Day 24 : Your Favorite Documentary – The Silk Road

Sebenarnya agak jarang nonton film,  maksudnya nonton film ke bioskop gitu.  Malas keluar rumahnya, kecuali kalau pas bareng anak-anak. Paling sering nonton film itu ya di TV aja. Dan nonton itu juga biasanya sih nggak bisa sampai hafal dialog atau setting, ingatanku tentang itu hilang begitu saja  terbawa angin he..he.. Salut deh sama  yang bisa mengingat ditel film. Tapi ada  kok perkecualian.  Film yang bisa kuingat ditelnya  misalnya film Tabula Rasa.

Baca lebih lanjut

In My Life

Malam minggu kemarin diisi dengan nostalgia abis, he..he.. gara-gara nonton rekaman A Grammy Tribute to The Beatles. Lagu-lagu lama era orang tuaku yang tetap merdu itu muncul lagi dibawakan artis-artis masa kini.  Aransemen lagu sebagian besar tak berubah banyak. Salah satunya In My Life dibawakan penyanyi  Inggris yang suaranya  dan petikan gitarnya membawa ke masa-masa musik akustik dulu (kayaknya jadi mau cari lagu-lagu dia lagi deh).

There are places I’ll remember All my life
though some have changed
Some forever not
Some have gone and some remain

All these places had their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I’ve loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more

In My Life punya lirik yang sesuai dengan ide tulisan dari mbak Sri Andani.  Blogger yang sangat cinta satwa ini mengusulkan tulisan mengenai pengalaman dan perasaanku yang sering berpindah  mengikuti orang tua. Orang tuaku beberapa    kali ditugaskan ke daerah mulai dari Sumatera sampai Papua.  Ini hal yang lazim, teman-temanku juga akhirnya sering berganti. Rumah yang pernah  ditempati cukup banyak, semuanya rumah dinas, bangunan baru atau  lebih sering tinggal di bangunan  lama peninggalan Belanda. Perusahaan menyediakan fasilitas yang sangat lengkap, rumah seiisinya,   juga sekolah, perpustakaan umum, olahraga dan bioskop, bahkan sesekali ada artis ibukota yang manggung di kompleks.

Kalau ditanya bagaimana rasanya selalu berpindah, seingatku hatiku ringan saja ya. Tak ada rasa terlalu berat meninggalkan lingkungan dan teman-teman,  sepertinya kita semua sudah siap sekali. Kami pindah  setiap 3 tahun sih.. wk..wk.., jadi ijazah sekolahku semua dari kota  berbeda. Makanya jangan suruh legalisir ijazah SD , aku harus kembali ke Sorong, tiketnya mahal kan. Karena sering berganti teman aku tak punya sahabat yang terlalu karib sampai bisa curhat-curhatan segala rupa, tetapi masih bisa  bergaul normal. Awal  masuk di kelas baru  masih banyak diam, biasalah cek cek ombak dulu, apalagi ada perbedaan bahasa. Tentang beda bahasa pergaulan ini pernah kuceritakan di So Lama Tara Bakudapa.  Tetapi walau tak curhatan  sampai kini masih berhubungan akrab dengan teman-teman SMP dari Balikpapan, sering bertemu dan berencana libur bareng.

Kota-kota masa kecilku ada yang sudah pernah didatangi yaitu ke Plaju dan Balikpapan. Cuma bisa numpang berfoto di halaman rumah itu,  tak dibukakan pintu sama yang punya, kasihan kan…serasa kita sales mesin cuci… Ke Balikpapan waktu itu dalam rangka reuni. Nah, temanku  di sana pindah rumah sampai 3 kali, tapi dia  berhasil masuk ke semua rumah lamanya.  Beruntung ya, walaupun jadi pengalaman mengharu biru mengenang almarhum orang tuanya.

Ya, aku tak merasa berat  mengenang rumah-rumah itu, tapi pengalaman berkesan masa kecil ada di sana. Di masa kecil aku tak bisa diam dan banyak main di luar rumah.  Aku masih ingat sudut-sudut rumah, teras tempat belajar sepatu roda,  jurang tempat main perosotan kardus, bertanam dan panen kacang tanah dan singkong,  kebun tampat bermain di bawah pohon bambu, cari jambu mede dan bermain getah karet. Aku bahkan masih ingat rumah masa balita di Kuala Simpang,  Aceh. Di rumah berkolong itu ada ayunan digantungkan di batang pohon roda. Ketika sedang asyik bermain tiba-tiba aku diseruduk monyet yang datang entah dari mana, jadilah jejeritan nangis kencang. Atau juga main tarzan-tarzanan dan terjatuh di kolam itik, wk..wk…

Ya…, di masa lalu memang banyak tempat dan orang yang pernah kita akrabi, tetapi semuanya hanyalah kenangan,  jangan terpaku  pada kenangan masa lalu, yang terpenting  hiduplah untuk masa kini.

