Tentang Pasien

Pasien Cilik

Permintaanku soal  ide  tulisan direspons teman-teman yang  ingin tahu cerita tentang para  pasien di Puskesmas.  Ide  ini datang dari  Oom NH, Dani dan Naniek. Sebenarnya draf sudah dibuat lama, tetapi karena banyak mikir apa yang boleh ditulis jadinya lama deh baru diselesaikan.

Dulu  pernah cerita juga sih tentang  pasien,  antara lain tentang pasien anak lucu yang belajar mengeja, seorang nenek yang menghitung umurnya berdasar uang logam Ratu Wilhelmina dari Belanda, pasien yang menulisi tanaman, dll.  Foto anak di atas itu contoh pasien anak yang menggemaskan. Tapi rasanya belum pernah cerita tentang hubungan akrab yang terbina dan apa saja bidang kerja Puskesmas.

Puskesmasku adalah tingkat kelurahan dan hanya punya 6-8 pegawai yang bekerja tak hanya melayani orang sakit atau fungsi kuratif. Kami juga harus menjalankan fungsi  preventif yaitu mengusahakan pencegahan agar tak terjadi penyakit.  Seorang pegawai bisa memegang program lebih dari satu, pagi hari melaksanakan fungsi kuratif dan siang hari sesudah jam istirahat saatnya berkeliling ke wilayah kelurahan menjalankan fungsi preventif.

Usaha preventif ini misalnya ikut mengupayakan kesehatan lingkungan, penyuluhan kesehatan ibu dan anak, mencari kontak serumah pasien TB, Pemberantasan Sarang Nyamuk, dll.  Keluarga dari pasien TBC harus diperiksa juga dan diberi motivasi untuk ikut berobat bila positif terinfeksi, memeriksa kesehatan  rumahnya, mengunjungi rumah pasien yang menderita DBD (memeriksa rumah-rumah di sekelilingnya, bila positif jentik barulah dilakukan pengasapan atau fogging. Kalau nggak ada jentik ya nggak fogging. Masyarakat sering salah sangka dan mengira kasus DBD harus selalu diikuti fogging. Padahal fogging jika dilakukan terus  menerus akan membuat nyamuk resisten pada insektisida), dan masih banyak lagi.  Sebagian besar penyakit infeksi memang berbasis lingkungan, makanya diusahakan pencegahan yang perlu peran serta masyarakat, tapi masyarakatnya sendiri ya kadang-kadang masih  gitu deh….

Karena sering jalan ke wilayah, petugas kesehatan  sudah dikenal penduduk, sering disapa bila berpapasan, dipanggil bila lewat rumah mereka, diajak mampir, disuguhi dsb. Ibu-ibu akhirnya tak segan curhat, masalah rumah tangga termasuk tentang suami dan anak-anak. Pernah ada pasien yang curhat sampai menangis sesenggukan di ruanganku mengeluh suami punya  WIL, dan keluar dengan mata sembab, lain waktu ada ibu yang tekanan darahnya terus naik karena khawatir memikirkan anak yang ditugaskan ke Papua.  Kiriman makanan dari pasien pun masih sering datang he..he…

Selain pasien yang gampang disuluh dan mau diajak kerja sama ada juga yang suka-suka sendiri. Pernah aku marahi pasien yang minum obat sembarangan. Antibiotik untuk 3 hari dihabiskannya dalam 1 hari, alasannya karena sakit giginya tak kunjung membaik (dasar maunya yang instan aja ya..).   Ada pula pasien yang mendikte obat yang telah biasa diminumnya bertahun-tahun, tak  mau pilihan  obat lain.

Begitulah, sama saja bila bekerja di tempat lain banyak suka dukanya, hanya masyarakat sekarang lebih kritis dan gampang menggertak akan melapor ke sana ke mari, tapi yang terpenting kita tetap bekerja sesuai prosedur dan banyak senyuuum…. Salam senyum ..(ala Idah Ceris).

 

51 thoughts on “Tentang Pasien

  1. nh18 berkata:

    mengeluh suami punya WIL …
    Lha … ini dokter gigi merangkap konselor keluarga nih … hahaha

    salam saya Kak

    (20/3 : 1)
    yang pertama untuk hari ini

    • MS berkata:

      hi..hi.., iya oom..
      biasalah kan kalau mau cabut gigi kan ditanya cukup tidur nggak?
      ntar kan takut lemes pas abis suntiknya
      nah .., ditanyain gitu ngalirlah ceritanya, nggak bisa tidur mikir suami nggak pulang2

  2. prih berkata:

    Keterbukaan pasien berawal dari keramahan dan ketulusan serta kesediaan mBak Monda mendengarkan beliau. Selamat terus melayani masyarakat melalui bidang kesehatan ya Mbak. Salam senyum juga.

  3. SITI FATIMAH AHMAD berkata:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda….

    Alhamdulillah, apa jenis kerja yang kita lakukan, niatlah kerana Allah SWT. Mudahan dipermudahkan semua urusan dengan kerja dan manusia. Ternyata tugas mbak memerlukan stamina yang baik, senyum yang ramah, tutur kata yang berhemah agar semua pasiennya cepat sembuh dan tidak lelah.

    Semoga sukses ya mbak. Enaknya kalau pasien selalu kirim makanan, maka tidak perlu bekalan dari rumah.😀

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.

