Weekly Photo Challenge : Minimalist & Berkuda di Bromo

IMG_2757-0.JPG

Pemandangan minimalis ini di kaki gunung Bromo. Seekor kuda sendirian tertambat jauh dari kawanannya. Entah mengapa dia dibiarkan. Kuda di Gunung Bromo cukup banyak jumlahnya. Semuanya dipekerjakan untuk membawa pelancong melewati lautan pasir dengan rute dari parkir jip sampai tangga ke kawah Bromo. Memang para pencari rejeki di sini sudah membagi wilayah kerja masing-masing.

Jarak yang ditempuh itu sebetulnya tak jauh, jika berjalan kaki santai hanya makan waktu sepuluh menit. Lalu mengapa kami malas jalan dan memilih menunggang kuda yang biayanya cukup mahal dan harus tawar menawar alot? Selain karena agak berat melangkah di hamparan tebal pasir hitam yang mengandung belerang, juga karena kotoran kuda ada di mana-mana. Cukup sulit memilih rute yang bebas kotoran kuda. Kuda-kuda itu dibiarkan tak bercelana sih. Betul kata uni Evi di situ jorok sekali. Harusnya paguyuban para pemilik kuda itu menentukan anggotanya buat celana kuda untuk menampung kotorannya. Makanya harus selalu pakai masker untuk menghalau bau dan mencegah butiran pasir masuk ke hidung.

Berkuda bagi pemula ternyata tak segampang yang dibayangkan. Untuk naik punggung kuda yang tinggi itu juga jadi masalah tersendiri, harus bertumpu dengan cara memeluk pundak joki he…he.. Joki lalu kasih aba-aba memasukkan kaki ke sanggurdi, dan duduk dengan punggung tetap tegak walaupun kuda berjalan miring. Ternyata payah ya karena badan rasanya mau ikut miring kalau kuda bergerak. Jarak yang pendek itu terasa lama buatku.

Saranku untuk anda yang punya hidung yang sensitif saat wisata ke Bromo selalu bawa pakaian cadangan cukup, karena aroma tubuh kuda itu kurasakan melekat banget di pakaian, he..he…. Akhirnya jaket, kerudung, jeans tak terpakai lagi dan harus masuk tas.

30 thoughts on “Weekly Photo Challenge : Minimalist & Berkuda di Bromo

  1. chris13jkt berkata:

    Sayang kawasan Bromo jadi tercemar dengan kotoran kuda ya Mbak.
    Ngomong-ngomong naik kuda di sana, terakhir kali ke sana akhirnya aku ngalah jalan kaki separuh jalan, soalnya kasihan lihat kudanya keberatan menggendong aku. Mbak 😀

  2. vizon berkata:

    Oh, begitu ya kondisi Bromo, Kak.. Jadi punya gambaran sekarang kalau mau ke situ suatu saat kelak… Btw, fotonya keren sangat…

  3. Orin berkata:

    Orin naik kuda pas ke Bromo pertama kali Bun, dan kapoook, coz serem rasanya kyk mau jatoh gitu kan ya, mendingan jalan kaki aja deh hihihihi

  4. danirachmat berkata:

    Sayang banget ya Mba tidak dikelolanya kotora kuda dengan baik. Waktu baca blognya Mba Evi juga membayangkan itu gimana kotornya daerah sana. Fotonya bagus dan mestinya bisa jadi spot yang menarik untuk wisatawan jalan kaki.

  5. aqied berkata:

    Pas ke bromo gak nyobain kuda nya sama sekali. Naik turun jalan kaki n sendirian karna temen2 kalo gak yg nyerah naik ya naik kuda atau ud cepet banget nduluin

  6. ~ JEI berkata:

    Aiih fotonya pas banget menggambarkan minimalisnya, MM. Malah kudanya tampak kesepian sendirian. Iya memang kalau kuda2 ini diberi celana, Bromo akan lebih menyenangkan ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s