Reuni Semburat Ungu

Cake by Susan, Photo By Luthfie Cake by Susan, Photo By Luthfie

Semburat gradasi ungu mewarnai malam itu. Yang punya warna favorit ungu kurasa akan sangat suka bergabung. Aneka warna ungu cantik itu ada pada T-shirt yang kami pakai, kerudung sebagian pesertanya, sampai dengan kue reuni/ultah.

Ungu memang melambangkan warna fakultas kami. Fakultas apa? Dekorasi kue di atas sudah jelas menggambarkannya kan?

30 tahun lalu kami semua masuk sebagai mahasiswa baru di fakultas yang sering dijuluki fakultas kelebihan gadis, karena mahasiswanya cuma 10 persen dari mahasiswi. Tapi ternyata biar hanya sedikit 6 dari 15 cowok itu bertemu jodohnya rekan mahasiswi satu angkatan.

Di masa perpeloncoan mahasiswa barulah kami harus beratribut ungu. Teringat susah payahnya mencari kaus kaki dan T-shirt ungu yang harus berasal dari kaus oblong putih yang diwantek, celana putih bergaris ungu, pita rambut ungu. Untuk sepatu aku lupa apa tetap kanvas putih atau berwrna ungu juga. Kami ke pasar dan warung kakj lima cari wantek tak ada wantek ungu, akhirnya setelah hampir menyerah baru sadar warna ungu bisa didapat dari campuran warna merah dan biru. Aku dan teman-teman dari luar daerah saat itu saling tolong menolong, karena semua jauh dari orang tua yang bisa ikut membantu cari perlengkapan mapram. Masa perploncoan yang merepotkan tapi kini manis juga dikenang he..he..

Beberapa teman memang pernah beberapa kali bertemu di seminar-seminar, tetapi sebagian besar inilah saat pertama berjumpa lagi setelah puluhan tahun, umumnya teman yang dari luar kota, atau yang berprofesi bukan di bidang ilmu semula. Banyak juga yang ingat wajah tetapi lupa nama.

Yang namanya reuni di mana-mana pasti heboh ya. Nggak bisa lihat kamera nganggur, semua gubrak rebutan berfoto. Tapi umur tak bisa dibohongi, tak sanggup lagi foto dengan posisi jongkok ha..ha… Nggak sabar pengen ketemu teman lain yang kali ini berhalangan hadir, semoga rencana reuni berikutnya bisa terjadi.

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah, zakat diri yang sifatnya wajib untuk setiap muslim atau muslimah sesuai syarat yang ada. Zakat ini wajib untuk diri seorang muslim, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya. Penerima zakat ada 8 golongan, tetapi para ulama mengatakan baiknya didahulukan fakir miskin, Zakat Fitrah hanya dikeluarkan pada bulan Ramadhan, waktunya sebelum shalat Ied. Jika lewat dari batas ini sudah masuk kategori sedekah, bukan zakat fitrah lagi.

Besar zakat yang dikeluarkan senilai dengan 3,5 liter atau 2,7 kg bahan makanan pokok yang biasa dimakan. Zakat bisa diganti dengan uang, yang seperti ini biasanya yang kami lakukan di masjid sekitar rumah.

Bayar zakat fitrah di masjid Al Makmur Cikini jadi pengalaman yang berbeda buat si Oom abang alias si papa. Meskipun bayar dengan uang tetapi beras sudah disediakan.

Selesai shalat Jumat, pengurus masjid tua ini mengumumkan sudah bisa menerima zakat fitrah dari para jamaah. Biasanya kami membayar zakat dengan uang seharga beras yang kami makan di rumah, belum pernah membayar dengan berasnya langsung. Di madjid cagar budaya Al Makmur Cikini ini panitia sudah menyediakan beras dalam karung, yang akan dibagikan kepada 500 orang yang sudah terdaftar. Ada dua macam beras dengan harga berbeda. Jamaah yang hendak membayar dipersilahkan membuka beras dari karungnya dan melihat kondisi fisiknya sehingga bisa memilih beras yang sesuai dengan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Kata si papa berasnya bagus sekali dan bersih dengan harga Rp 24.000 dan Rp 32.000 per liter.

 

 

 

Daripada lupa lebih baik begitu ada kesempatan ditunaikan saja kewajiban. Beras diukur sendiri dengan memakai kaleng berukuran 1 liter dan setengah liter lalu ditampung di sebuah baskom besar. Kami berempat berarti zakat fitrah kami 14 liter. Kemudian syarat penerimaan zakat kan ada ijab kabul atau serah terima, nah ijab kabul itu diucapkan sambil bersalaman . Tangan pemberi zakat dan pengurus yang bersalaman itu tenggelam di dalam beras. Kata si papa bayar cara bayar zakat kali ini yang langsung bayar dengan beras kayaknya jadi lebih terasa kesan bayar zakatnya daripada dengan uang saja.

Taqoballahu minna wa minkum, wa siyamana wa siyamakum
Selamat Hari Raya Iedul Fitri, mohon maaf lahir batin