Mesin Jahit Dalam Genggaman

Lagi-lagi ada barang unik yang dijajakan di dalam bis kota. Setelah pernah kutuliskan sebelumnya tentang alat untuk memasukkan benang jarum, kali ini alat untuk menjahit.

Alat ini bentuk dan besarnya seperti stapler. Ada jarumnya dan ada tempat benangnya.

Cara memakai seperti diperagakan abang penjualnya hanya dengan meletakkan kain di bagian tengah, kemudian menekan alat. Maka akan terlihat kain sudah terjahit. Praktis untuk menjahit ulang jahitan yang terlepas.

Si abang menjualnya seharga Rp 10.000,- per buah.

20120202-111554.jpg

Jerigen BBM

Dua hari lalu sepulang kerja seperti biasa aku naik angkutan umum, aku duduk di bangku paling depan di dekat supir. Angkutan umum ini di Jakarta disebut mikrolet, berupa mobil minibus yang dimodifikasi.

Mikrolet memasuki SPBU untuk mengisi bahan bakarnya. Pak supir tidak turun dari mikrolet, tetapi dia menunduk dan meraih ke bawah dashboard. Di situ ada sebuah jerigen plastik besar. Dia memesan 10 liter dan petugas pompa bensin menyerahkan selangnya dan di jerigen itulah BBM dimasukkan oleh pak  supir. Jerigen itu ternyata terhubung dengan sebuah selang hitam kecil. Ada masalah apa dengan tangki BBM di mobil itu?

Aku langsung  bergidik, bagaimana kalau ada penumpang atau bahkan supirnya sendiri merokok, lalu api rokok memercik ke situ? Mengerikan, lain kali harus lebih hati-hati  memilih angkot, mungkin harus lihat juga ke bagian depan karena ternyata jerigennya juga bisa terlihat dari luar, aku yang salah tidak melihat dengan baik.

Jalan-jalan Berdua

Gara-gara si neng Orin geulis tea  buat kontes sweet memories  untuk perayaan ultah perkawinan pertama, jadilah tulisan ini. Tiap  peserta harus menampilkan foto kenangan favoritnya. Syaratnya susah-susah gampang, harus menampilkan foto pribadi. Bingung juga,  padahal foto-foto lama kan masih terlihat rambut mayang terurai  itu, malu ah. Kuminta syarat nggak usah ada mahluknya, nggak boleh kata si Orin dengan melotot, sudah ketentuan panitia, tak boleh diganggu gugat.

Jadi, setelah dipilah dipilih ini foto yang merupakan kenangan manis bagiku.

Foto di Den Hag,  Belanda tahun 2002  ini adalah kenang-kenangan pertama kali ke luar negeri dan hadiah ulang tahun termanis untukku, karena berangkat tak lama setelah hari kelahiranku itu.

Ceritanya begini nih….

Dahulu karena banyak membaca kisah tempat-tempat indah dan terkenal di seluruh dunia,  timbul keiinginan di hati gadis kecil ini untuk melihat langsung kota-kota terkenal  tersebut. Apalagi ketika itu almarhum papaku sering dikirim kantornya untuk tugas belajar ke berbagai negara. Tambah ngiler melihat kartu pos yang dikirim papa dari  tempat belajarnya dan tumpukan kartu pos cantik oleh-oleh dari beliau yang kukoleksi. Sempat hafal nama  tempat-tempat bersejarah di berbagai kota  dunia itu.

Pernah terucap permintaanku pada almarhum :  “Pa, kok anaknya tak pernah jalan-jalan ke luar negeri, sekali-kali ajak dong”

“Nanti cari sendiri ya inang, Papa juga baru bisa ke luar negeri setelah bekerja” .  Papa memang melimpahi keluarganya dengan kasih sayang, tak pernah dengan materi  berlebihan,  malah beliau banyak mengajarkan hidup menabung dan berhemat untuk masa depan.


