Tari Tradisional

Menari di atas panggung, apalagi ditonton orang banyak membutuhkan keberanian dan kekuatan mental tersendiri. Karena itulah alasan yang menyebabkan diriku tak berani belajar tari. Menari pada akhirnya akan ditampilkan di muka umum bukan?
Walaupun tak berani tampil tapi aku suka melihat orang menari, bahkan sering nonton ibu-ibu kompleks menari tari dari berbagai daerah.

Pernah beberapa kali berniat belajar tari, tetapi selalu gagal. Faktor penyebab selain tak berani juga karena kostumnya harus memakai kemben, aku maluuu, yaitu untuk menari dengan cerita Jaka Tarub. Sempat ingin belajar tari Serampang Dua Belas, tetapi gagal karena peminat cuma sedikit. Seumur hidupku aku cuma pernah menarikan 3 macam tari, tari Giring-giring, Poco-poco dan Tor-tor.

Menari di muka umum akhirnya jadi kenyataan di masa SMP di Balikpapan, di acara perkemahan Pramuka untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus. Regu kami akan menarikan tari Giring-giring dari Kalimantan. Tari ini memakai dua tongkat beda ukuran, tongkat yang lebih panjang di tangan kiri. Tongkat panjang dihentakkan ke lantai dan tongkat pendek digerakkan hingga timbul bunyi dari kerincingannya. Hanya dua kali latihan kilat karena teman-teman sudah bisa , hanya aku yang buta sama sekali. Akhirnya, kami lulus juga dan mendapat TKK menari, meskipun aku banyak lupa langkah, menari sambil melirik teman sebelah he..he..he..

Menari itu ada bermacam makna, ada yang menunjukkan kerja sama yang mementingkan tempo, dan juga disiplin seperti tari Pukat dari Aceh, yang berupa gerakan menganyam tali sehingga nanti akan berbentuk pukat atau jaring untuk menangkap ikan. Begitu juga tari Bambu dari Maluku, bila pemegang bambu tak mengikuti tempo lagu pengiring, maka bisa saja penari yang melompat akan terjepit kakinya.

Ada pula jenis tari yang bisa dipakai untuk pergaulan seperti Poco-poco. Tarian asal Sulawesi Utara ini yang berirama riang dengan rumus langkah kaki yang sudah tertata, sangat menyenangkan untuk dilakukan bersama-sama. Ketika kami melakukan ini di acara penutupan training, sekelompok turis asing yang melihat langsung ikut bergabung dan bernyanyi sambil menari bersama, dan seketika itu terasa suasana mencair dan terjadilah komunikasi antar bangsa.

Mengenai Tor-tor yang sempat menjadi topik pembicaraan, pernah kulakukuan di pesta pernikahan adikku. Pesta adat yang disebut horja ini dilakukan di kampung halaman. Tor-Tor biasanya dilakukan di upacara adat saja.

Tor-tor di tanah Batak itu ada sedikit perbedaan antar sub etnis, baik musik ataupun gerakan tangannya. Tor-tor di Tapanuli Selatan (Mandailing dan Angkola) diiringi oleh Gondang Sembilan yang sering juga disebut Onang-onang, karena ada lirik musik pengiringnya yang berbunyi onang-onang ile baya onang. Syair Onang-onang biasanya berupa cerita, yang bisa mengikuti permintaan penyelenggara hajat. Waktu itu syair Onang-onang bercerita mengenai rencana pernikahanku enam bulan ke depan. Memang, aku dilangkahi oleh adik lelakiku. Tentu saja aku ikhlas dan rela adikku menikah lebih dulu, bahkan aku yang mendokumentasikan semua kegiatan pesta adat. Tetapi rupanya untuk masyarakat kita melangkahi, apalagi oleh adik lelaki  itu masih tidak lazim dan untuk mencegah diriku menjadi bahan omongan, dipakailah cara itu.

Gerakan Tor-Tor itu sederhana, hanya menggerakkan jari tangan dan sedikit memutar bahu. Prinsip tatanan masyarakat Batak Dalihan na Tolu masih dipakai juga dalam tarian. Orang yang boleh datang ikut menanggapi menari (mengayap-ayapi dalam bahasa daerah) tidak boleh sembarangan, hanya Anak Boru sang penari yang boleh melakukannya.

Untuk musik Onang-onang dan tarian Tor-tor Pengantin bisa dilihat  di sini

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore on the Blog 2012 edisi khusus bertajuk : Lestarikan Budaya Indonesia

39 thoughts on “Tari Tradisional

  1. bintangtimur berkata:

    Mbaaak, saya cuman bisa tari poco-poco dan tor-tor aja…
    Waktu tinggal di Medan dulu, tiap ada pesta selalu kita manortor ya, jadilah saya juga lumayan akrab dengan musik dan gerakannya🙂

  2. danirachmat berkata:

    Kereeen postingannya Mba Monda. Jadi mengerti sedikit lebih banyak mengenai tari Tor-Tor.

