Lagi, Kereta Uap

Foto-foto lokomotif  uap B 2503 yang dibuang sayang (padahal belum punya ide posting lagi he..he…  foto-foto yang diambil sambil lari sana lari sini, serasa  jadi wartawan …)

Ini lokomotif  yang posisi semula dari Ambarawa(474 m dpl)    berada di bagian depan menarik 2 gerbong, di stasiun Jambu berganti posisi pindah ke belakang  rangkaian gerbong agar bisa mendorong untuk mendaki ke Bedono (711 m dpl). Cerita lengkapnya di sini.

 

Lokomotif berjalan mendekati bagian belakang gerbong ke dua

 

 

Saat-saat penyatuan lokomotif  dengan gerbong kedua

 

Pengait  pada bagian depan lokomotif menyatu dengan kaitan di bagian belakang  gerbong kedua.

 

Detail sambungan lokomotif dengan gerbong dua

 

Cerobong asap Lokomotif B 2503

 

Spesifikasi lokomotif B2503, loko buatan tahun 1902 produksi dari Emil Kessler, Jerman

 

Rumitnya sistem roda lokomotif

 

Bantalan rel kereta di Bedono, kabarnya belum pernah diganti

 

Masinis di “dapur”nya, bayangkan betapa panasnya di situ dengan asap yang mengepul dari hasil pembakaran kayu yang bertumpuk-tumpuk agar lokomotif bisa berjalan

 

 

 

Perjalanan Nostalgia Ambarawa – Bedono

Seminggu  lalu kami  menerima undangan pernikahan di Semarang. Karena bertepatam dengan libur sekolah maka kami memutuskan berangkat sekeluarga menghabiskan sebagian liburan di sana.  Kami hanya sebentar   karena waktu libur sekolah kakak dan adek berbeda.  Kakak sudah harus masuk tanggal 3.

Orang rumahku  dan paman dari pengantin wanita, mas B, adalah teman kuliah di daerah dulu.  Suami sudah mengenal seluruh keluarga inti mas B, karena dulu rumahnya  selalu jadi tempat berkumpul. Kami bermobil beriringan dengan adik mas B sebagai penunjuk jalan. Tiba di  Semarang malam hari dan esoknya tepat di hari Natal, sehari sebelum resepsi pernikahan, rombongan kami sebanyak 17 orang melanjutkan perjalanan ke Ambarawa, jaraknya 35 km dan dapat ditempuh dalam waktu 1 jam.

Tujuan ke Ambarawa apalagi kalau bukan mengunjungi Museum Kereta Api dan  naik kereta api uap kuno. Acara ini sudah lama kami sekeluarga idamkan. Alhamdulillah, dalam kesempatan pertama berkunjung ke Semarang bisa langsung menikmati wisata sejarah ini.

Tiket sudah dipesan sebelumnya.  Peminat wisata ini cukup banyak, bahkan banyak yang hendak beli tiket di tempat harus kecewa  karena tiket habis,  kapasitas 2 gerbong hanya untuk 100 orang.

Kereta uap ini hanya dijalankan sekali sehari selama musim libur sekolah dan libur hari raya.  Liburan tahun ini masih terbuka kesempatan sampai tanggal 12 Januari 2011.  Jika ingin berkunjung  bisa pesan saja tiketnya  di Museum Kereta Api Ambarawa 0298-591035.  Di luar waktu itu harus menyewa  khusus  dengan biaya cukup mahal sekitar 5 jutaan rupiah. Penyewa cukup banyak lho, menurut situs museum  jumlahnya bisa sampai 16 kali sebulan.  Bila tidak mendapat tiket naik loko uap  bisa mencoba  lori wisata yang  berjalan sejauh 5 km  dengan tiket yang lebih murah Rp 10.000 per orang.

Sambil menunggu perjalanan dimulai  jam 12 siang,  pengunjung bisa memasuki museum  yang menyimpan peralatan perkereta-apian kuno  seperti jam stasiun, telepon, mesin karcis, timbangan dll  berikut lokomotif tua.  Ada 21 koleksi lokomotif  di sini  produksi tahun 1891 sampai 1928 yang dipajang di ruang terbuka di halaman museum. Rusak nggak ya loko2 tua itu bila kena hujan dan panas terus menerus ? Salah satu loko uap koleksi museum ini sudah dipindahkan ke Solo.

Museum ini dahulu adalah stasiun yang bernama Willem I. Mau tahu sejarahnya?  Monggo kuajak ke TVnya mbak  Tuti Nonka saja yang lebih dulu berkunjung ke sana  ya (penjelasannya mbak Tuti lebih enak dibaca lho, he..he.. ngeles.. padahal males….).

