Weekly Photo Challenge : A Good Match

ayamjago siaga

This is my entry for Weekly Photo Challenge : A Good Match.

Update : 

Tak hanya kaum bapak  lho yang bisa jadi suami siaga yang siap mengantarkan dan menunggui istri melahirkan sang buah hati.

Ayam jago juga lho punya kelakuan yang sama.

So, belakangan ini jadi punya  kebiasaan baru  mengamati tingkah laku ayam yang hendak bertelur. Ini pasti gara-gara terpengaruh nonton film dokumenter dunia  hewan ha… ha…  Nggak apa kan dapat pengaruh bagus. Aku dan suami memang paling suka nonton film jenis ini di tv.

Ayam betina jika hendak bertelur itu berkotek-kotek dengan sangat keras.  Kukira suara khas itu akibat si ibu ayam merasa perutnya mulas menahan kontraksi telur yang akan keluar. Ternyata ada sebab lain lho. Ayam betina itu ternyata kenal dengan pasangannya dan mengharap kedatangan si jantan untuk menemaninya di saat-saat rawan hendak bertelur.

Asumsi ini timbul ketika kami lihat si betina 1 tak jadi duduk bertelur saat si jantan pergi dan mengejar betina 2. Ha.. ha…

Kejadian di foto ini pun seperti itu.  Sepasang ayam kampung ini naik turun beberapa kali hingga si  jantan betah menemani  cukup lama. Karena bertelur di tempat terbuka seperti inilah bisa terlihat semua prosesnya.

Alasan update. Sengaja posting ini diperbarui. Ada sebabnya.

Mengapa Jati Menggugurkan Daunnya?

Pohon jati ini terlihat meranggas ya…  kering kerontang tanpa ada penampakan daun-daunnya yang lebar itu. Inilah penampakan pohon jati di saat musim kemarau di sebuah perkebunan, yang tak sengaja ketemu karena kesasar yang membawa nikmat makan kolak duren

Pohon jati akan menggugurkan semua  daunnya pada saat musim kemarau di mana jumlah air terbatas. Pengguguran daun akan mengurangi penguapan air  dan dianggap sebagai mekanisme penghematan energi.

Jati (Tectona Grandis L), adalah salah satu tanaman keras bernilai ekonomis tinggi  dengan kayu terbaik untuk industri furnitur  ataupun bahan bangunan rumah. Tak hanya batangnya yang bermanfaat. Daun jati  yang lebar dan rimbun saat musim hujan digunakanan sebagai pembungkus makanan, misalnya untuk membungkus Nasi Jamblang Cirebon.  Daun  jati muda pun bermanfaat sebagai pewarna alami batik karena bisa menghasilkan warna merah kecoklatan.

(Foto ini bertema  Seasons.)

Cara Mencegah Demam Berdarah Dengue

Musim hujan banyak genangan air di mana-mana, harus waspada nih jangan sampai genangan itu jadi sarang nyamuk. Angka kesakitan demam berdarah dengue ( DBD ) semakin hari semakin naik saja, jadi pencegahan harus lebih diperhatikan jangan sampai deh tertular.

Nyamuk Aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue, cikunguya dan zika. Nyamuk ini berbadan belang-belang, suka tinggal dan berbiak di air jernih. Supaya nyamuk tak semakin banyak yuk kita rajin-rajin ngecek sekitar kita.

Perlu disadari fogging hanya mematikan nyamuk dewasa, jentiknya tetap aman sentosa masih mampu hidup dan menjadi nyamuk dewasa. Jentik nyamuk nggak mempan fogging. Jadi jentik yang  harus kita basmi manual.

Bagaimana cara mengetahui keberadaan jentik? Pakai senter. Nyala senter diarahkan ke air tergenang. Bila ada jentik, akan terlihat jentik bergerak-gerak joged di bawah sinar. Lalu kuras wadah air tersebut, bersihkan dan sikat dinding wadah.

Di manakah bisa ditemukan jentik? Di semua tempat yang bisa menampung air seperti ember, kaleng bekas, ban bekas, daun dan pucuk bunga, dispenser, tempat minum hewan, pot bunga, dan wadah terbuka lainnya, dll.  Makanya wadah-wadah  bekas harus dikubur. Ingin menyimpan air untuk cadangan air minum gunakan wadah bertutup. Kalau bisa sebaiknya tak menggunakan wadah air ukuran besar, karena kita cenderung malas membersihkan. Pakai wadah ukuran sedang yang gampang dibersihkan. Prinsip pencegahan demam berderah dengue 3M masih tetap berlaku menguras, mengubur dan menutup.

Di wilayah DKI Jakarta dan mungkin juga daerah-daerah lainnya setiap RT sudah ada Jumantik (juru pemantau jentik) yang setiap minggu keliling di wilayahnya. Petugas  Jumantik ini adalah warga setempat. Petugas Puskesmas pun turut mensupervisi, bersama-sama dengan jumantik mengunjungi rumah, sekolah dan tempat-tempat umum lainnya. Tugasnya ya itu tadi cari jentik dan sekaligus edukasi warga door to door.

Suka duka mengetuk pintu rumah warga banyak juga. Walau petugas Puskesmas ditemani jumantik yang nota bene warga setempat, tetapi seringkali kami ditolak masuk. Kalau sudah begitu harus minta bantuan RT  bahkan lurah untuk mendampingi. Setelah berhasil masuk pun tak semua tempat boleh diperiksa. Suatu kali aku memaksa masuk ke kamar bayi karena ada dispenser di dalamnya. Ternyata di wadah penampung air dispenser itu positif jentik.

Belakangan ini dicurigai sekolah dan kantor jadi sumber penularan. Digerebek ke sekolah, bimbel dan kantor betul saja, di dispenser sering ditemukan jentik. Jadi, para orang tua murid, bapak ibu guru dan pegawai kantor minta  tolong ikut mengawasi  ya.

Rumah sakit di DKI Jakarta (juga Tangerang Selatan, sesuai cerita teman blogger) wajib melaporkan data pasien yang terkena penyakit menular misalnya DBD, campak kepada Dinas Kesehatan. Rumah penderita akan didatangi dan diperiksa untuk mencari sumber penularan, begitu pula dengan rumah-rumah di sekitarnya. Ijinkan kami masuk ya …