    Melihat tarian Indonesia memang amat sangat menyenangkan. Semoga menang Mba Monda untuk kontesnya.😀

  3. Idah Ceris berkata:

    Wah, Bunda Mon bisa nari juga?
    berarti lemah gemulai ya Bun?🙂

    Jika menari di panggung apalagi banyak penontonnya memang harus hafal gerakannya Bun, supaya gak kayak orang hilang diatas panggung.😆
    Tari Giring-giring ko dengan tongkat ya?
    kira-kira seperti apa penampakannya?🙂

    • monda berkata:

      he..he..narinya cuma itu yg gampang aja, asli kakuuu banget Idah..

      tari giring-giring Kaltim memang pakai tongkat, kl yg Kalteng mungkin agak beda ya,
      yg Kaltim itu ada di bagian belakang uang kertas dua ribu

  4. LJ berkata:

    syarat untuk bisa keliling ranah minang,
    tamunya harus mau diayap-ayapi😛

    andai nanti kita nonton pertunjukan tari piring
    yg ada adegan mecahin piringnya
    coba aku cek kali aja ada..

  5. Imelda berkata:

    Aku sekalinya pernah ikut latihan tari itu justru tari Jepang. TAPIIIII karena tangan dan kaki ngga bisa sinkron, aku menawarkan diri jadi seksi lampu panggung hihihihi
    Bebas deh dari kewajiban nari …
    Ngga bisa nari sama sekali mbak

  6. nh18 berkata:

    Menari tradisional … saya tidak bisa …
    pernah suatu masa dimana saya ingin sekali menari serampang duabelas …
    tapi nggak kejadian …

    satu-satunya tari yang saya belajar adalah … Poco-poco …
    hahahah

    salam saya Kak

    • Abi Sabila berkata:

      Masih mending, Om. Saya malah belum pernah menari apapun. Bukan tak cinta dengan budaya Indonesia, tapi memang tidak ada alasan yang mewajibkan saya menari.

      Semoga, dengan banyaknya sahabat yang menuliskan budaya Indonesia, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga budaya sebelum diklaim negara tetangga.

      Salam hangat untuk keluarga teracinta, Bu Dokter.

  7. Bibi Titi Teliti berkata:

    whoa…
    mba Monda pernah tari giring giring?

    Belum pernah denger sih mba…*langsung berasa sangat tidak gaul*
    Poto dong mba…potoooo…mba Monda pasti imut banget waktu SMP..hihihi…

    *lirik Kayla setajam mungkin yang lagi sibuk ngapalin gerakan tari nya Cherrybelle*

  8. kamal berkata:

    bu monda, waktu menari untuk cerita jaka tarub itu bu monda jadi bidadari nya ya? bidadari yang beramai2 mandi di sendang tapi salah satu pakaian dari bidadari itu dicolong oleh jaka tarub.. bener yang itu bu mon?

    kayaknya kalau bu mon yang nari tor-tor, negara sebelah itu ga akan berani nge-klaim🙂

  9. esti sulistyawan berkata:

    Saya waktu SD malah pernah ‘bisa’ nari serampang dua belas bu monda
    dulu pernah di masukkan sanggar tari sama ibu
    diajari beberapa tari dan sempet pentas2 segala🙂

  10. mechtadeera berkata:

    Ah ya..saat ini, yg masih agak2 ingat cuma Poco2 itu saja…asyik menari poco2 sama ya mbak… utk pakaian tari khususnya kemben, itu pulalah yg pada akhirnya memadamkan minatku utk terus menari setelah SMP… maluu, hehe… *alesan ding, padahal badan dan mulai kaku..haha*

  11. Allisa Yustica Krones berkata:

    Tarian tradisional Indonesia indah2 memang ya kak, perlu banget memang untuk dilestarikan. Kalo untuk tor tor memang beruntung ya kak karena di lingkungan Batak, segala sesuatu mengenai adat masih dilestarikan hingga tarian ini pun masih sering dipergunakan, dan hebatnya lagi karena tor tor tak hanya sekedar tarian ataupun asesoris adat tapi memang memegang peranan penting dalam upacara adat…

  12. gerhanacoklat berkata:

    wah sepertinya lg banyak yang posting tentang tari-tarian ini jadi pengen nari😀

    aku tau tari giring-giring dulu pernah juga menarikan itu buat acara di sekolahan mon
    tari serampang dua belas itu menurutku paling dinamis karena dari awal gerakan sudah bernada cepat dan riang

  13. yustha tt berkata:

    Kemarin Tor-Tor sempat jadi pilihan untuk ditarikan di international party, tetapi saya sulit menemukan gerakan2nya dengan melihat yutub. Akhirnya dari Sumatera dipilih Selayang Pandang.

    Tari Giring-Giring itu mungkin seperti Bamboo dance-nya Philippine mungkin ya Bun. Semoga tari Giring-Giring pun bisa lestari bahkan terkenal di seluruh dunia seperti bamboo dance-nya Filipina.

    • monda berkata:

      Bamboo Dance Filpina itu mirip dengan tari bambu dari Maluku, tari yg pakai lompat2 di sela2 bambu itu kan….?
      Giring-giring juga gerakannya sederhana, cuma mutar, geser dan bunyiin bambu di tangan kanan

      • mama hilsya berkata:

        yup.. orang filipin sering perform tari seperti ini kalo tampil buat pentas bareng..

        mba.. keren lah pernah nari gitu..
        saya? cuma mejeng pake batik doang.. *sedih*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s