Red and White Flower, Cara Mudah Belajar Biologi

Di hari terkahir di Bukittinggi Januari lalu, aku ikut dengan Inon mudik ke kampung neneknya. Kampung umak (panggilan buat nenek) itu sedikit di luar kota Bukittinggi, ke arah Danau Maninjau yang elok. Kampung umak juga sama cantiknya, khas pedesaan di dataran tinggi. Kampung yang menguning karena padi hampir panen, juga kehijaun tanaman dan bunga-bunga lainnya sungguh memikat mata.

Saat Inon mengaji dan berdoa  di kamar almarhumah umak, aku berkeliling kampung dengan adik sepupunya Inon, Halim, yang berperan jadi pemandu dan fotografer. Tak jauh dari rumah umak, aku lihat bunga dahlia yang sangat unik. Satu kuntum bunga bisa dua warna. Aku langsung teringat si bungsu yang beberapa waktu lalu  belajar perkawinan silang tanaman.

Seperti juga mbak  Dani yang melihat kembang sepatunya berubah bentuk lalu mengajak anak untuk belajar biologi langsung di alam, akupun   melakukan yang sama.   Karena ananda tak ikut ke Bukittinggi aku mau menunjukkan foto ini kepadanya. Dan komentarnya  setelah melihat foto “ternyata beneran ya  perkawinan silang, oh begini ya hasilnya”.  Akhirnya adek lebih paham apa itu sifat dominan dan resesif seperti yang dijelaskan oleh Hukum Mendell, juga fenotip, genotip, alel dan  filial.  Cara mudah belajar Biologi dengan melihat langsung buktinya di alam nyata.

IMG_6598

Bunga-bunga  dahlia ini  berasal dari  satu pohon, tapi berbeda-beda penampilan bunganya. Ada bunga  yang helaian kelopaknya putih polos, putih dan merah, merah polos, dan putih bersemu merah muda. Subhanallah. Inilah hasilnya jika bunga merah disilangkan dengan bunga putih

IMG_6670

IMG_6672

IMG_6669

 

Akibat Sumawur ing Jagad

“Saya harus mengawali dengan pengakuan upaya penyebaran ‘virus’ ala kebun yaitu gerakan cinta amatan flora di sekitar keseharian”, itu kata mbak Prih di sini yang oleh beberapa teman diberi julukan “peri kebun”, tetapi beliau lebih sering mengaku sebagai tukang kebun. Kejutan buatku ketika menerima paket berisi dua buah buku. Salah satunya “Pesona Gerbera Tiga Warna” berisi kumpulan tulisan beliau di blog Rynari. Senangnya mendapat buku mempesona ini.

20140105-055644.jpg

Kukenal beliau pertama kali dari daftar peserta kontes Mainan Bocah di Surau Inyiak beberapa tahun lalu. Waktu itu postingnya masih sedikit, walau begitu ketika membongkar isi blognya aku langsung suka dengan kontennya yang menunjukkan ilmu yang banyak tentang tanaman dan lingkungan. Cara penyampaian tulisan ala beliau ini khas dan tak biasa, ada perlambang, dihubungkan dengan kecintaan yang kental terhadap budaya Jawa dan disisipi bahasa Jawa halus semakin membuat tulisannya berisi.

Pengaruh tulisan mbak Prih semakin merasukiku mengamati flora di sekitar apalagi ketika beliau menceritakan fungsi paitan, bunga pinggir jalan cantik yang mirip bunga matahari (Tithonia diversifolia) alias Mexican sunflower. Aku jadi tahu wangi harum terkesan manis berasal dari mahoni, dan aku juga jadi penasaran dengan bunga pohon glodogan tiang karena artikel sumawur ing jagad.

Tulisan itu membawaku mencari wujud bunga glodogan tiang (Polythea longifolia) yang sudah lama menarik perhatian. Pohon yang banyak ditanam di pinggir jalan berfungsi sebagai peneduh dan penyerap polusi ini bentuknya khas, tinggi menjulang tanpa banyak percabangan dan berdaun rimbun. Sosoknya itu mirip pinus. Ketika belum tahu namanya kusebut saja dengan nama pohon Monas..#maksa. Kerimbunan daun itu menyembunyikan bunganya dan tak pernah terlihat olehku. Aku jadi khusus mencari-cari, selalu melongok ke atas, dan bisa tampak bunganya. Warna bunganya yang hijau pucat, dan mini bentuknya (sekilas mirip bunga kenanga) itu memang membuatnya tersembunyi. Bunga itu terlihat di pohon glodogan di depan Puskesmas. Perlu bantuan seorang teman untuk menarik rantingnya agar aku bisa membuat fotonya dengan kamera hp <:D

bunga pohon glodogan

bunga glodogan