Weekly Photo Challenge : Inside

For this week   weekly photo challenge.  theme I choose a picture taken inside the passage way of  the  old coal mines (dated 1889, under the Dutch Indies Government) )  in Sawahlunto, West Sumatera, Indonesia which is now opened for tourism.

Lubang Mbah Suro

Tulisan ini masih beraroma Tour de Ranah Minang,  tetapi karena ada foto yang bisa mewakili diikutkan saja dengan judul WPC  ini. Kota Sawahlunto  adalah bekas kota tambang batubara.  Kini dengan berkurangnya aktivitas pertambangan dibukalah berbagai peninggalan yang berhubungan dengan tambang untuk atraksi turis.  Kota ini punya tagline Kota Tambang yang Berbudaya.

Lubang ini adalah jalan masuk ke bekas tambang batubara di kota Sawahlunto  tahun1889, di bawah pemerintahan Hindia Belanda.  Lubang pertama ini dibuka oleh  para tahanan Belanda dari berbagai tempat, yang dikenal dengan sebutan orang  rantai. Pemimpin mereka adalah mbah Suro, maka lubang ini memakai nama beliau, Lubang Suro.  Kemudian hari para pekerja tambang ini ada juga orang upahan dari masyarakat setempat atau dari daerah lain. Para turunan mereka inilah yang sekarang  mendiami  kota Sawahlunto, jadi penduduk di sini multietnis.

Di foto atas  tampak pintu  masuk lubang. Dahulu , lubang sempat ditutup ketika tak dipakai lagi untuk kegiatan pertambangan. Untuk mempermudah  pengunjung dan demi keamanan  lubang dibuat bertangga-tangga. Dengan ditemani pemandu, pak Win  turunan dari salah satu  pekerja  tambang di situ, kami menuruni kurang lebih 30  anak  tangga. Pak Win yang dulu ikut dalam proyek  pembukaan ulang lubang  memberi penjelasan  dengan sikap  yang takzim. Dia berulang-ulang bilang  jangan takut  yang penting nawaitu.  Menurutnya, lubang tambang ini disiapkan demi kenyamanan  dan keamanan wisatawan, lubang sudah disiapkan setinggi orang dewasa, bagian atas dilapis fiber glass untuk melindungi pengunjung dari  tetesan air tanah yang memang masih banyak mengaliri lubang ini  melalui parit sirkulasi.  Lubang Suro  tidak pengap, karena sudah ada blower dan pipa-pipa untuk mengalirkan udara segar. Bahkan terasa sangat sejuk.  Untuk masuk ke sini pun dibatasi hanya 20 orang saja setiap masuk. Juga dilengkapi  kamera.  Pokoknya keselamatan nomor satu.  Salut.

Dinding terowongan ini adalah lapisan batubara.  Pengunjung bisa  langsung meraba dan merasakan teksturnya. Lubang Suro yang dibuka  untuk pengunjung belum terlalu panjang. Di beberapa bagian lubang masih dipasangi  penutup yang rencananya akan diperluas bila sudah ada anggaran lagi.

Setelah menuruni lebih kurang  30 anak tangga, kemudian berbelok ke kanan  sampai di ujung terowongan   kami kembali  naik tangga untuk keluar  dari lubang  tambang. Ternyata kami muncul di seberang  jalan.  Kami, keluargaku tidak ikut ke sini, hanya aku,  eMak LJ, dan Fitri, pun kembali ke gedung   info  box  dan menyempatkan berfoto dengan pak Win, sang pemandu.   Perlengkapan keamanan,  helm tambang dikembalikan. Seharusnya pakai sepatu boot juga, tapi kami tidak he..he… Di gedung info box dapat dilihat berbagai informasi seputar  pertambangan dengan display modern yang rapi dan apik. Tiket  masuk tempat ini seharga Rp 8000,- per  orang dan sudah termasuk pemandu. Kisah lainnya seputar kota tambang dan peninggalan lainnya di kota ini tentu masih akan kulanjutkan.

Iklan

40 thoughts on “Weekly Photo Challenge : Inside

  1. ded berkata:

    Benar kata BangKoor, saya pikir tadinya itu adalah Lobang Jepang yang di Panorama Bukittinggi. Soalnya saya pernah beberapa kali masuk ke dalam lobang tsb Mb Mon….
    Tapi klo ke Lobang Suro ini, saya belum pernah…….:)

  2. fadecancer berkata:

    sekali lagi , mamih mah cuma nikmati foto2nya aja… hhihihihiii 😛
    jadi………..mohon maaf ya BuMon, kalau mamih kasih komennya gak nyambung sama tulisannya 🙂

    lihat si tambang nya bersih banget …
    lihat modelnya , tjantik2 semua ………….. 🙂
    salam

    • monda berkata:

      lubangnya gede kok, bersih dan adem juga…, dan udah diperkuat dengan topangan serupa rangka pintu gitu jjadi nggak bikin takut ambruk

  3. LJ berkata:

    kepada ibu Monda Rezky, harap posting TdRM secara teratur.. jangan sampai saat eMak pagi-pagi ke sini masih belum update..!

    #enaknya baca disini ajah drpd nulis sendiri.. wkwkkk

  4. prih berkata:

    Sawahlunto di memori saya berasosiasi dengan tambang batubara. Sangat menikmati postingan ini serasa ikut masuk ke terowongannya. Trim mbak Monda tlah berbagi, seraya menunggu kelanjutan TdRM nya.

  5. RZ Hakim berkata:

    Kalau berkesempatan ke sana, saya bawa sepatu boot sendiri ah, hehe..

    Selalu suka dengan gaya penulisan Tante saat membuat catatan perjalanan 🙂

  6. Dani berkata:

    Seru Mba Monda, bisa jalan-jalan ke dalem perut bumi. Tapi tempatnya kelihatan bersih ya Mba di dalam tambangnya.

    Selain poto saya juga dapet ceritanya. Makasih ya Mba Monda.. 🙂

    • monda berkata:

      iya, seolah2 dia menghayatj dan menghormati banget tempat itu, mungkin sbg penghargaan dia untuk leluhur, apalagi dia juga merasakan menggali lubang batubara yg keras, dengan alat modern saja berat, apalagi jaman dulu.

  7. Applausr berkata:

    sudah tidak ada lagi sekarang teknik menggali dengan cara ini… bisanya tempat ini gelap dan cenderung sejuk.//

  8. Allisa Yustica Krones berkata:

    Temanya pas banget ya kak 🙂

    Aku tadinya udah ngebayangin kalo lubangnya tuh pengap dan gelap, ternyata malah sejuk yah, salut juga sama pengelolanya yang bener-bener memperhatikan kenyamanan dan keamanan wisatawan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s