Akan Jadi Buyut ?

Pengumuman…..pengumuman ….karena  cucuku sudah menikah….sebentar lagi aku akan jadi nenek buyut he..he..he.. Tak percaya ?

Ya, betul, kemarin kami sekeluarga menghadiri pernikahan cucuku. Tentu saja ini bukan cucu langsung, karena anak-anakku masih remaja dan belum ada yang menikah. Cucuku ini adalah cucu menurut tutur atau silsilah, bisa juga disebut cucu keponakan. Jadi yang bersaudara kandung sebetulnya adalah 3 generasi di atasku. Makanya karena adat istiadat, sejak remaja aku sudah menjadi opung, dan supaya kesannya tidak terlalu “tua” sebutannya dirubah sendiri oleh keponakanku jadi oop, he..he…. Nah, kalau sang cucu ini punya anak, apakah aku akan jadi nenek buyut ……?  Semakin tua saja ya diriku ini.

Untunglah di adat Tapanuli Selatan, khususnya suku Batak Angkola tak ada sebutan nenek buyut. Untuk  sub suku Batak lainnya, seperti Karo  atau Toba aku tak tahu pasti. Mari tanyakan pada biuda Ni  atau mama Raja. Panggilan hanya terbatas sampai 3 generasi, anak, ayah, opung, . .. setelah itu panggilannya akan kembali ke awal.  Jika sang cucu nanti punya anak, maka anaknya memanggilku dengan sebutan nantulang mulak alias tante…bingung kan…?  Nantulang (tante, bibi)  itu biasanya dipakai untuk  sebutan istri tulang (abang atau adik kandung ibu kita). Aku sendiripun sampai sekarang masih suka bingung dengan sebutan ini, dan masih kerap bertanya kepada orang tua. Tapi, itulah uniknya adat ………

Untuk acara semacam pesta perkawinan ini sekarang aku sudah membiasakan diri memakai kain sarung. Mula-mula agak mengalami kesulitan  untuk memakai kain sarung sendiri. Sampai beberapa tahun lalu aku masih dibantu memakai sarung pesta, supaya tumpalnya kain jatuh bagus pada posisi di tengah. Sekarang karena makin sering pakai ya sudah pasti jadi lebih mudah.

Untuk praktisnya,  sarung bisa dijahit diberi risleting, menjadi berbentuk rok panjang. Ada penjahit yang bisa menjahit sarung tanpa dipotong, sehingga ketika ukuran badan berubah, sarung masih bisa dibongkar dan dipakai lagi.

Baru-baru ini aku dapat informasi baru dari penjahit langgananku. Dia menanyakan asal daerahku dan suami. Ternyata cara memakai kain itu ada perbedaan  sesuai daerah masing-masing. Menurutnya  untuk orang Sumatera biasanya cara memakai kain dari kanan ke kiri, sehingga ujung kain ada di sebelah kiri badan. Kusangka ibuku mengajarkan memakai kain dengan cara ini hanya kebiasaan saja.

Si ibu penjahit ini berasal dari Bali, katanya wanita Bali dan Jawa memakai kain dari kiri ke kanan. Berbeda bukan?  Maka kalau aku memakai kain di daerah Bali, pasti aku akan jadi perhatian para wanita di sana, karena cara kami itu akan dibilang terbalik. Di Bali cara pakai kain sepertiku itu adalah cara berpakaian   kaum pria.  Betulkah demikian mbak Dani ? He..he… lain padang lain belalang.

Setahuku sih yang berbeda itu cara menjahit kemeja perempuan dan lelaki. Bisa lihat di mana perbedaannya bukan ?

Foto pinjam dari sini.

53 thoughts on “Akan Jadi Buyut ?

  1. niee berkata:

    bedanya hadapan kancing depan kan bun¿ hehehehe… aahh aku baru tw juga ada cara seperti itu deh.. thanks infonya bun🙂

    kalau sekarang aku baru jadi tante.. tapi ponakan aku ada yg lebih tua dari umurku.. hahaha..

  2. niee berkata:

    bedanya hadapan kancing depan kan bun¿ hehehehe… aahh aku baru tw juga ada cara seperti itu deh.. thanks infonya bun🙂

  3. Elsa berkata:

    Iya Mbak, memang ada perbedaan laki dan perempuan
    misalnya soal letak kancing juga berbeda tuh

    masalah ini aku sama sekali gak ngerti
    pernah denger denger aja gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s