Catatan Tertinggal dari Bromo

 

IMG_4793

setelah lihat foto ini baru sadar ada yang dengan enaknya naik sepeda motor ke tepi kawah Bromo, padahal kita sudah terengah-engah naik tangga, nggak rela banget deh…

IMG_2763

gamang melihat anak-anak gadis ini duduk santai di pinggir, seperti ingin menantang gunung Batok ……

Sehari di Bromo rasanya tak akan cukup, hanya sedikit sekali yang bisa dijelajahi, kami belum sempat jalan-jalan keliling desa dan melihat geliat aktivitas warga sehari-hari.

Di perjalanan kembali ke Malang, kami banyak mendapat cerita dari pak Adi, pengemudi mobil sewaan kami. Si bapak ini orang asli kampung Ngadisari, hotel tempat kami menginap itu.

Darinya kami dapat info bagaimana dampak pariwisata bagi warga. Katanya sesepuh adat tak mengijinkan hiburan malam di desa, supaya anak-anak muda tak kena pengaruh buruk dari luar. Menurutku bagus juga sikap seperti itu, nggak asyik kan kalau ke Bromo mendapati suasana hingar bingar. Kehidupan religius di desa-desa pemukiman suku Tengger ini  sepintas masih cukup baik, karena dari beberapa rumah  masih terdengar alunan suara rombongan ibu-ibu membaca kitab suci agama Hindu, Selain hotel warga juga menyewakan vila. Jeep dan pemilik kuda punya organisasi masing-masing supaya semuanya berjalan tertib tak ada sikut menyikut persaingan usaha.

Ketika kutanyakan soal makanan khas pak Adi cerita tentang nasi jagung putih atau nasi aron. Katanya nasi ini sudah jarang orang membuatnya, karena proses membuatnya cukup lama. Sayang sekali sebetulnya. Proses pembuatan memakan waktu. Jagung putih yang sudah dipipil ditumbuk kasar lalu direndam air selama beberapa hari lalu dijemur. Setelah kering jagung ditumbuk , disaring dan direbus. Menyantapnya dengan sayur, ikan asin dan sambal. Kabarnya nasi aron ini mengenyangkan, lama kemudian baru terasa lapar. Nasi Aron bisa tahan sampai satu minggu. Sayang cuma bisa ngiler dengar cerita pak Adi.

35 thoughts on “Catatan Tertinggal dari Bromo

  1. chris13jkt berkata:

    Sayang sekali ya Mbak kalau makanan khas seperti nasi jagung putih dan nasi aron ini sudah jarang yang membuatnya, padahal kan sebetulnya justru bisa jadi daya tarik kuliner setempat

  2. bintangtimur berkata:

    Mbak, jadi inget nasi jagung yang pernah saya makan jaman SD dulu. Karena saya tinggal di daerah Jawa Timur, nasi jagung, sayur ikan asin santan dan sambal itu jadi makanan yang dijual keliling sama tukang kue…bayangin, tukang kue aja jualan nasi jagung buat sarapan…🙂

  3. Indah Susanti berkata:

    Jadi inget perjalanan ke Bromo..tapi sudah lama sekali..terimakasih atas postingnya..mengingatkan kembali masa-masa di Bromo..(aku juga belum pernah nyobain nasi aron..hehehe..jadi ngiler juga :D)

  4. prih berkata:

    Pengunjung Bromo terpikat dengan ‘rasa Bromo’ yah ritualnya, alamnya, masyarakatnya, pengunjung yang merasuk ke alam Bromo. Lestarilah Bromo dengan rasa khasnya. Salam

  5. zilko berkata:

    Suasana heningnya Bromo itu memang salah satu daya tariknya ya. Jadi kalau suasana itu menjadi “tercemar” dengan hingar bingar pengaruh dari luar memang akan jadi sayang banget…

  6. dani berkata:

    Wah membayangkan suasana syahdu malam hari waktu terdengar suara mengajinya Mba Monda. Keingetan kampung halaman di surabaya waktu saya tumbuh besar dulu. Langsung nyess rasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s