Sabar Menghadapi Penolong

“Bawa saja sabar berkarung-karung dari rumah ”

Itulah yang diucapkan atasan untuk menyemangati anak buahnya yang mengeluhkan beban kerja yang terus meningkat. Ucapan yang bercanda tetapi sebetulnya mengandung pengertian akan beratnya tugas pekerja lapangan yang langsung berhadapan dengan masyarakat banyak.   Beban kerja yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya karena peningkatan jumlah orang yang datang berobat, orang yang dengan segala macam tingkah laku, terkadang ada yang ‘bossy’, cerewet, minta didahulukan, dan tak mau antri, bahkan mengancam. Pelayanan prima  tetapi tetap harus mengerjakan program lapangan  dan aneka macam administrasi membuat waktu kerja tak mencukupi. Bawa pekerjaan ke rumah?  Rasanya agak memberatkan, karena pekerjaan di rumah pun banyak. Sebagian besar dari kami ibu rumah tangga yang  tak sanggup bila harus  mencari dampingan asisten.

Lain lagi cara mengingatkan dari seorang ustad di acara kerohanian di instansi kami. Aku lupa nama ustad itu, maafkan ya pak ustad, tetapi semoga tausiyah dari bapak mendapat  pahala dari Allah SWT  karena sangat membekas di hati kami. Beliau menanyakan dalam hubungan kami dengan pelanggan siapa yang menjadi kaum penolong. Tentu saja kami yang bekerja di bidang pelayanan merasa kamilah para penolong orang sakit, tanpa bantuan kami bagaiman mereka mendapat sarana penyembuhan. Ucapan ustad membalikkan  anggapan kami itu. Tetapi ustad bilang kami bukanlah  penolong  justru kamilah yang harus ditolong oleh orang sakit. Terbalik ya…, kok bisa begitu?

Jadi menurut ustad pelanggan yang datang mencari bantuan penyembuhan sebetulnya adalah penolong kami untuk  berbuat kebaikan. Mereka membantu kami menciptakan ladang amal. Kalau tak ada orang sakit kami tak bisa beramal bukan?  Asalkan kuncinya adalah keikhlasan, tidak hitung-hitungan,  insya Allah mereka bisa jadi ajang buat menambah pahala untuk kami .

Tulisan ini sekedar pengingat dan penyemangat  di saat-saat lelah   bagiku yang imannya masih tipis ini, yang  masih tetap mengeluh kalau sudah merasa tak sanggup.  Atau apakah sudah saatnya harus  jalan-jalan ya..?

47 thoughts on “Sabar Menghadapi Penolong

  1. Zizy Damanik berkata:

    Sesekali melihat dari sudut pandang berbeda biasanya membuka mata hati. Benar sih kata Pak Ustadz, memang yang kita layani itu adalah ladang amal kita, sekaligus cobaan juga, bisa ikhlas tidak…

  2. nanaharmanto berkata:

    Hmm… benar juga ya Kak kata Pak Ustad itu… saya jadi mendapat perspektif dari sudut pandang yang berbeda… juga untuk kasus yang lain yang tiba-tiba terlintas di kepala saya..

  3. wi3nd berkata:

    sepertinya yang trakhir saatnya jalan jalan bu mondaa..🙂

    diniatkan karna ibadah lilahitaala insya allah berkah dan lebih ringan *kata pak ustad bu🙂

  4. yuniarinukti berkata:

    Postingan yang berbobot Mbak dan jauh dari jangkauan pemikiran kita semua. Mungkin pemahaman yang seperti Pak Ustad tausiyahkan harus mulai di aplikasikan mulai sekarang sehingga tak ada lagi karyawan yang sok dibutuhkan, tapi berbalik menjadi petugas yang melayani🙂

  5. Pakies berkata:

    Alhamdulillah, sudut pandang yang sangat indah dan tidak pernah diduga sebelumnya, karena kita menduga bahwa kitalah yang dibutuhkan orang lain dan ternyata justru sebaliknya bahwa orang lainlah yang menjadi sarana pada kita dalam memberikan kemanfaatan diri.

  6. Lyliana Thia berkata:

    makasih sudah diingatkan Bun..
    aku jg suka kurang sabar menghadapi para penolong…

    padahal ndak semua orang dapat kesempatan untuk berbuat baik ya Bun?

    semangat bunda..😀

  7. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda…

    Saya sangat terkesan dengan tausiyah ustaz itu. memang benar mbak, jika tidak ada pesakit, maka jawatan jururawat tidak ada. Jika tidak ada murid, maka tidak ada gelaran buat guru. malah kita lebih banyak pahalanya jika benar2 ikhlas dalam membantu.

