Macet dan Pengalaman Naik APTB

Lalu lintas macet di ibukota jangan jadi alasan untuk patah semangat, cari saja alternatif kendaraan atau jalur jalan yang lain. Jangan mau kalah sama keadaan, harus survive dong he..he… Ini pengalamanku sejak awal minggu ketika perjalanan terhambat karena maraknya aksi demonstrasi menentang rencana kenaikan harga BBM.

Hari Senin saat ramai demonstrasi di mana-mana, pantauan arus lalu lintas saat waktu bubar kantor mengabarkan terjadi penutupan jalur di depan gedung DPR/MPR. Penutupan ini berimbas macet di mana-mana. Kebetulan hari itu aku sedang membawa kendaraan sendiri karena sejak pagi hari langit gelap yang akhirnya diikuti hujan yang sangat deras. Sore itu kuputuskan cari jalan alternatif. Tol dalam kota di daerah Ancol macet tak bergerak, kupikir lebih baik turun di Tanjung Priok, lalu dilanjutkan masuk ke tol lingkar luar Jakarta dari arah Rorotan, Jakarta Utara.

Tol lingkar luar (JORR) baru selesai sebagian, dan saat ini sedang ada pengerjaan tahap selanjutnya yang akan menghubungkan JORR – dalam kota. Jadi, seturunnya dari tol dalam kota langsung dihadang kepadatan lalu lintas yang didominasi mobil-mobil besar. Mobil-mobil pengangkut barang mulai dari mobil boks kecil, kontainer sampai mobil pengangkut pipa segede gaban. Lihat saja truk pengangkutnya, unik ya, baru pertama kulihat kendaraan seperti ini. Di bagian belakang ada kendaraan lebih kecil yang ikut mengatur pergerakan. Seram lihat suasananya jalan apalagi banyak motor yang seliweran di celah-celah sempit. Betul-betul bikin ciut nyali, nggak akan lewat sini lagi deh sampai jalan tol selesai dibangun  he..he…  Jalan memang padat tetapi tetap bergerak perlahan, alhasil sampai di rumah 4 jam kemudian.

20130621-051129 PM.jpg

Dua hari kemudian,  menunggu bis PATAS di tengah kemacetan pasti akan tak menentu kapan datangnya, karena terkadang pengemudi bus atau polantas bisa saja mengalihkan jalan menghindari trayek normal. Maka kupilih untuk naik APTB (Angkutan Perbatasan Terpadu Busway). APTB ini bis kota juga yang rutenya dari perbatasan kota seperti Bekasi, Cibinong, Bogor, Ciputat, dll ke berbagai tujuan di pusat ibukota, istimewanya  bisa masuk ke jalur busway sehingga jalannya relatif lebih cepat daripada bus biasa. Rencananya aku akan turun di halte busway di dekat mangkal kendaraan omprengan, jadi cari jalan pulang alternatif. Memang jatuhnya ongkos akan lebih mahal daripada naik bus seperti biasa, bisa lebih mahal sebelas ribu rupiah, namun lebih cepat sampai di rumah daripada cara biasa.

Ini kedua kalinya naik APTB, karena memang beberapa jalur baru saja dibuka. Sayangnya lantai APTB sudah ada sampah kertas, dan kemasan makanan. Penumpang bebas makan di dalam bis, tetapi tak terlihat ada tempat sampah. Tak seperti busway Trans Jakarta yang ada larangan makan minum dalam bis, sehingga lantai bus terlihat relatif lebih bersih. APTB ini persis busway, kursi penumpang lebih sedikit menyisakan area berdiri lebih luas. Untuk jarak jauh ke perbatasan bila berdiri ini akan sangat meletihkan, tak heran banyak ibu yang duduk terkapar di lantai…..

Tiket naik APTB bisa dibeli di loket tiket di halte busway atau bayar langsung kepada kondektur. Jika tiket yang dibeli berupa tiket busway biasa (Rp 3500) kondektur akan meminta ongkos lagi, karena untuk di dalam jalur busway ditetapkan  harga tiket Rp 5000, sedangkan jika sampai terminal di  kota perbatasan harga tiketnya Rp 6500,- (ke Bekasi) . Maka, tak jarang penumpang yang tak mau bayar ongkos tambahan memilih turun di halte berikutnya.

Kondektur menarik ongkos, tetapi tak memberikan tiket. Padahal ada ditempel pengumuman “Mintalah tiket di saat anda membayar kepada kondektur’ .  Lama kemudian ada seorang bapak yang meminta tiketnya. Sang kondektur memberikan sehelai tiket lalu  beberapa ibu minta juga.

“Bu.., ini ambil sendiri saja tiketnya” agak kesal sambil memberikan buku tiket. Si ibu merobek beberapa helai tiket dan meneruskan bukunya kepada penumpang lain he..he…., jadi self service.

Iklan

31 thoughts on “Macet dan Pengalaman Naik APTB

  1. edratna berkata:

    Sebetulnya saya pengin tahu banyak tentang APTB ini karena sering melihat berlalu lalang di Jakarta. Permasalahan tiket tersebut terjadi sejak jaman bis PPD zaman Ali Sadikin, memang repot ya….kecuali jika dibuat tiket on line eperti di negara maju. Masalahnya , kadang penumpang yang tak mau repot.

    Salut mbak Monda, kapan-kapan pengin mencoba APTB ini.

  2. Lyliana Thia berkata:

    Ħïî:D☀ Ħïî:D☀ Ħïî:D.. Serunya Bun.. Kakak adik sepupu saling mereview 😀

    Wah salam kenal buat Kak Sari.. Sy juga suka banget baca cerita traveling ke aneka objek wisata.. 😀

    Semoga sukses di kontes Pakde ya Bun 😀

  3. papapz berkata:

    udah lama gak di jakarta jadi lambat melihat perkembangannya jadi gak tahu ada APTB hehe .. dulu biasa langganan busway aja sih bu.. tahun 2011 saya pulang ke Cirebon

  4. Oyen berkata:

    hehehe… parah dong yah macetnya, gak pernah naik APTB, naik busway pernah 2 kali kayaknya… dulu gak pernah mau kerja di jakarta karena paling males sama macetnya… hehehe

    tapi kata Encang ada positifnya, jadi ngelatih sabar dan mikir buat manfaatin waktu kalo lagi macet di jalan

  5. bundadontworry berkata:

    kalau gak macet, katanya bukan jakarta , gitu khan BunMon …heheheh… 🙂

    beberapa waktu lalu, kalau hari sabtu atau minggu, lalu lintas lumayan lega, sekarang gak juga tuh, mau hari kerja atau weekend………..teuteup macet dimana mana … 😦

    Salam

  6. danirachmat berkata:

    Bener banget Mba Monda, daripada pasrah menyerah ama macet, kudu pinter cari alternatif kendaraan. Kalo saya mulai dari ojek, bajaj, taksi dan kereta. Hihihi.

    • monda berkata:

      hi..hi..iya…, katanya juga karena karcisnya juga nggak tentu adanya, kadang dari perusahaannya nggak dapat bundel karcisnya

  7. Idah Ceris berkata:

    Benar sekali, harus berusaha keluar dari zona kemacetan itu. Tapi kalau menggunakan mobil memang harus sabar ya, Bund. Berbeda denga para pengendara motor yang bisa lihai menelusup (tanpa ugal2an). 🙂

    Itu kondekturnya gak OKE, gak Keren. .

  8. yayats38 berkata:

    Intinya di Jakarta harus kreatif ya Bun termasuk mengantisipasi “kejem”nya lalu lintas.
    Saya dulu bawa motor rajin banget cari jalan tikus he he. Kantor di Priok kontrakan di Kebayoran Lama … lumayan pegel. 😀

    • monda berkata:

      betul kang .. jalan tikus harus tahu juga
      aku pernah dibawa lewat jalan tikus akhirnya nembus di dapur orang, ya iya .. wong dapurnya di pinggir jalan

  9. LJ berkata:

    harus tangguh ya kak.. jangan mudah menyerah.
    jadikan saja perjuangan nyari angkutan dan jalur alternatif itu sbg petualangan 😛

    dulu jaman di bandung aku suka menyasar-nyasarkan diri ikut bis atau angkot dari ujung terminal ke terminal lain.. biar tau bandung sampai ujung2nya.. tapi itupun gak keturutan semua.. jaman dulu itu bandung gak macet, jadi enak aja klo mau ngkiut sampe terminal akhir.. hehhe.

    pokoknya terus semangat, kak..!

    • monda berkata:

      ya mak…, baiknya gitu nyoba segala jenis angkutan jadi kita punya alternatif…
      kl gitu pandu aku dong mak kl di Bandung …, akh mah nggak pernah hafal jalan Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s