  4. sondangrp berkata:

    Kak kalau sampe dicurhatin berarti pasiennya nyaman ngajak ngobrol dokternya. Aku paling males kalo ke dokter kalo dokternya pelit ngobrol. Suamiku sih ngerti aja ya, menurut dia ya kalo ibu ibu sebagai pasien ditanggapin pasti makin panjaaaaang, jadi mending dokter itu ngomong yg penting aja. Ya bener juga sih, tapi masalahnya kalo lagi curhat soal kesehatan begitu kita kan pengennya hati kita nyaman dulu *pasien kebanyakan permintaan kayaknya ini ihihi*

    • MS berkata:

      ha..ha.. iya..ibu2 kalau sudah curhat mah emang panjang, makanya liat2 yang antri di belakang ida masih rame nggak..

      biasanya yg bisa bikin si ibu curhat ya pasien lain, yang langsung buka pintu sambil ngedumel ..cuma ngobrol aja ..
      (iya pasien2 sini berani langsung buka pintu ruangan dan protes kl dokternya kerjanya lama atau ngobrol)

    • MS berkata:

      terima kasih dukungannya Non..
      he..he.. si bapak itu emang suka2 sendiri kalau berobat.., musti lebih intensif ngomong sama dia

  5. Zizy Damanik berkata:

    Astagaaa…. masa AB untuk 3 hari diminum 1 hari. Kekmana itu kalau ada apa-apa.
    Dulu waktu mamiku masih kerja di Puskesmas di Biak, juga banyak pengalaman menghadapi pasien, terutama karena pasien di sana banyak yang belum terlalu aware soal kesehatan. Gigi sudah sakit sekali baru mau datang, itu pun tdak mau dicabut… hahah..

    • MS berkata:

      iya ..memang masih banyak banget masyarakat yang awam soal kesehatan..
      tugas kita deh tuh…untuk lebih mempromosikan kesehatan

  6. vizon berkata:

    Pernah punya pengalaman kurang mengenakkan ketika berobat ke Puskesmas. Dokter yang menanganiku ketika itu bersikap arogan. Sejak itu, aku pindahkan Askes-ku ke dokter keluarga.. Andai dokter yang menangani dulu itu Kak Monda, bakal tetap setia deh di Puskesmas itu, hehehe….🙂

  7. Ceritaeka berkata:

    Yang sabar kalau ada pasien suka menggertak ya kak🙂
    Btw soal curhat-curhatan ini aku pun sering dicruhati orang (padahal nggak sengaja ketemu di pinggir jalan misalnya). Kata suamiku mukaku mucur alias muka dicurhatin! Hihihi

    • MS berkata:

      hi..hi..iya ancam mau masukin koran, mau smsin bosnya pemda.. egp aja,
      trims ya Eka..

      wah dirimu muka curhatan ya.. bisaan si bang Adrian..
      heran juga orang2 kok gampang banget ya curhat sama orang lain..

    • MS berkata:

      efeknya pasti resisten sama obat itu, dan efek jangka panjang bisa gangguan ginjal atau organ tubuh lainnya..
      beliau sempat bbrp bulan nggak mau datang, tapi ya balik lagi dgn masalah yg sama, sakit gigi, he..he..
      bandel bapaknya gigi udah bikin infeksi nggak mau dicabut

  8. pursuingmydreams berkata:

    Hanya ada 6-8 pegawai untuk tingkat kelurahan, pastinya setiap hari sibuk sekali ya kak Monda. Klo di Indo antibiotik bisa dibeli umum malah tersedia (pengalamanku hehe) di warung makanya masyarakat gampang aja beli dan mengkonsumsi dikira obat bebas hehe,

    di LN klo sudah sekarat kak baru dikasih antibiotik, dokter-dokter disini pelittt obat😦 . Terakhir kali suamiku ke dokter pas pulang ku tanya ko ga dikasih obat?, kata dokter ga perlu istirahata aja bbrp hari dirumah, ga usah kerja dulu, klo beli obat apotek yg diuntungkan😆 .

    • MS berkata:

      sekarang makin digalakkan obat rasional Nel, membatasi pemakaian obat dan antibiotik, tp pasien nggak puas dan ngomel pelayanan buruk,

      apotik juga mulai banyak yg nggak mau jual
      obat tanpa resep
      contohnya pas aku sendiri beli obat tertentu apotik minta resepnya, akhirnya aku minta kertas resep dan nulis dulu resepnya (ini apotik kecil di sekitar rumah)

  9. naniknara berkata:

    wah seneng ya klo ada petugas puskemas mendatangi rumah warga. Sampai segede ini, kayaknya belum pernah ketemu deh. Apa karena di daerahku, satu puskesmas itu melayani satu kecamatan ya? dan kecamatannya kan luas banget, ada belasan desa

    • MS berkata:

      iya mungkin aja yg diambil cuma sampel.., kan tergantung rumahnya juga, mungkin udah kelihatan ciri rumah sehat dan nggak ada masalah

  10. danirachmat berkata:

    Walah-walah-walah… Itu serem banget yang ngabisin antibiotik untuk 3 hari dalam 1 hari Mba.
    Kalo yang mendikte obat sih tipikal mbah saya banget. Hihihihi.
    Njenengan kerjanya di daerah mana toh kok bisa akrab banget sama pasiennya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s