Les Tambahan Untuk Anak, Perlukah?

Setiap individu itu unik. Setiap orang, entah orang dewasa yang sudah terbentuk karakternya atau seorang anak yang masih polos tentu saja  punya kepribadian, kesenangan dan kebutuhan masing-masing yang berbeda satu sama lain. Tidak  bisa pukul rata disamakan, kalau si bocah A senang  bermain di luar ruang, mungkin putra atau putri kita lebih suka bermain atau membaca buku  di dalam rumah.  Begitu pun kebutuhannya dan caranya dalam belajar.

Jadi tema yang didiskusikan kali ini adalah apakah perlu les tambahan untuk seorang anak.  Topik ini dilemparkan oleh mak Hanny Nursanti pemilik blog dengan url  https://diarynayla.blogspot.co.id dalam tulisannya  Anak SD Dijejali Banyak Les?yang dimuat  di website  Kumpulan Emak-emak Blogger.

Sebenarnya harus gali dalam-dalam ingatan  mengapa dahulu anak-anak  diikutkan atau tak diikutkan les tambahan pelajaran di sekolah. Anak-anakku sudah dewasa muda sekarang ini. Sewaktu mereka  masih di usia sekolah dasar  rasanya belum marak les tambahan.  Selain itu ada ketentuan dari sekolah tak boleh minta les dari guru-guru yang mengajar di situ. Kalau orang tua ingin anaknya mendapat pelajaran tambahan ya harus dengan guru dari sekolah lain atau di tempat les  atau lembaga kursus.

Saat si sulung di kelas 1 SD dia sudah dapat tugas untuk membuat resume dari buku bacaannya setiap minggu. Anak kelas 1 di semester pertama   wajar ya belum lancar membaca. Tentu akan ada hambatan, membaca buku teks pelajaran saja masih terbata-bata apalagi bila harus membaca satu buah buku cerita.  Orang tua banyak yang protes  tugas  dari guru ini karena merasa  masih sulit untuk anak kelas 1, untuk buat review. Tapi bu guru bergeming. Alasannya agar anak terlatih membaca buku.

Lalu, apakah kemudian kumasukkan ananda les tambahan membaca? Tentu tidak. Rasanya masih bisa kutangani sendiri. Buku cerita kubacakan dahulu. Kemudian  kuminta si sulung menceritakan ulang sesuai versinya. Nah, kemudian barulah dibantu pelan-pelan apa yang akan dituliskannya, kubantu menyebutkan huruf demi huruf.

Apakah kini masuk SD memang harus sudah lancar membaca menulis? Btw, buku-buku teks kelas 1 SD waktu itu memang menuntut anak harus sudah lancar membaca.

Berarti di TK harus sudah diajarkan kedua pelajaran itu dong. Padahal aku masih beranggapan TK itu masih masa bermain. Belajar ya boleh tetapi dengan cara menyenangkan sambil bermain. Menurutku tak perlu sudah lancar membaca saat masuk SD.  Aku team masa TK masa bermain sambil belajar.

Kedua anakku di masa SD memang tak ikut les tambahan, barulah  menjelang ujian nasional SMP dan SMA belajar pada salah seorang tanteku yang adalah seorang guru Matematika dan juga  ikut bimbel yang diadakan sekolah (sifatnya diwajibkan oleh sekolah).

Aku pun takut anak merasa bosan belajar terus seandainya anak diberi les tambahan. Mereka belajar di sekolah full day. Tentu pulangnya lebih sore, perlu istirahat juga di rumah dan belajar mengaji. Aku tak menuntut anak-anak harus jadi juara kelas atau punya ranking 3 besar, yang penting mereka paham pelajarannya dan enjoy bersekolah.

Membiarkan anak ikut les tentu setiap orang tua juga punya alasan pribadi. Apakah perlu anak diikutkan pelajaran tambahan?

Mungkin sebagian  orang tua merasa anak tertinggal dalam memahami mata pelajaran tertentu sehingga merasa perlu mengejar ketertinggalan tersebut. Banyak hal yang menurut pendapatku harus dipertimbangkan sebelum anak ikut pelajaran tambahan.

Kemauan  dan Bakat Anak. Jika si  anak memang suka pelajaran Matematika misalnya dan ingin lebih lihai di pelajaran itu , ok. Atau bila  orang tua tak punya kemampuan mendampingi anak belajar , bolehlah diikutkan les. Seperti misalnya les bahasa Arab, karena  di beberapa SDIT pelajaran yang satu ini jadi pelajaran wajib. Pelajaran tambahan yang diberikan seyogyanya mampu menunjang minat dan bakat anak.

Manajemen Waktu . Di sekolah anak sudah belajar seharian. Pastilah kegiatan ini  menguras energinya. Berangkat dari rumah mungkin  masih ngantuk dan sarapan terburu-buru. Pulang sekolah siang atau sore hari. Anak pun perlu istirahat dan bermain agar ia selalu riang gembira. Karena dunia anak adalah bermain.

Bila ada les tambahan berarti waktu istirahat dan bermainnya akan berkurang. Orang tua pun harus siap mengantar jemput anak ke tempat kursus.

Pencapaian Anak di Sekolah. Jika nilainya bagus dan pemahamannya pun baik nggak  perlu deh diberi les tambahan.

Komunikasi dengan  Guru Anak di Sekolah. Komunikasikan dengan guru tentang kekurangan dan kelebihan anak . Guru bisa menilai apakah si anak memang perlu sekali mendapat pelajaran tambahan di luar jam sekolah.

Itulah pendapatku  mengenai les tambahan buat anak, tergantung kebutuhan dan banyak faktor lainnya. Keputusan akhir  ada di orang tua masing-masing.

 

Iklan

8 thoughts on “Les Tambahan Untuk Anak, Perlukah?

  1. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Jamannya aku dulu cuma ikut les bhs inggris aja kak, les lainnya gak ikut dg alasan keungan yg ga memadai haha. Idealnya sih masuk SD mulai belajar baca tulis, tp dr yg pernah brp kali kubaca berita di tanah air ada sekolah/guru2 tertentu yg mewajibakan murudnya kelas 1 SD harus sdh bisa baca. Lah jadinya tugas gurunya apa dong klo si anak sdh lancar baca kelas 1 tuh 😀 .

    • Monda berkata:

      kk les Inggris SMP..,
      sekarang anak TK udah diajarin bahasa Inggris walau sekedar mengenal warna atau nama hewan ya..
      makanya, kk dulu belajar baca kelas 1 lho

  2. ysalma berkata:

    Jika sekolah dari pagi hingga jam 2 siang, nyampe rumah 30 menit kemudian, sepertinya itu sudah seharian anak2 SD belajarnya, belum lagi sore/malamnya ngaji, kalau menurut saya, tambahan diberikan justru pada minat khusus si anak yg dia justru jd semangat melakukannya.

  3. Nurul Fitri Fatkhani berkata:

    Duuh…anak kelas 1 SD diberi tugas meresensi buku? Apa gak terlalu memberatkan anak? Bukankah kelas satu waktunya mereka belajar membaca? Wah, gurunya gimana, ya?
    Jangankan anak SD kelas 1, anak TK, anak yang sudah besar pun masih membutuhkan waktu untuk bermain, jangan sampai mereka stres, tanpa ada waktu bermain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s