5 Hal yang Dilakukan Agar Tak Bosan Menunggu di Sekolah Anak

Aku sengaja ambil cuti beberapa hari ini, khusus untuk masa pelaksanaan ujian nasional, tentu untuk membesarkan hati si kakak sekalian antar jemput juga. Maklumlah, takut terlambat karena anak-anak kelas 12 sudah harus berkumpul di sekolah jam setengah tujuh pagi. Ujian dimulai satu jam berikutnya. Guru pernah cerita, dari tahun ke tahun selalu ada saja siswa datang terlambat di hari ujian. Itulah untuk antisipasi agar semua siswa bisa ikut ujian para guru piket berkeliling sekitar sekolah mencari murid. Ada saja murid yang rupanya masih berkumpul di rumah salah satu anak, malah pernah kejadian anak masih tidur di rumah ck..ck..ck…

Setelah anak-anak diturunkan aku tetap bertahan di sekolah, menunggu saja sampai selesai ujian, menunggu pun cuma beberapa jam ini daripada lelah bolak-balik di jalan.

Jadi supaya tak bosan menunggu selama itu ada beberapa hal bisa yang kulakukan :

1. Sarapan. Karena harus berangkat pagi, kutak katik sana sini, yang penting anak sudah sarapan dan langsung berangkat, barulah setelah leluasa mama ambil kesempatan untuk makan pagi.

2. Baca koran. Baca koran pagi sambil duduk di kursi bekas akar dan batang pohon di halaman sekolah. Berita yang dibaca cuma berita tertentu saja, karena banyak juga brita koran terkadang judulnya saja yang lebay… isi tak ada.

3. Blogging. Bosan baca koran bisa blogging yaitu buat draft, balas komen atau blogwalking. Cuma bw belakangan ini agak terhambat.., lebih sering hanya baca saja, aku lagi nggak mood meninggalkan komentar, maaf ya. Terkadang saat ingin sekali kasih komen terkendala di hpku ini susah kasih komen untuk blogspot, harus dari pc.. nah pegang pc atau lappy pun sedang jarang.

4.Menghafal. Di sekolah banyak sekali pohon tinggi rindang yang ditempeli label namanya. Jadi sambil duduk di bangku menikmati angin semilir bisa menghafal nama latin pepohonan he…he…he…ya iyalah namanya juga sekolahan, semua bisa dijadikan sarana belajar. Di halaman sekolah yang luas ini ada pohon jambu bol ( Syzygium malaccensis), jambu air (Syzigium aqueum), jambu klutuk, mangga, beringin (Ficus benjamina), Ficus elastica, trembesi, ketapang, glodogan, petai (Parkia speciosa) cemara, kluwih, rambutan, jeruk dan lain-lain pohon lagi yang tak ada papan namanya.

5. Foto-foto
Semua jenis pohon di atas itu jumlahnya lebih dari satu. Jadi terbayang kan ademnya. Maka itu jadi ada aneka jenis kupu-kupu dan burung beterbangan, kadal yang lincah (nggak bisa terkejar he..he…), juga pohon-pohon yang sedang berbuah.

Jadilah tak terasa kejenuhan menunggu. Setelah si kakak selesai ujian sekalian saja menunggu adek pulang. Sambil menunggu bisa ngobrol berdua.

20130416-014202 PM.jpg

Help Me If You Can

Help me if you can I’m feeling down
and I do appreciate you’re being round

Gara-gara tadi pengamen di bis memainkan hampir sepuluh lagu dari The Beatles, aku jadi kangen dengar lagu-lagu dari kelompok asal Liverpool ini. Pengamennya jago juga lho, hafal betul syair-syairnya, makanya buat nostalgia pengen dengar lagi lagu dari John Mc Cartney, John Lennon, George Harrison dan Ringo Starr.

Dimulai dari “Help”, …jadi judul bukan berari menggalau ya…..he..he…

Sepanjang si pengamen menyanyi aku ikut bersenandung lirih, takut kedengaran penumpang lain. Dulu, adikku punya koleksi legkap semua kaset The Beatles. Aku cuma ikut dengar he..he..dan numpang bersenandung.

Mencari Sahabat Lama

Mbak  Dani memberi kesempatan padaku untuk mengingat kembali sahabat dari masa lalu yang ingin ditemui. Tugas berantai ini ada persyaratannya

1. Tulisan harus berjudul “Mencari Sahabat Lama”.

2. Tulisan bertujuan untuk mencari sahabat lama.

3. Menuliskan 8 sahabat lama yang sedang atau ingin dicari.

4. Sertakan deskripsi sederhana tentang sahabat yang dicari.

5. Tuliskan 8 aturan ini di awal tulisan.

6. Tunjuk 8 teman blog  untuk direkomendasikan menuliskan posting serupa.

7. Teman yang direkomendasikan boleh menuliskan posting serupa atau tidak menuliskannya.

8. Tulisan tidak boleh bertujuan untuk mendapatkan backlink

Kebanyakan teman-teman masa lalu itu sudah berhasil kutemukan, berkat Facebook dan milis, bahkan sudah seringkali bertemu atau reuni.  Teman-teman kuliah masih sering juga bertemu di seminar. Tapi, memang ada kelompok mainku di SD yang belum bisa terlacak. Tak sampai 8 orang, hanya kuceritakan teman kelompok belajar saja ya… Teman sekelasku waktu itu ada yang berhasil kutemukan, tetapi dia juga tak tahu info teman lainnya.