Tetapi kenyataannya, belum pernah aku melancong ke luar negri karena pekerjaanku, ( mau yang gratisan aja). Justru perjalanan pertama ini hasil kerja keras suami. Di  kantornya ketika itu dibuat tantangan untuk mencapai target tertentu. Bagi team yang berhasil hadiahnya adalah perjalanan ke Belanda, dengan membawa pasangan, bagi yang sudah menikah. Alhamdulillah, terima kasih sayangku …….. (meskipun anak-anak terpaksa ditinggal dengan Opungnya di rumah).

Meskipun di sana kami berjalan dengan tour guide yang membawa kami ke tempat-tempat khas negara Kincir Angin, tapi yang paling mengesankan adalah hari bebas tanpa panduan.  Peserta tour boleh jalan sendiri, maka pilihan kami adalah berkeliling Amsterdam dengan trem dan obyek wisata yang didatangi sudah pasti tahu kan…? Ya, museum tak boleh dilewatkan. Kami pergi ke Rijks Museum, museum nasional yang juga banyak menyimpan benda-benda dari Indonesia.

Foto yang kupilihpun sengaja  foto di depan angkutan umum di sana, karena aku sangat terkesan merasakan pengalaman   nyamannya  dan ketepatan waktu berkeliling kota dengan trem, bahkan sampai ke menit. Pendatang tak takut tersasar karena tersedia peta  di tiap halte dan di dalam trem.  Sebagai pengguna angkutan umum  seperti itulah harapanku agar bisa mengulang kenikmatan yang sama di negara sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan di 1st Giveaway : The  Sweetest Memories neng Orin.

Buat Orin dan AAnya semoga langgeng dan bahagia dan cepat meperoleh yang diinginkan.

Lagi-lagi Angkutan Umum

Kemarin sore Jakarta macet lagi melebihi hari biasa yang memang sudah terkenal macet. Kali ini selain menjelang hari libur, kemacetan terjadi karena ada sebuah  gedung terbakar di jalan utama.   Macet panjang tak dapat dielakkan lagi.

Tak jauh dari terminal, bis tiba-tiba saja berbalik arah untuk menghindari kemacetan sehingga tidak melalui jalur yang seharusnya, padahal penumpang masih sedikit. Aduh, apa jadinya jika tadi aku menunggu di tempat biasa pastilah aku akan lama  menunggu bis yang tak kunjung muncul.  Karena melihat kepadatan lalu lintas  aku memang berjalan ke arah terminal,. Sudah menjadi rahasia umum di tengah kemacetan  supir bis suka mencari alternatif sendiri. Beberapa kali kejadian seperti ini pernah  kualami, kadang-kadang malah polisi yang menyuruh  menghindari jalur bis, seperti di cerita ini, Metromini Nyasar.

Kondektur menarik ongkos dengan harga dinaikkan seribu rupiah, alasannya bila tertangkap yang berwajib  karena berada tidak di jalurnya, mereka mempunyai  kelebihan untuk  salaman. Padahal menurutku itu disengaja karena  jumlah penumpang masih sedikit, dan tarikan  lebih besar dari tarif resmi dimaksudkan untuk menutup  supaya mereka tidak terlalu tekor bayar setoran.

Kemacetan sering terjadi di hari Jumat sore atau bila esok adalah hari libur, mungkin dikarenakan banyak orang yang ingin pulang cepat dan pergi ke luar kota. Hari  lain lagi yaitu Senin pagi, kita harus berangkat jauh lebih pagi bila tak ingin terlambat tiba di kantor.

Kebalikannya pada hari Selasa adalah hari yang cukup sepi. Pernah kudengar obrolan sesama supir angkot yang berpapasan …  :

“Udah berapa rit lu… banyak sewa? “.

Jawaban temannya  : ” Gimana banyak ..? Semua orang  juga  tau dari jaman nenek moyang Selasa itu sepi”.:P

Cerita ini bukan keluh kesah ya teman, sekedar berbagi pengalaman, karena apapun yang dihadapi sehari-hari adalah romantikanya orang hidup, he..he..he..