Yah, daripada dapat predikat malas, kutulis lagi ah (jadi ingat resolusi tahun baru, tidak boleh malas cari referensi).

Dahulu Ambarawa adalah daerah militer, sehingga raja Willem I dari Belanda berkeinginan membangun  stasiun untuk memudahkan transportasi pasukan ke Semarang. Maka pada 21 Mei 1873 dibangun Stasiun Ambarawa dengan luas tanah 127.500 m2. Itulah sebabnya nama stasiun ini mengambil nama sang raja.  Tahun 1976 jalur kereta api ini ditutup, dan sejak saat itu stasiun tua ini dipergunakan sebagai Museum Kereta Api. Menurut team touring.net, museum ini satu-satunya di dunia yang memadukan museum dengan lokomotif yang masih bisa berjalan mendaki gunung.

Railway Mountain Tour, itu nama perjalanan dengan kereta uap kuno bergigi  ini. Perjalanan dari stasiun Ambarawa (474 m dpl)  ke Bedono  (711 m dpl) melewati daerah pegunungan sehingga kita bisa menikmati indahnya alam di lembah antara Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu serta Rawa Pening. Loko mampu berjalan dengan kemiringan 30 derajt menuju staisun Bedono yang berjarak 9 km, dengan waktu tempuh 1 jam, atau 2 jam pp.

Lokomotif yang digunakan adalah Loko tua  B2503 dan gerbong yang digunakan kereta kayu CR 56-1 dan CR 63-1., untung aja bukan CR 7, si Christiano Ronaldo he..he….. Tiap gerbong berkapasitas 40 orang. Gerbongnya bersih dan masih terawat apik.

Loko berjalan dengan gagahnya dari garasinya (apa sih nama untuk garasinya kereta api?) dengan suara tuuuit …..tuuuuuit disertai uap yang mengepul dari cerobongnya, suaranya persis suara air mendidih yang dimasak dengan ceret berlubang. Di tempat masinis bertumpuk potongan kayu jati  untuk merebus air, uap hasil rebusan inilah yang menggerakkan kereta. Berhati-hatilah agar serpihan kayu atau arang tidak mengenai mata. Nah, ini foto loko ketika memasuki peron. Sebelum berangkat seorang bapak, tampaknya sih pengunjung juga yang mengajak berdoa agar perjalanan lancar dan agar kereta tetap mampu mendaki dan tidak mundur ke belakang, he..he… si bapak buat  grogi aja.

Rombongan kami naik ke gerbong kedua CR 56-I, lihat spesikasinya di foto atas. Maka, mulailah perjalanan yang berkesan ini  dengan duduk santai di kursi kayu yang mengkilap menikmati indahnya pemandangan pegunungan.  Jendela gerbong ini terbuka lebar sehingga kita bisa merasakan  sejuknya udara pegunungan.  Kereta berjalan pelan-pelan saja, kadang-kadang bersinggungan dengan jalan raya Semarang- Jogjakarta, dan dengan proyek jalan tol, jadi nantinya kereta ini akan memasuki kolong jalan tol.

Di beberapa tempat anak-anak kecil berlarian mengejar kereta, bahkan lebih kencang larinya anak daripada kereta he…he…, anak-anak ini memanggil-manggil penumpang mengharapkan sedikit oleh-oleh.

Sampai di stasiun kecil Jambu kereta berhenti beberapa saat (stasiun ini benda cagar budaya lho, berarti stasiun tua juga).   Ternyata lokomotif yang semula berada di depan  menarik 2 gerbong, di stasiun ini memisahkan diri dan pindah ke belakang. Seru lho, melihat loko berjalan menghampiri,   deg-degan  akan melihat pemandangan langka. Penumpang yang antusias berdiri di bagian belakang gerbong dua melihat saat-saat kaitan di loko mengait menyatu ke gerbong dua.  Ini adalah persiapan pendakian menuju Bedono. Mulai saat itu loko akan mendorong gerbong ke atas.

Di Bedono kami berhenti lebih lama lagi, di sini  loko memisahkan diri lagi entah untuk apa (bangunan stasiun  Bedono inipun termasuk benda cagar budaya).  Penumpang dipersilahkan turun untuk beristirahat dan  bisa melihat sekeliling stasiun kecil ini.

Tak berapa lama terdengar aba-aba untuk naik kembali ke kereta,  kembali loko  menyatu dengan gerbong dua. Artinya,  rangkaian  kereta ini akan berjalan mundur sampai Ambarawa. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan.