Kisah Buku Paket Turun Temurun

education-1545578_640

Buku Paket adalah buku teks wajib yang dipakai di sekolah.  Umumnya sih dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pertama kali pakai buku paket itu di kelas 1 SMP, kalau nggak salah ingat sih buku wajib itu baru satu mata pelajaran saja. Yaitu buku untuk pelajaran  Matematika. Buku-buku untuk mata pelajaran lainnya masih boleh dipilih oleh sekolah masing-masing.

Ngomong-ngomong ini cerita jaman tahun 70 sampai 80an ya. Oh iya sekedar ifo saja nih, hampir setiap 3 tahun aku pindah sekolah mengikuti orang tua. Jadi kisah masa sekolah yang kuceritakan ini terjadi di 3 kota.

Buku -buku teks dulu tak boleh ditulisi. Maksudnya supaya buku-buku itu bisa diturunkan. Buku ditulisi pakai pensil pun dimarahi guru. Anak-anak harus belajar apik  dan  harus memelihara bukunya. Beda ya dengan anak sekarang.  Di sekolah anakku  buku teks boleh ditulisi, bahkan menjawab soal juga harus ditulis di situ.

Setelah naik kelas, buku-buku yang dipinjam dari sekolah harus segera dikembalikan. Buku-buku lainnya disimpan sebaik-baiknya di rumah supaya nanti bisa dipakai lagi oleh adik. Dan memang betul adikku masih bisa pakai  bukuku. Kalau kini sih, akhir tahun pelajaran  malah panggil  tukang barang bekas. Buku catatan dan buku teks yang tak akan diperlukan lagi langsung masuk gerobak pemulung. Ya kalau dipertahankan  lagi bakal bikin penuh lemari dan meja belajar.   Disimpan lagi entah siapa yang akan memakai,  dikasih ke saudara atau tetangga pakai bukunyajuga  berbeda.

Buku paket di jamanku sekolah  dulu bisa turun temurun karena isinya masih sama. Satu buku bisa dipakai oleh dua orang adikku. Bukuku dipakai adik nomor dua, lalu turun lagi ke adik nomor tiga. Irit deh.

Buku paket waktu itu memang bertahan lama, karena dari tahun ke tahun nggak ada perubahan.  Kalaupun ada,  perbedaan itu tak banyak .  Meski sedikit ada perubahan, tapi buku tetap masih bisa dipakai.  Halaman-halaman yang berbeda bisa dicatat.

Oh ya ada yang kuingat tentang sekolah di Sorong dahulu. Buku-buku teks  masih stensilan. Bapak atau ibu guru yang menyiapkan sendiri bahan pelajaran, diketik dengan mesin ketik biasa. Lalu bahan ajar itu diperbanyak dengan mesin stensil, mesin fotokopi waktu itu masih jarang dan harganya mahal.

Makanya jadi keasyikan tersendiri deh nonton pak guru memutar mesin stensil. Kadang-kadang kalau terlalu banyak menuangkan tinta, tulisannya jadi hitam dan blepotan.

Tahun-tahun berikutnya semakin banyak buku paket yang diwajibkan. Setelah pindah dari Sorong  sekolahku adalah swasta di bawah naungan perusahaan tempat bapakku bekerja.  Mungkin karena didanai oleh perusahaan, fasilitas perpustakaan sekolah  cukup lengkap. Semua anak diberi pinjaman buku teks lengkap. Buku-buku wajib atau pilihan sekolah semuanya dipinjamkan dari perpustakaan sekolah selama setahun. Tak ada buku yang dibeli sendiri, kecuali buku tulis dan gambar.

 

11 thoughts on “Kisah Buku Paket Turun Temurun

    • MS berkata:

      Tin apa kabar ? aduuh senangnya, nanti aku hubungi ya
      tolong tulis pesan dan kasih nomor kontakmu lewat halaman Hubungi Aku, itu terhubung langsung ke emailku

  1. bersapedahan berkata:

    sekang buku paket berubah rubah mulu … begitu dinamis🙂
    tapi kalau sekolah negeri di Jakarta tidak usah beli buku, buku sudah di sediakan oleh sekolah, jadi tidak ngaruh kalau ganti2 buku paket, tidak ada beban ke ortu siswa .. kecuali sekolah non-negeri … baru kerasa deh ..🙂

  2. adelinatampubolon berkata:

    Aku juga ngerasaian buku pelajaran diturunkan ke adik2 ku. dan pengalaman perpustakaan jaman dulu adalah suatu pengalaman yang menyenangkan buat kami. karena buku2 komplit dan kalau lupa atau ketinggalan bawa buku pelajaran bisa minjam sebentar ke perpustakaan trus balikin lagi dech setelah pelajaran selesai.

  3. nh18 berkata:

    Bicara mengenai buku paket …
    Dulu … buku saya bisa digunakan oleh adik saya yang 4 tahun berbeda usia

    Sekarang …
    Walaupun sekolahnya sama. Setiap tahun bukunya berganti. Sehingga beda 2 dan 4 tahun antara anak-anak saya … Saya harus beli buku paket yang berbeda setiap tahunnya

    Salam saya

  4. Indah Susanti berkata:

    Duh..aku di jaman dulu, buku-buku gak semuanya bisa diturunkan ke adik. Kadang ada buku yg diganti gitu. Mgkn krn kami di sekolah swasta ya? Sbnrnya di sinilah fungsi perpustakaan mestinya hadir, biar mudah dpt akses ke buku terbaru..

  5. dey berkata:

    Saya masih ngalamin buku turun temurun. Fauzan juga masih sempat pakai buku yg dipinjamkan dari sekolah. Tapi sejak dua tahun terakhir ini harus beli buku sendiri & udah ngga dikasih pinjam dari sekolah.

  6. kang nur berkata:

    Buku ini milik negara…dipinjamkan kepada murid murid untuk dibawa pulang. Rawat baik baik karena tahun depan adikmu yang akan memakainya…. Kira kira seperti itu pesan di buku paket jamanku dulu

  7. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Kak Monda sptnya klo jaman sekrang (5 tahun terkahir deh) buku -buku teks sudah jarangs ekali bsia diturunkan krn tiap tahun kurikulum bisa ganti2 melulu, apalagi klo ganti menteri tuh bakalan ganti lagi buku2 pelajarannya. Klo jaman aku sekolah dulu buku2 masih bisa dipakai sama adik2ku, atau kita bisa beli yg second di pasara senen hehe😀 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s