Perut Karet

IMG_4746

Posting ini terinspirasi dari tulisan Dani kemarin, Indonesia Hebat,  dan secara kebetulan sore harinya  aku dapat foto yang bisa disesuaikan. Aku melihat si penjual cilok ini  sedang menuangkan isi sachet R***o ke atas cilok di dalam panci kukusan (pasti tujuannya supaya rasa cilok lebih gurih). Saat kukeluarkan hp dia sudah selesai dan agak menjauh dariku, mungkin curiga akan jadi obyek foto.

Salah satu yang dibilang hebat oleh Dani adalah perut orang Indonesia itu punya daya tahan mencengangkan. Makan jajanan kaki lima  yang kurang higienis saja  perutnya tetap oke. Makanan yang menurut orang lain kotor bagi kita tetap bisa diterima. Komenku di posting itu  “jadi ingat deh Dan.., tukang jualan di kampus itu gelar dagangannua aja di atas got yg item banget, kita aja kasih namanya Kantin Aneka Racun.., belum lagi lapnya tukang soto mi kecemplung di panci kaldu.., ha..ha..
tetap aja makannya nikmat dan masih idup.

Zilko di sini bilang dia diwajibkan peraturan di Belanda yang harus vaksinasi karena akan ke India.  Ada tiga jenis vaksinasi yang direkomendasikan: DTP (difteri, tetanus, dan polio), tipus, dan hepatitis A; dan ada beberapa lain tetapi merupakan pilihan saja.” Dan rupanya tak hanya ke India, akan bepergian ke Indonesia juga wajib vaksinasi sebelum berangkat. Kewajiban ini karena orang-orang di luar sana tahu kita itu jorok.

Kalau aku bilang sih kita ini masih “ngasal”. Penjualnya “ngasal”, pembelinya juga “ngasal”. Sebetulnya sedih juga kita konsumen disiksa sama penjual nakal kok mau saja. Sudah berapa banyak tayangan di media yang mengangkat masalah ini, tetapi kalau kita konsumen mau saja dibodohi pastilah produsen akan tetap jalan terus. Seharusnya produsen memperhatikan segi keamanan pangan, seperti yang dilakukan oleh produsen besar di sini.

Ini beberapa contoh  kelakuan penjual makanan yang kusaksikan. Aku lihat sendiri abang gorengan mencelupkan plastik minyak goreng oplosan  langsung ke dalam minyak panas, penjual rujak buah mencelupkan buah potong ke dalam larutan gula supaya lebih manis, penjual soto mi merebus wortel yang masih terbungkus plastiknya dalam kaldu, penjual bakso yang mengikat tulang kaki sapi dengan rafia di dalam kaldu mendidih, dll. Proses persiapan mereka dari rumah pun pernah kusaksikan saat keliling kampung memantau kesehatan lingkungan. Bahan-bahan makanan direndam dalam ember bekas cat, ayam potong bergeletakan di atas lantai, lontong berbungkus plastik. Belum lagi gerobak dorong kotor, berdebu dan lapuk, dan ada anak kecoa (ini kejadian di cart di mall, dan langsung batalkan pesanan), tangan penjualnya yang kotor, piring kotor hanya dicuci dengan air seember kecil, kaleng kerupuk bekas biskuit sudah berkarat, dll. Hii…ngeri membayangkan berapa banyak zat pencetus kanker dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Masa muda memang  aku masih makan di Kantin Aneka Racun, tetapi kini semakin banyak melihat, semakin tahu dampak buat kesehatan, aku mulai lebih memperhatikan apa yang akan kumasukkan ke dalam mulut. Sebelum memesan aku lihat dulu kegiatan si penjual, kalau mencurigakan lebih baik batalkan pesanan.

41 thoughts on “Perut Karet

  1. sariwidiarti berkata:

    jadi inget waktu liburan ke Jakarta, kaget juga sih ciloknya dibumbui, bumbu mie instan itu (bukan r***o) padahal di Sidoarjo, ciloknya ya gak pakai bumbu apa2 karena ciloknya sendiri sudah gurih. langsung deh mikirnya macem2, jangan-jangan itu bumbu bekas mie instan yang basi😀
    eh untungnya masih hidup sih😀

  2. Ailtje Binibule berkata:

    Ada kolega yang pernah kunjungan ke komunitas yang jualan oleh-oleh di dekat tempat wisata, dia tercengang lihat proses pembuatan kerupuk yang digoreng pakai plastik. Mengerikan.

