Atap Ijuk dan Kembali ke Desa

Ijuk,  sirap,  rumbia dahulu dipakai sebagai  atap rumah-rumah di pedesaan.  Sekarang agak jarang  melihat rumah seperti itu. Umumnya rumah-rumah di desa sekarang sudah pakai seng atau genteng tanah liat.  Justru pemakaian bahan tradisional untuk atap  ini sekarang beralih ke hotel atau penginapan  yang mengambil tema kampung tradisional Indonesia. Contohnya saja  sebuah resort di Garut (foto 1 dan 2) , sedangkan foto terbawah atap rumah tradisional di Kampung Naga.

Resort  dengan lanskap pedesaan ini banyak diminati pelancong dari perkotaan yang  ingin berganti suasana. Pada dasarnya kurasa semua orang ingin hidup nyaman, tenang, damai dan tak tergesa-gesa. Suasana seperti itu sudah jarang dijumpai di perkotaan yang selalu sibuk, macet  dan penuh kompetisi di semua bidang . Akhirnya, pencarian itu didapat di  resort yang agak mirip suasana desa tetapi dengan servis  a la kota.

atap ijuk

Atap ijuk bisa bertahan hingga puluhan tahun, karena sifatnya yang tak mudah lapuk terkena hujan dan panas. Di Kampung Sumber Alam Garut kulihat para pekerja yang sedang mengerjakan atap pengganti  saung-saung.  Ijuk itu didapat dari pohon aren (kalau soal pohon aren boleh tanyalah pada uni Evi yang sangat paham mengenai aren dari ujung ke ujung). Ijuk cukup dipukul-pukul  agar “ngumpul” lalu diikat. Di Kampung Naga ada tambahan daun lepus ( sejenis daun dari pohon lengkuas2an) sebagai alasnya, supaya tak mudah bocor.

kampung sumber alam - Garut

Atap Rumah Kampung Naga

Tak cukup hanya pondok-pondok bernuansa kampung, para pengusaha yang jeli ini melengkapinya dengan kolam atau taman yang didesain mirip pedesaan. Tanaman yang dipakai biasanya tanaman hias yang dulu selalu ada di kampung atau  di  hutan sekitar kampung, seperti senduduk, pisang-pisangan, pohon-pohon buah langka dan sebagainya.  Bahkan makanan yang akan disantap pun disajikan di atas nampan bambu beralas daun pisang, dengan menu lalapan  plus ikan asin dan sambal. Sedap betul dan  nyaman sekali   kan….

He..he..ini posting edisi kangen liburan lagi…. Siapa yang mau ikut..?

Iklan

26 thoughts on “Atap Ijuk dan Kembali ke Desa

  1. niee berkata:

    Kalau atapbitu dijamin sejuk bun.. ini kalau seng metal adanya panas.. Ditambah gak ada pohon makin deh membara. akhirnya jatoh pake ac..

    Dulu dirumah aku pake atep sirap. dinginnya adem. tapi karena bocor dan susah perawatannya diganti.. gak nyesel seh.. tapi ya gitu.deh selalu dibandingkan kalau udah musim panas kayak sekarang..

  2. prih berkata:

    Daftar ikuut mbak Monda berlibur
    Kekhasan suasana menjadi daya tarik liburan ya mbak
    Atap ijuknya mengingatkan pada keanggunan Istana Pagarruyung. salam

  3. bundaMaRish berkata:

    Bundaaaaaaaaaaaaa… dah lama gak nengokin ke sini 😳
    dulu waktu masih kecil saya suka ngambilin nih ijuk dari pohonnya langsung trus disisir trus diiket jadi sapu asal jadi, seru lho! 😀

  4. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’aaikum wr.wb, mbak Monda…ternyata apa yang dulunya tidak bernilai, kini dicari-cari. Pada hal suka hidup moden sehingga suasana bersifat tradisional menjadi kian mahal dan harus dibayar untuk menikmatinya. Atap seng kalau tengah hari, bisa terasa seperti di dalam oven dapur, mbak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 😀

    • monda berkata:

      tunjuk tangan paling tinggi ya pak Chris he..he..
      malah kebalik aku pengen jalan2 ikut jejaknya pak Chris ke Lombok, belum pernah ke sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s