Zakat Fitrah

Zakat Fitrah, zakat diri yang sifatnya wajib untuk setiap muslim atau muslimah sesuai syarat yang ada. Zakat ini wajib untuk diri seorang muslim, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya. Penerima zakat ada 8 golongan, tetapi para ulama mengatakan baiknya didahulukan fakir miskin, Zakat Fitrah hanya dikeluarkan pada bulan Ramadhan, waktunya sebelum shalat Ied. Jika lewat dari batas ini sudah masuk kategori sedekah, bukan zakat fitrah lagi.

Besar zakat yang dikeluarkan senilai dengan 3,5 liter atau 2,7 kg bahan makanan pokok yang biasa dimakan. Zakat bisa diganti dengan uang, yang seperti ini biasanya yang kami lakukan di masjid sekitar rumah.

Bayar zakat fitrah di masjid Al Makmur Cikini jadi pengalaman yang berbeda buat si Oom abang alias si papa. Meskipun bayar dengan uang tetapi beras sudah disediakan.

Selesai shalat Jumat, pengurus masjid tua ini mengumumkan sudah bisa menerima zakat fitrah dari para jamaah. Biasanya kami membayar zakat dengan uang seharga beras yang kami makan di rumah, belum pernah membayar dengan berasnya langsung. Di madjid cagar budaya Al Makmur Cikini ini panitia sudah menyediakan beras dalam karung, yang akan dibagikan kepada 500 orang yang sudah terdaftar. Ada dua macam beras dengan harga berbeda. Jamaah yang hendak membayar dipersilahkan membuka beras dari karungnya dan melihat kondisi fisiknya sehingga bisa memilih beras yang sesuai dengan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Kata si papa berasnya bagus sekali dan bersih dengan harga Rp 24.000 dan Rp 32.000 per liter.

 

 

 

Daripada lupa lebih baik begitu ada kesempatan ditunaikan saja kewajiban. Beras diukur sendiri dengan memakai kaleng berukuran 1 liter dan setengah liter lalu ditampung di sebuah baskom besar. Kami berempat berarti zakat fitrah kami 14 liter. Kemudian syarat penerimaan zakat kan ada ijab kabul atau serah terima, nah ijab kabul itu diucapkan sambil bersalaman . Tangan pemberi zakat dan pengurus yang bersalaman itu tenggelam di dalam beras. Kata si papa bayar cara bayar zakat kali ini yang langsung bayar dengan beras kayaknya jadi lebih terasa kesan bayar zakatnya daripada dengan uang saja.

Taqoballahu minna wa minkum, wa siyamana wa siyamakum
Selamat Hari Raya Iedul Fitri, mohon maaf lahir batin

Iklan

45 thoughts on “Zakat Fitrah

  1. ded berkata:

    Taqoballahu minna wa minkum….
    Mhn maaf lahir batin Mb
    Mesjid di komplek saya zakat fitrah untuk satu orang ditentukan sebesar Rp35.000,-

  2. mechtadeera berkata:

    kami juga membayar fitrah dengan beras, namun membawa masing0masing dari rumah sesuaiyg biasa dikonsumsi, dengan takaran sdh 2,5 / orgnya… tapi blm pernah lihat ijab qobulnya… maklum adik yg baisa bayar utk org serumah… Maaf lahir batin, mbak Monda 🙂

  3. Idah Ceris berkata:

    Ketika membaca doa zakat, tangan menyentuh beras. Ditempat saya sampai sekarang masih seprti itu, Bund. Begitu juga zakat dengan uang, mereka tetap memgang beras. 🙂

    saling memafkan ya, Bund. 🙂

  4. capung2 berkata:

    iya benar mb.. zakat dengan beras terasa lebih mendalam sifatnya, apa mungkin krn wujudnya (beras) yang nantinya langsung masuk kedalam jasmaninya ketimbang uang yang sifatnya hnya dilihat dari lahiriyahnya saja berupa rasa senang… namun pd akhirnya baik keduanya akan membuat kebahagiaan dan keceriaan pd kaum dhuafa di hari raya..

    maaf lahir bathin ya mb, klo ada salah2 kata dlm berkomentar..

  5. Fety berkata:

    Mbak Monda, selamat berhari raya, mohon maaf dari kami sekeluarga.

    Dulu saat masih di kampung halaman, bayar zakat fitrahnya juga pakai beras, mbak. Sekarang lebih sering pakai uang 🙂

  6. bintangtimur berkata:

    Mbak Mondaaa…kami sekeluarga mau ngucapin Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin bila selama ini ada hal-hal yang kurang berkenan…
    Tentang zakat, biasanya kami bayar pakai uang, mbak…entah kenapa, dari dulu ke dulu, mas Budi selalu bayar zakat kami dengan uang tunai 🙂

  7. fadecancer berkata:

    mamih juga selalu bayar pake uang utk zakat fitrah ini BunMon, 🙂

    Selamat merayakan Hari Kemenangan 1 Syawal 1434 H
    mamih mohon dimaafkan utk segala salah dan khilaf ya BunMon..
    Salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat ,aamiin

    Salam

  8. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb…mbak Monda,

    Selamat Hari Raya Aidill Fitri 1 Syawal 1434 H
    Maaf Zahir dan bathin & Minal Aidin Wal Faidzin
    Taqabalallahu minnaa wa minkum

    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak. 😀

  9. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb…mbak Monda

    Ramadhan membasuh hati yang berjelaga
    Saatnya meraih rahmat dan ampunan-Nya
    Untuk lisan dan sikap yang tak terjaga
    Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

    Selamat Hari Raya Aidill Fitri 1 Syawal 1434 H
    Maaf Zahir dan bathin & Minal Aidin Wal Faidzin
    Taqabalallahu minnaa wa minkum

    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak. 😀

  10. wi3nd berkata:

    klo keluarga hutan dari dulu membayar zakatnya pake beras bu..

    cuma belum pernah liat penerimaanya,seperti ijab qobul gitu, bapak yang selalu bawa 🙂

    yang aku tau kamu udah difitrahin,gitu kata ibu 🙂

  11. Yeye berkata:

    Aku udh 3th ini byr Zakatnya slalu pk uang, mgkn krn di lingkungan rmh ku sini kebanyakan pk uang yah, klo diliat dikit bgt yg byr zakatnya pk beras. Klo papa ku dr dlu lbh sk byr Zakatnya pk beras 🙂

  12. nh18 berkata:

    Tangan pemberi zakat dan pengurus yang bersalaman itu tenggelam di dalam beras …

    Ini saya baru tau nih …
    mungkin biar terasa afdhol kali ya Kak …

    Yang biasa saya sih … kami berdua … saya dan pengurus masjid memegang amplop bersama lalu mereka membacakan doa dan beberapa kata-kata yang lainnya

    Salam saya Kak

  13. didon berkata:

    kalau keluarga saya juga setiap tahunnya pakai beras bu, tapi di daerah kami zakat fitrah tidak hanya di lakukan di mesjid saja, melainkan di rumah ketua RT . Setelah selesai lalu uang/beras zakat fitrah ini di kumpulkan di satu mesjid tempat kami sholat ied..

  14. LJ berkata:

    acung jempol, kak.. masjid cikini mempertahankan cara berzakat fitrah dengan beras.. tanpa merepotkan juga karena sudah disediakan jenis beras yang sesuai.

    kami di bukik, sekarang pakai uang saja.. boleh ke mesjid atau boleh ke orangnya langsung.. bagusnya ke mesjid, karena pembagian akan lebih merata bagi fakir miskin di lingkungan tersebut.

  15. Evi berkata:

    Waktu kecil nenek kami selalu menggotong karung beras ke surau untuk bayar zakat keluarganya. Sekarang kebanyakan membayarnya dengan uang karena saya menganggap bahwa uang tersebut paling cocok penggunaannya bagi si penerima 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s