    Kita sendiri membiarkan hal itu terjadi dengan tetep beli makanan, walaupun sudah tahu nggak hygienist. Alasannya: murah. Masak sendiri juga bisa lebih murah, tapi tentunya malas.

    • MS berkata:

      iiih.., mengerikan banget, produsennya berani terang2an celupin plasti
      kl yg kulihat itu abangnya lihat kiri kanan dulu lho takut diliatin…

  3. prih berkata:

    Tugas berat bersama ya Mbak, membangun kesadaran bersama kita konsumen, kita produsen dan kita juga pendampingnya, yah kita semua dalam menjaga keamanan pangan.
    Salam

  4. Allisa Yustica Krones berkata:

    Iya ih, jajanan di indonesia banyak yang bener2 membahayakan…kalo dulu sih masih suka makan gorengan beli di abang2, tapi udah bertahun2 meninggalkan kebiasaan jajan di tempat2 yang meragukan…klo kepengen makan gorengan, mending beli pisang di pasar trus goreng sendiri deh

  5. bintangtimur berkata:

    Iya mbak, tolok ukur saya biasanya dari kebersihan penjual, gerobak atau warungnya. Karena saya doyan banget jajan yang namanya cilok *apalagi cilok WM di Surabaya..duh, rasanya saya harus waspada deh, jangan-jangan si abang juga suka naburin bumbu penyedap ke ciloknya yang enak itu…😦

  6. Vera berkata:

    Nah aku jg pernah tuh pesen makanan di dusun bambu yg notabene tempat makan mahal..eehh liat ada tikus kecil lg mondar mandir di tempat piring..haduuhh

  7. yusmei berkata:

    Jadi ingat pas di Sabang mbak monda, ketemu turis swedia yang katanya harus divaksin macem2 pas mau ke Indonesia. Eh di sini, tetep aja sakit perut sampai masuk rumah sakit

  8. adelinatampubolon berkata:

    sebisa mungkin memang dikurangi sich kak, termasuk makan di food court mall. siapa bilang food court mall bersih? tetap aja yach tikus dan kecoa mondar mandir. emang paling enak dan sehat makan masakan rumah

  9. Orin berkata:

    Alhamdulillah udah jarang bgt beli makanan berkategori ‘meragukan’ seperti itu Bun, tapi kadang emang ngangenin ya, Orin kadang msh suka beli bakso gerobak abang2 yg semangkok msh 7000 pdhl kalo di warung bakso seporsi paling murah 10rb😀

  10. zilko berkata:

    Astaga, itu rinso dipakai untuk membuat makanan?? Serem ya…

    Ini juga aku diwanti-wanti banget oleh banyak orang (termasuk perawat yang memvaksin kemarin) untuk berhati-hati di India terhadap makanan kaki lima/jalanannya. Bahkan katanya disarankan ketika makan dengan piring, sebaiknya kita menyisakan satu “lapisan” makanan yang menempel ke piringnya (karena nggak yakin akan tingkat kebersihan piringnya). Ini di India sih dan sepertinya di Indonesia nggak segitunya lah ya kalau kita pintar memilih rumah makan. Kalau yang di “Aneka Racun” ya nggak tahu deh, hehehe🙂 .

    • MS berkata:

      eh….bukan.., namanya bukan Rinso.., tapi bumbu masak.., males aja nyebut merknya sih….
      aku nggak kepikir nama bumbunya bisa mirip dgn detergent..he..he..

      • niee berkata:

        Aku tadi bacanya juga kepikiran rinso.. Hahahaha..

        Wah bun soal lontong yang direbus pake plastik aku sering lihat dan buat dirumah loh.. Gak kepikiran juga sampe sekarang itu ternyata bahaya yak.. Untung skrg udah gak lagi, udah beli atas cetakan longtong yang dari alumunium (eh itu aman juga gak yak.)

  11. dani berkata:

    Iya mba Monda. Semakin kita tahu semakin serem ngelihatnya. Saya juga kalo lihat yang ajaib-ajaib mending langsung batalin pesenan. Ato kalo dah dibikin ga bisa dibatalin ya fak dimakan. Mubazir sih tapi ya gimana ya Mba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s