Kelas 5 dan 6 SD di Sorong dulu, aku punya teman akrab,  yang selalu jemput-jemputan kalau mau ke acara tertentu di sekolah , atau pun untuk belajar bersama. Sudah mencoba cari nama mereka di FB, tak dapat.

Rumah kami sebetulnya cukup berjauhan, tetapi selalu berjalan kaki ke mana-mana. Jaman tahun 70an itu, rasanya asyik saja jalan kaki, mungkin karena bisa sambil bercerita sehingga tak terasa lelahnya.

Rumahku dulu sekompleks dengan Netty Pattirajawane, hanya selisih tiga rumah,  kami berdua yang terakhir disamper. Martha Mairuhu yang rumahnya di kompleks lain, di Klademak kalau tak salah ingat, paling jauh lokasinya dari sekolah, menjemput Nelce  (maaf, fam  atau nama keluarganya aku lupa). Mereka berdua menanjak bukit menjemputku yang sudah menanti di rumah Netty.  Kami berempat kemudian menuruni bukit dan potong kompas lewat jalan pintas yang sepi. Dipikir-pikir kok kami berani ya, karena jarang sekali kendaraan atau orang lain lewat di situ, jalannya agak menembus hutan sih. Kalau dibawa ke diriku sekarang, tak akan kuijinkan anak-anak lewat tempat itu. Untung saja waktu itu tak pernah ada sesuatu yang terjadi. Terakhir baru memanggil Flori Sompi yang rumah omanya di dekat sekolah, di Kampung Baru.

 Acara belajar bersama tentu bergantian di rumah kami berlima, jadi tak melulu Martha yang menjemput kami. Terkadang ditambah juga  dengan main ke rumah teman lain seperti Sri Rejeki, Mitayani, atau ke rumah Valentina  Sasiang  atau Paula Ie. Ketika kelas 6 murid perempuan di kelasku itu hanya sedikit,  jumlahnya sudah lupa,  selalu akrab, tak pernah bertengkar atau bermusuhan, pokoknya selalu riang gembira. Sifat spesifik teman-teman rasanya  sudah tak begitu ingat,  maklum sudah puluhan tahun berlalu. Semoga saja ya teman-teman ini bisa melacak ke sini dan menjalin komunikasi lagi.

Dari Ra mendapatkan award cantik dengan tugas menceritakan tentang diriku, tetapi 11 point  kisah diriku sudah pernah diceritakan beberapa kali, jadi tak diulang lagi ya. Terima kasih peernya  mbak Dani dan Ra. Tugas ini tak kuteruskan lagi ya, rasanya teman-teman sudah banyak yang mengerjakan, diriku yang terlambat nih.

Malam Jumat Kliwon

“Ibu  … kursi ibu itu kalau malam Jumat  Kliwon  mutar sendiri ya …?”

Itu pertanyaan seorang pasien kecil kepadaku.   Anak laki-laki berumur 5 tahun ini memang banyak omong,  apalagi dia sudah sering datang dan selalu ada saja yang diceritakan. Kursi yang dimaksud ada di  ruang kerjaku.

Tentu saja, ini mengagetkan,membuatku terperangah.  Anak sekecil itu yang masih bau kencur  sudah tahu mengenai hal-hal yang biasa muncul di film horor nasional. Film yang bahkan belum pernah kutonton. Kutanyakan pada ibunya,  si ibu justru turut mendampingi nonton, dibiarkan sampai si anak tertidur. Bahkan itu jadi cara untuk membujuk sang anak tidur. Dia dengan bangganya cerita si anak tidak takut dengan segala jenis hantu-hantuan di film.

Itu sekarang, tetapi   efek jangka panjangnya  bisa saja berbeda.   Bagaimana menurut anda teman ?

Jadi geleng-geleng kepala, kok ya dibiarkan nonton film sejenis itu sih…

Akan Jadi Buyut ?

Pengumuman…..pengumuman ….karena  cucuku sudah menikah….sebentar lagi aku akan jadi nenek buyut he..he..he.. Tak percaya ?

Ya, betul, kemarin kami sekeluarga menghadiri pernikahan cucuku. Tentu saja ini bukan cucu langsung, karena anak-anakku masih remaja dan belum ada yang menikah. Cucuku ini adalah cucu menurut tutur atau silsilah, bisa juga disebut cucu keponakan. Jadi yang bersaudara kandung sebetulnya adalah 3 generasi di atasku. Makanya karena adat istiadat, sejak remaja aku sudah menjadi opung, dan supaya kesannya tidak terlalu “tua” sebutannya dirubah sendiri oleh keponakanku jadi oop, he..he…. Nah, kalau sang cucu ini punya anak, apakah aku akan jadi nenek buyut ……?  Semakin tua saja ya diriku ini. Baca lebih lanjut