Nostalgia

Nostalgia bisa ada ketika melihat sesuatu, benda apa saja.  Tunas bambu ini mengingatkanku pada masa-masa kecil, dua kenangan.

Yang pertama mengingatkanku akan suasana rumah tempat aku beranjak besar. Kami tinggal di sana sampai aku kelas 2 atau 3 SD.  Rumah itu rumah dinas papa di Tangkahan Lagan, Pangkalan Brandan, sebuah kota kecil di kabupaten Langkat Sumatera Utara.  Rumah kami terletak di pojok sehingga selain memang halaman tiap rumah  dinas itu luas kami pun dapat keuntungan berupa  lahan di jurang samping rumah yang juga ditanami singkong, dan tebu, dan ada kandang ayam dan bebek. Nah di lahan itu ada rumpun bambu  rimbun. Jika siang hari pulang sekolah bermain di bawah rumpun itu, duduk di atas daun-daun bambu yang kecoklatan,  terasa sejuk semilir angin.  Main di bawah pohon bambu sambil buat rantai-rantaian dari tangkai daun singkong, berusaha menangkap capung, main akar gantung dan lain-lain.  Sayangnya nggak pernah tau bisa buat wayang-wayangan dari bahan yang sama. Harusnya aku  belajar dari mbahnya Fauzan di Parongpong.

20130708-102321 AM.jpg

Kenangan kedua ketika sudah  kelas 2 SMP. Aku ikut ekskul kesenian di sekolah.  Guru keseniannya itu seorang bapak yang berasal dari Sumatera Selatan. Beliau banyak mengajarkan lagu daerah Sum-sel, antara lain Ibung-ibung.  Lagu itu baru kami kenal dan sampai kini tak pernah lagi kudengar lagu daerah itu.   Lirik lagunya ada kata-kata seperti ini “badan penuh miang gale” artinya badan penuh dengan miang/ bulu-bulu halus di batang bambu. Lagu  Ibung-ibung itu sendiri iramanya mendayu-dayu, menceritakan tentang kehidupan dan kerja keras  seorang ibu. Ah…, nanti akan kucari lagi lagu itu.

26 thoughts on “Nostalgia

  1. naniknara berkata:

    saya juga suka main di rumpun bambu. Kadang sambil mencari daun bambu, dikumpulkan, ditata, lalu dijual ke pengrajin tempe gembus (tempe dari ampas tahu). Daun bambu itu buat membungkus tempe. Lumayan, uangnya bisa buat jajan

  2. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Saya sangat takut kalau bermain di kawasan rimbunan buluh (bambu) kerana diingatkan orang tua bahawa banyak ular bersarang di bawahnya. Mungkin kawasannya sejuk ya, maka ular suka tinggal berdekatan dengannya. Satu lagi, saya tidak suka kalau terkena miang bambu. Sakit dan susah untuk dibuang.

    Apa mbak pernah lihat ular di kawasan pohon bambu itu ? Saya juga selalu mengikut datuk saya untuk mengambil anak rebung untuk dibuat sayur masak lemak. Ah… membuat saya ingin memasak menu rebung pula untuk berbuka puasa.

    Salam Ramadhan dan ceria di bulan Ramadhan, mbak Monda.😀

    • monda berkata:

      belum pernah ada ular yg keluar dari situ kak, mungkin karena suasananya terang ya..
      sayur masak lemak itu semacam gulai kak? selamat memasak ya

  3. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda

    Hadir menyambung silaturahmi, untuk mengucapkan

    Esok adalah harapan, sekarang adalah pengalaman, kelmarin adalah kenangan yang tak luput dari ke khilaf dan salah..

    Mohon maaf lahir dan batin. Semoga RAMADHAN kali ini lebih baik dari RAMADHAN tahun lalu..amin.

    Selamat menyambut Ramadhan yang mulia.
    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak.😀

  4. Wong Cilik berkata:

    kenangan yang manis ya Bundo. Jadi ingat, dulu kalau mainan bambu dan kena miang-nya, susah menghilangkannya, mesti hati-hati supaya tidak makin tertusuk-tusuk …

    • monda berkata:

      kalau yg ini udah tunas dan nggak bisa dimakan lagi karena udah keras
      rebung itu yang masih tunas baru keluar banget, masih lembut

  5. prih berkata:

    aur muda di tengah rumpun jadi pengungkit kenangan mBak Monda….
    Bahkan ada lagu si ‘miang gale’, kami menyebutnya glugut duh gatal panas di kulit, semakin diusap makin menusuk ..
    Salam kenangan

    • monda berkata:

      gligut itu kalau udah kena badan gatalnya minta ampun ya mbak… untungnya biarpun sering main di rimbun bambu belum pernah kena miang….., emang mainnya hati2 banget karena berulang2 diomongin orang tua

  6. danirachmat berkata:

    Kenangan indah masa kecil itu kayak akar kehidupan ya Mba Monda. Terlepas dari apapun yang terjadi dalam hidup sekarang, mengingat masa kecil jadi bisa ingat juga darimana kita berasal dan mungkin juga jadi petunjuj arah mau ke mana hidup dibawa. Aih kejauhan ya saya mikirnya?

  7. LJ berkata:

    hehhe, bikin kalung rantai dari daun singkong itu sampe skrg masih aku bikin sama alin cs di kebun belakang.. rebung adalah khas kuliner bukik, sayangnya keberadaan batang bambu makin menyusut, bahkan di kampung aur (bambu) kuning yang dulu terkenal sbg hutan bambu..

    dibawah pohon bambu, diantara tunas rebung itu biasanya tumbuh pakis, siap untuk diambil pucuknya. ini memang nostalgia sungguh buatku juga kak..🙂

    • monda berkata:

      oh pantesan mak, ada temanku yg hanya mau makan gulai rebung kl rebungnya bawa dari bukik, rebung jakarta katanya nggak enak

      pakis di sela bambu aku belum pernah lihat mak.. di rumpun bambu kami itu nggak ada pakisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s