made Sri Andani berkata:

    Menarik banget ya tentang cacing yang berkilauan berwarna oranye di bawah sinar bulan, tapi kalau dibawa pulang jadi berubah warna.. Barangkali lingkungan sekitarnya ( entah pH, kadar garam, dsb..he he nggak tahu) memberi pengaruh ya Mbak?

    Jadi pengen ikut lihat juga deh..

  5. Pendar Bintang berkata:

    Cacingnya rajin ke salon, mewarnai rambut (emang cacing berambut ya?)
    Ternyata kuisnya Dep sudah membahana, mau ikutan ah….semoga hadiahnya jalan2 ke Lombok :d

  6. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wrt.wb, mbak Monda…

    Festival menarik, mencari cacing oranye yang tentunya membuat hati orang ingin untuk melihatnya. Apa foto cacingnya ngak ada, mbak. Saya teruja mahu melihatnya. Ramai sekali orang datang mahu melihat dan mencari cacing itu ya.

    Untuk dilakukan apa pada cacing ini, mbak. Jadi hairan kerana bisa bertukar warna setelah dibawa keluar dari Pantai Kuta. Mungkin tidak diredhai pengambilannya keluar dari sana, ya.

    Salam mesra, mudahan menang kontesnya mbak. 😀

  7. prih berkata:

    Alam menyediakan sumber protein dalam cacing yang dikemas balutan budaya dan hikayat ya. Secara mata koq ada hambatan psikologis mengkonsumsinya dalam bentuk langsung langsung ya, ada inovasi ditepungkankah? Trimakasih Bau Nyale nya, salam

  8. naniknara berkata:

    pas kemarin lihat di TV ada liputan tentang tradisi ini. Cacingnya banyak banget, lihatnya aja jadi geli. Anak-anak hingga ibu-ibu menangkap cacing tersebut dengan tangan kosong

  9. kakaakin berkata:

    Dooh.. udah geli aja mendengar cacing untuk dikonsumsi…
    Waktu saya kecil dulu sering juga ke sungai di malam hari untuk mencari cacing, tapi cacingnya tidak berwarna-warni.

    • monda berkata:

      pantainya kotor ya? sudah terlalu banyak orang yg datang mungkin ya?
      wah kalau tak cepat dibenahi ntar orang pada nggak mau datang ke sana

  10. Evi berkata:

    Aku juga pengen deh Mbak Mon melihat Bau Nyale ini. Ngomong2 cacingnya berubah warna sampai di rumah, karena warnanya yg datang dari za2 lingkungan sekitar luntur kali ya?

  11. kamal berkata:

    jadi inget pernah punya pacar orang bima, ntb. dulu obrolan banyak tentang daerah nya, termasuk tentang nyale ini. sayang saya belum pernah ke lombok. kalau pun kesana, pengen ke gili2 yang katanya eksotik itu ya.

      • kamal berkata:

        mungkin bukan jodoh. dia dijodohin dengan sepupu nya. ini bukan curhat ya. tapi itu tradisi di bima dan lombok umumnya yang masih sangat kuat. dan hampir sekuat jg budaya bau nyale itu 🙂

  12. alamendah berkata:

    Menurut kepercayaan cacing nyale merupakan perwujudan dari Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut untuk mencegah pertumpahan darah antara para Pangeran yang berebut mempersuntingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s