Berita Kehilangan

Pernah kehilangan barang karena diambil orang lain? Aku mengalaminya dua  kali, kehilangan dompet dan hp.

Suatu hari aku ijin keluar siang mau ke bank memperbaharui buku. Setibanya di halte busway kubuka tasku untuk mengambil dompet.  Tak ada. Kuulangi sekali lagi, tak ada juga. Dengan perasaan mulai panik, akupun menyingkir dari depan loket karcis, pelan-pelan mencari sekali lagi. Betul, sudah tak ada.

Kutelpon ke OB puskesmas untuk mencari dompet tersebut di ruanganku, mungkin jatuh di bawah meja. Tak ada juga. Aduh, jangan-jangan sudah diambil orang.

“Udin,  dompet saya diambil orang, coba lihat di dalam tempat sampah, mungkin dompetnya dibuang ke sana. ”

Tak sabar menunggu Udin mencari, aku kembali. Masih ada uang beberapa ribu rupiah di kantong baju, cukup untuk naik angkot kembali ke kantor. Kembali kucari-cari di seluruh ruangan namun tak berhasil menemukan.

“Mbak, pakai uangku saja dulu”

Akhirnya kupinjam uang dari temanku dan menuju ke kantor cabang bank penerbit buku tabunganku untuk mengambil uang di sana, karena untuk kembali menuju kantor pusat tak cukup waktu, jam kerja bank sudah hampir habis.

“Ibu, bawa KTP asli dan fotokopinya?” tanya teller.

“Tak ada mbak, saya baru saja kecopetan. Dompet hilang. Semua tanda pengenal ada di sana.  Bisa  pakai kartu pengenal Dinas saja?”

“Sebetulnya, tak bisa bu, tapi saya akan tanyakan ke atasan saya”

Intinya tak bisa mengambil uang di bank cabang tanpa  fotokopi KTP  atau SIM meskipun membawa buku tabungan. Sistem yang sangat menyulitkan.

Mau menangis, punya uang tapi tak bisa diambil, rasanya menjadi orang paling miskin sedunia, hanya punya selembar uang kertas limapuluh ribuan, itupun pinjaman. Mungkin begini rasanya menjadi orang tak berpunya ya.

Keesokan harinya di jam  istirahat  kuurus surat laporan kehilangan ke kantor polisi yang terdekat dari kantor pusat bank sebagai persyaratan untuk mengganti kartu ATM. Ketika sedang mengantri di CSO bank, seorang temanku menelpon. Dia mengabarkan ada orang yang menemukan dompetku, dan meninggalkan nomor hpnya.

Dengan ditemani salah seorang pegawai puskesmas  pria karena aku takut akan ada sesuatu tak diharapkan, kami datangi tempat yang disebutkan dan bertemu dengan petugas satpam sebuah kantor, yang ternyata tak jauh dari tempatku bertugas. Penemunya adalah pemilik warung di depan kantor itu yang menemukannya di balik kursi mikrolet. Pak satpam menelpob semua nama  yang ada di dompet itu sampai akhirnya menemukan kartu nama temanku dalam dompet. Kesimpulannya dompet hilang di puskesmas, dari dalam lemari di ruanganku.

Kuperiksa sekali lagi di setiap lipatan dompet, KTP ada, SIM ada, ATM ada, kartu-kartu nama toko ada   (perempuan banget deh 😳 ), bahkan masih  kutemukan uang di selipan dompet Uang itu adalah sisa uang jajan si sulung yang akan disetor ke tabungan. Dasar pencopet tak teliti. 😛

Kehilangan hp terjadi di angkutan umum. Setelah mengabarkan ke suami kalau aku sudah dekat dengan tempat janji berjumpa, kumasukkan hp ke dalam tas dan segera turun dari metro mini.   Tak ada 5 menit. Perasaanku sudah tak enak. Kurogoh tas, hp sudah hilang, tak terasa sama sekali  ada orang yang membuka tasku dan mengambilnya.