Irit Ongkos Transportasi

Lokasi rumah di kampung pinggiran alias satelitnya kota besar, tetapi tempat mencari nafkah di jantung ibukota dan harus datang tepat waktu pada 07.30 untuk absensi handkey sungguh perlu persiapan mental dan biaya tentu saja. Keterlambatan bila diakumulasi dalam setahun mencapai angka beberapa ratus menit mengakibatkan harus rela tak menerima tunjangan kinerja selama 3 bulan. Kalau tak mau pendapatan berkurang ya harus jaga performa dong, harus usaha keras agar tak ada kejadian itu.

Lalu bagaimana cara menyiasatinya ?

Kami berdua harus berangkat bersama dalam satu kendaraan, sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan di jalan raya. agar irit BBM dan irit emosi dan fisik tentunya. Jika berangkat siang, selain boros BBM yang terbuang percuma di kemacetan, fisik dan emosi pun terpengaruh lho, padahal kan kita harus tampil prima untuk bekerja. Dan untungnya kita berdua juga bisa membahas segala hal dalam perjalanan, jadi waktu berkualitas untuk pasangan.  Jadi kami berangkat pada 05.10 dan tiba di puskesmas 06.40. Masih cukup waktu untukku istirahat sejenak bukan?

Jika pagi hampir bisa selalu berangkat bareng, tak demikian pulangnya. Aku pulang lebih awal daripada suami sehingga mengandalkan kendaraan umum untuk sampai kembali ke rumah. Maka ketika pertama kali pindah ke rumah kami ini aku coba berbagai kombinasi angkutan.Ini untuk  mencari angkutan  yang irit, efisien, nyaman dan waktu tempuh relatif singkat. Untuk mencapai rumahku itu ada 4 rute, maka akan ada pilihan bila salah satu rute tak dapat dilalui karena berbagai alasan, entah karena jalan terputus akibat banjir, akibat angkot demo dll.

Nah, setelah dihitung-hitung besarnya jumlah penghematan uang dan waku sekarang pola pulang seperti ini yang kupakai, dari puskesmas naik angkot, disambung APTB, omprengan, angkot lagi. Jumlah ongkosnya Rp 34,000.  Pola kedua angkot, PATAS, angkot lagi, ongkosnya lebih murah hanya Rp 18,000 tetapi waktu perjalanan lebih lama karena bis berjalan sangat lambat untuk menunggu penumpang sampai bisnya penuh. Ongkos bisa lebih murah dua ribu rupiah lagi kalau sesudah naik bis aku hanya satu kali naik angkot dan disambung berjalan kaki saja,karena sebetulnya jaraknya pendek. Dengan berjalan kaki  dihitung-hitung kan olahraga juga bukan? Tetapi jika  ada kemacetan dan harus mengejar waktu  agar tak terlewat waktu sholat, setelah turun bis  aku pakai ojek yang berarti menambah ongkos sebesar  enam belas ribu. Kompensasinya esok hari aku harus lebih hemat di sektor lain,umpamanya makan siang bawa dari rumah, he..he…, yang penting budget bulanan tak boleh defisit.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

 

13 thoughts on “Irit Ongkos Transportasi

  1. prih berkata:

    Porsi pengeluaran untuk transportasi yang cukup besar melahirkan kreativitas alternatif jalur ya mBak. Sharing yang sangat bermanfaat mbak, ingat ngobrol2 kami dengan mbarep dan tengah yang belajar hidup di ibu kota tentang besarnya beaya transportasi.
    Selamat meramaikan perhelatan sahabat ya mBak. Salam

  2. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Monda….

    Ternyata hidup di kota besar memerlukan kepintaran dalam mengurus masa dan bajet. Lelahnya juga perlu dipertimbankan dalam irit kinergi yang mungkin terbuang dalam perjalanan. Sungguh memerlukan sabar dan kedamaian hati apabila berhadapan dengan cabaran macet. Mudahan sahaja semuanya bisa dihadapi dengan tenang dan bawa bekal makanan ke kamntor bisa berhemat, mbak. Tentu bukan maksud pelit, ya.

    Semoga sukses dalam GA, Kakakin. Salam manis dari Sarikei, Sarawak.😀

  3. harumhutan berkata:

    ojek yang mahal dijakarta ya bu,sebisa mungkin menghindari ojek..
    kadang milih jalan kaki meski jarak lumayan,kalo kata ust.yusman udah itung-itung latihan safa-marwa😀

    sukses bu untuk gelarannya🙂

  4. nengwie berkata:

    Betul ya kata orang, hidup di Jakarta itu usia habis dijalan, pergi belum ketemu matahari, sampai pulang pun ndak ketemu matahari.

    Semoga menang ya mbak Monda…

    Oh ya met liburan dan beristirahat mbaaaak…:)

  5. Baginda Ratu berkata:

    kalo dipikir2, kerja di jakarta emang nggak manusiawi banget ya. Ya waktu tempuh sama ongkosnya, ajiiiibbbbb….! Kalo di bandung, semacet2nya masih bisa lah, ditempuh perjalanan rumah kantor sejam. Kalo naik umum juga nggak mahal2 amat, wong angkot disini masih 2rb atau paling jauh ya 4 rb doang…🙂

  6. ibuseno berkata:

    Wah bener nih nyiasatin ongkos memang kudu pp kerja bareng, itu juga yg aku pake, cuma kalau pas gak bareng itulah sengsara macet heehe..smoga menang ya Monda🙂

  7. nh18 berkata:

    … harus rela tak menerima tunjangan kinerja selama 3 bulan
    Aaddduuuhhhh … ini berat banget ya Kak … sedih banget …

    Mudah-mudahan bisa on time terus sampai tempat kerja ya Kak

    Salam saya Kak

    • monda berkata:

      hukumannya berat emang oom, tp biasanya dievaluasi tiap 3 bulan, kl ada yg kira2 akumulasinya tinggi dikasih teguran spy bisa perbaikan..
      tp ada juga yg pernah kena potong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s