Sehari di Ibukota

Semoga saja pagi ini perjalanan mengais rejeki bisa lancar tak terkena macet. Jangan seperti hari Kamis lalu, aku terlambat satu setengah jam. Gara-garanya tak bisa bergerak di pintu masuk tol Jagorawi, maju kena mundur pun akan kena mobil lain. Banyak penumpang yang akhirnya keluar dari mobilnya karena tak tahan hanya duduk diam.

Ternyata penyebabnya ada truk yang oleng dan menumpahkan muatannya ke badan jalan. Truk dan muatannya ini melintang menutupi dua lajur plus bahu jalan, sehingga tak ada yang bisa lewat. Petugas akhirnya memotong pagar pemisah jalan tol  agar kendaraan yang terjebak bisa melanjutkan perjalanan.

Penyebab Macet

Gangguan transportasi sehari dalam hidupku  itu tak selesai sampai di situ saja. Sore hari bis kota yang akan membawa pulang je rumah mengalami gangguan kopling. Terpaksa penumpang semuanya turun untuk berganti angkutan. Di waktu ” jam sewa” ( istilah di angkutan umum untuk waktu jam pulang dan pergi kerja yang ramai penumpang) lebih dari 60 penumpang yang berpindah ke bis lain pasti akan susah dapat bis kosong. Ada 3 ibu yang mengajak untuk naik taksi, ongkosnya berbagi. Tapi cari taksi kosong pun susah, setengah jam berdiri tanpa hasil, semua taksi berisi. Kami lalu memutuskan untuk “ngeteng” naik bis apa saja, lalu disambung dengan angkot atau ojek, yang penting semakin mendekati rumah. Di bis terpaksa berdiri, buat emak setengah baya dengan kekuatan lutut yang sudah mulai goyah betul-betul siksaan he..he… Niat ngeteng terpaksa batal, angkot penuh dan akhirnya dapat taksi juga , memang lebih irit, naik ojek ongkosnya tiga puluh lima ribu, naik taksi patungan cuma 7500 per orang.

Pelajaran yang dipetik dari sini ya kita harus tahu semua alternatif angkutan menuju tempat tinggal. Salah satu ibu itu tak tahu jalan lain lho, cuma tahu jaur utama saja, terlihat sekali dia bingung. Perasaan senasib membuat 4 orang asing bisa dekat, walau sesaat dan bisa saling membantu.

Update : akhirnya terlambat juga satu menit he.he…

37 thoughts on “Sehari di Ibukota

  1. bintangtimur berkata:

    Postingan ini kayaknya cocok banget buat saya, mbak…sejak tinggal di pinggiran Jakarta, saya selalu bertanya-tanya dalam hati…betapa hebatnya para wanita bekerja yang seumuran saya bolak-balik antara rumah dan kantornya, dengan berbagai alternatif pilihan jalan dan angkutan.
    Wah, wah, kalo saya pasti termasuk golongan ibu-ibu yang kebingungan cari jalan pulang itu lo, mbaaaakkkk…hehehehe

  2. Pakies berkata:

    kejadian seperti ini jangan sampai pada istri saya. Jangankan Jakarta yang sudah sangat ruwet, jalanan di kota Blitar yang kecil dan sempit saja nggak hafal-hafal

  3. mama hilsya berkata:

    whiii, mba.. kayaknya aku bakalan bernasib sama dengan ibu itu.. karena sama sekali buta Jakarta.. binguuung

    tapi ide pergi barengan itu memang paling pas, supaya bisa saling meringankan

  4. Rawins berkata:

    makanya aku ga betah di kota apalagi jakarta
    belum sampai tempat kerja saja sudah cape badan
    tapi ga tau sih kalo buat yang sudah rutin menjalani
    dah biasa kali ya..?

  5. Orin berkata:

    pernah jg begitu Bun, biasanya dr rumah ke kantor kurang lebih 30 menit, pas macet itu betul2 2 jam, udah coba cari jalan alternatif tapi sama2 jg macet tidak bergerak T_T”

  6. saidah berkata:

    Susah juga ya Bu kalo gk ngerti jalur alternatif lain, aku terbiasa dgn jalur transportasi utama yg satu2nya ini di Banjarmasin hehehe waktu kejebal macet gr2 proyek fylover tempo hari ngikut2 org ngambil jalan pintas lewat gang2…

  7. nh18 berkata:

    hikmahnya adalah ..
    Perasaan senasib membuat 4 orang asing bisa dekat, walau sesaat dan bisa saling membantu.

    Saya yakin … masih ada jutaan orang di Indonesia yang seperti ini … Sayang yang terekspos hanya yang jeleknya aja …

    Dan …
    Saya setuju dengan Kak Monda … kita harus tau betul cara mencapai rumah kita dengan berbagai macam moda … dan kombinasi moda transportasi …

    Salam saya Kak Monda

  8. mechtadeera berkata:

    waah iya… dengan sistem yg baru itu, terlambat sedetik ataupun sejam sama saja itungannya ya mbak… mudah2an tak terjadi lagi kemacetan yg menyengsarakan itu…

  9. partnerinvain berkata:

    Kalo tinggal dan bekerjw di Jakarta harus tahan banting dan cepat tanggap dengan segala sikon tertutama kemacetan. Semoga dgn adanya mass transportation nanti dapat menguraivkemacetan disana

  10. dey berkata:

    sekali2 memang harus mencoba kendaraan umum yang berbeda dengan jalur utama ya, biar ngga bingung kalau mengalami kejadian kayak gini.

  11. LJ berkata:

    hanya satu menit.. dimaafkaannnn… :))

    jakarta yang tak bisa ditebak membuat kita harus selalu bersiap.
    aur – nilamsari, yang mulus nyaman setiap pagi,
    tapi toh sesekali telat juga karena terlalu santai berangkatnya.😛

    • monda berkata:

      1 menit itungan tetap aja telat mak he..he…, akumulasi setahun nggak boleh lebih dari angka tertentu …, karena bakal ada sanksi pemangkasan pendapatan…

      yg mangkelnya, karena pas masukin tangan ke handkey jam 7.30, tapi yang terekam 7.31 wk..wk..

  12. danirachmat berkata:

    Benar sekali Mba Monda.. Kita harus tahu semua moda alternatif perjalanan dari dan ke rumah. Jakarta fengans egala keajaibannya tak bisa ditebak memang. Dan salah satu cara biar lebih murah adalah kerjasama dengan orang llin yang searah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s