    Subhanallah, kita juga penolong bagi mereka yang di atas kita, majikan kita di perusahaan. sama sahaja. Maknanya hidup ini saling bantu membantu. maka tidak ada yang bisa mencela orang lain dan meninggikan dirinya. Iya, semuanya harus sabar.

    Semoga ceria dan harus jalan-jalan mbak jika sudah sampai tingkat stress… hehehe. kalau dekat, mahu sahaja saya bawa Monda makan sup Gear Box. Enak untuk menghilangkan tekanan. Coba sup ekor sapinya, di sana pasti ada dan santai aja menghirup kuahnya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.😀

    • monda berkata:

      alhamdulillah…senang sekali komentar akak Siti menyegarkan.., jadi terharu ..
      terima kasih niat baiknya akak mau ajak saya makan sup buntuk Gear Box
      rasanya belum pernah dengar nama restoran itu di sini

  8. Ni Made Sri Andani berkata:

    bener juga ya kata pak uztad itu,Mbak.. kalau tidak ada yang sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita tidak akan melakukan pertolongan… yang mana perbuatan baik yang kita lakukan adalah berkat bantuan orang lain yang membuat kita begitu… jai benerlah kalau yang sakit itulah yang sesungguhnya menolong kita berbuat baik he he..
    Uztad yang brilliant!

    • Lyliana Thia berkata:

      err.. pernah ada perawat gigi puskesmas yg ngeluh ttg KJS ini Bun.. hihihi..
      malah sempet rame di grup whatsapp saya yg isinya temen2 kuliah, “hayooo sapa noh yg milih J*k*w*.. hahaha..

      • monda berkata:

        yang songong mah nggak semata2 diliat dari jenis kartunya ….he.he..ada yg askes, ada yg umum…
        yg kjs malah banyak yg bawain kue he..he…dan maksa mau bayar lagi, padahal kan udah digratisin

  9. ded berkata:

    Benar juga ya mb, klo kita bekerja dengan ikhlas, disamping dapat membantu meringankan beban orang lain, kita juga bisa mendapatkan pahala dr pekerjaan tsb🙂

  10. vizon berkata:

    Kyai saya pernah bilang begini, Kak:
    “jika tidak ada lagi murid yang mau saja ajar, maka saya akan ajarkan dunia dengan tulisan”.
    Tekanan beliau adalah, bahwa janganlah kita berhenti menyemaikan kebaikan di muka bumi ini, apapun keadaannya..

    Ngeblog juga sebuah ladang amal ya kan Kak?🙂

    • monda berkata:

      terima kasih banyak uda, suka kalimatnya “janganlah kita berhenti menyemaikan kebaikan di muka bumi ini, apapun keadaannya..’

  11. Evi berkata:

    Suka dengan tausiah ustad itu, Mbak Mon..Membalik pikiran mapan jadi perspektif baru..Sebenarnya yang menolong dan di tolong itu harus ada ke-2nya ya..Kurang satu saja, tolong-menolong takan terjadi..:)

  12. Mechta berkata:

    Bener juga ya mbak… kalau tak ada yg menjadi ladang amal..di mana amal itu bisa kita semai?🙂
    tapi…kalau mau jalan2 asyik juga tuuh… minggu depan ada tambahan libur sehari kan mbak? hehe

    • monda berkata:

      iya maunya kayak mbak Mechta tuh dalam waktu singkat sempat jalan2..
      hari kejepit minggu depan itu sayang banget nggak bisa dimanfaatkan, si bungsu mau ulangan kenaikan kelas

  13. lozz akbar berkata:

    Jika dipikir ladang amal itu ada dimana-mana ya tante? cuma kadang kita yang tak jeli atau justru abaikan ladang amal itu. Ya seperti yang kata Tante Monda bilang, mungkin kurang sabar dan ikhlas pula saat menjalaninya. Termasuk saya juga nih saat sering juga sewot manakala ada user yang saya anggap menjengkelkan.. Belajar ikhlas ah..

  14. LJ berkata:

    klo dipikir-pikir ini kan sudah bulan juni.. memang sudah waktunya jalan2 sih..😛

    ustadnya bener kak, klo kita punya duit banyak buat disedekahin tapi tyt gak ada orang miskin yg mau terima sedekah, kita kan jadi gagal beramal baik.. hehhe.

    tetap semangat.. lahawla walaquwwata illa billah, gitu kata ustadnya eMak..

    • monda berkata:

      bulan Juni tahun ini nggak bisa jalan2 deh mak.., kakak sibuk mau tes sana sini, adek ukk,mama audit lagi…
      kapan liburannya nyampeee…(lirik kantong yg lagi tipis…) he..he..

  15. kakaakin berkata:

    Hmm… bener juga ya konsep yang diungkapkan ustadz itu, Mbak. Berarti kita sangat membutuhkan penolong itu🙂

    Ayo, jalan2 ke Samarindaaaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s