Tintin dan Aksara Batak

Artikel di majalah Tempo beberapa waktu lalu membuatku terkejut. Sebagai penggemar Tintin terkaget-kaget ada serial Tintin yang terbit dua bahasa dalam satu buku, Perancis dan Batak Toba. Tak hanya berbahasa Batak, tetapi juga ditulis dalam aksara Batak. Kisahnya tentang petualangan Tintin  dan kapten Haddock yang tentu saja disertai Snowy mencari pustaha yang hilang dari museum.  Pencarian ini membawa mereka ke Tano Batak.  Judulnya Tintin et le Pustaha. Baca lebih lanjut

Stempel dan Aksara

Pernah  mengajak anak-anak merasakan aura kejayaan masa lalu dan masa kini? Di Museum Nasional Jakarta  saat ini sedang berlangsung 2 pameran bertema sama, yaitu stempel dan aksara. Yang pertama tentu saja menampilkan koleksi dari negri sendiri, dan yang kedua dari Tiongkok. Kedua pameran yang dimulai  tanggal 7 Oktober itu akan segera berakhir pada tanggal 21 bulan yang sama. Agak terlambat menceritakan tentang pameran di sini, padahal kudatangi tepat di hari pembukaan.

Baca lebih lanjut

Karinding

Tambah lagi pengenalanku tetang  satu jenis alat musik tradisi yang terbuat dari bambu,  selain angklung dan kolintang. Namanya Karinding.

karinding

Karinding bambu dari Teh Dey

Pertama kali dengar nama ini dari blognya Teh Dey yang  cerita kesukaan putranya Fauzan memainkan Karinding, dan akupun menerima  alat musik ini dari ibunya Fauzan ini sewaktu Kopdar Bandung. Karinding, alat musik yang terbuat dari pelepah kawung(enau)  atau bambu.  Dahulu alat ini dipakai untuk mengusir hama di sawah karena bunyinya itu sangat mengganggu bagi hewan-hewan tersebut. Cara memainkan karinding diletakkan ke mulut  lalu dipukul-pukul ujungnya atau disentir dengan tali. (Cukup susah juga ternyata, aku belum berhasil membuyikannya).  Getaran itu yang menghasilkan bunyi dengan desibel rendah, suara inilah yang membuat hama pergi. Bahkan Karinding juga bisa dipakai untuk memikat wanita pujaan hati.

Kini alat pengusir hama ini berubah menjadi alat musik . Di Bandung Karinding ini naik daun di kalangan anak muda sejak 2008. Karinding tradisi hanya bisa menghasilkan satu nada. Bahkan telah diciptakan juga Karinding versi baru , Karinding Kipas , yang bisa menghasilkan beberapa nada berbeda. Untuk ditampilkan sebagai alat musik Karindng disandingkan dengan berbagai instrumen tradisonal maupun modern.

Kainding sempat dikhawtirkan puah dan tak banyak lagi pengrajin yang membuatnya. Salah satu yang masih membuat Karinding adalah Abah Olot.

Ternyata Karinding  tak hanya dikenal di tanah Sunda, tetapi juga di seluruh dunia. Konon alat ini sudah berumur 600 tahun. Di Jawa Tengah, alat musik ini bernama Rinding, di Bali disebut Genggong,  Tung jika di Kalimantan. Berbeda pula sebutan di negara lain, di dunia internasional disebut dengan harpa mulut (mouth harp).

sumber :  mahanagari, batujajar

Batik Fisika – Batik Fraktal

Komentar Lozz Akbar di artikel Batikkan Harimu – Batik Sepanjang Masa menjadi semacam trigger untukku . Ini komentarnya.

Si uncle ini kasih pekerjaan rumah buatku ,… he..he.. , terima kasih sudah kasih ide ya, meskipun tak pernah berkecimpung langsung di perbatikan, tetapi dari bacaan dan tontonan di berbagai media kucoba meringkas dan membagi sekalian. Kalau mau lebih jelas proses pembuatan batik tulis tanya ke orang yang lebih tepat, Ari Tunsa yang sedari kecil terbiasa melihat proses membatik di Pekalongan atau mbak Entik saja yang pernah mendapat pelatihan membatik , karena yang kutahu hanya sedikit sekali hasil berjalan-jalan ke Museum Tekstil di jl KS Tubun Jakarta Pusat.

Batik buatan tangan tetapi hasilnya seperti buatan pabrik seperti yang ditanyakan uncle Lozz  kurasa tergantung pola atau gambarnya, karena bahan yang masih polos itu  harus dipola terlebih dulu baru kemudian dilapisi malam. Jika  penggambarnya jago membuat motif yang simetris pastilah hasilnya akan sangat apik.

Tetapi kini ada perkembangan baru. Beberapa orang muda pintar melihat kemungkinan motif  tradisional ini bisa dikombinasikan dengan ilmu fisika,  yaitu fraktal. Konsep fraktal seperti apa akupun masih mengira-ngira, lebuh baik tanya pak Mars,  tetapi intinya dengan hitungan matematis yang dikomputerisasi bisa dibuat motif batik yang sangat simetris, motif dapat dibuat dengan cepat dan mudah diperbanyak. Proses selanjutnya adalah sama seperti membuat batik tulis. Dengan cara fraktal ini  membatik bisa juga  dilakukan di media kayu dan akrilik, tetapi tidak memakai canting, melainkan laser.

 

Ingin lebih  jelas mengenai batik fraktal silahkan ke link ini juga

http://fraktal.bandungfe.net/index.html

Batikkan harimu – Batik Sepanjang Masa

Batik sudah akrab  dengan diriku sejak kanak-kanak, karena main gendong anak-anakan dengan selendang batik punya mama.  Koleksi  mama yang berupa kain panjang dilengkapi dengan selendang itu menjadi korban kenakalan anak-anaknya yang belum mengerti nilai sebuah kain. Untuk bermain boneka kami mengambil selendang batik  dari lemari, bukan hanya satu tetapi lebih.  Tentu saja  kami kena marah, tetapi akhirnya mama membolehkan kami memakai selendang itu  untuk menggendong boneka, tentu dipilihnya selendang yang biasa-biasa  saja.

Kenangan yang sangat membekas di masa kecil tentang batik adalah saat mama mengeluarkan koleksi kain batik panjangnya untuk diangin-anginkan atau dicuci.  Di waktu itu memakai kain batik tadisional berwiron  ( lipatan-lipatan kecil di bagian depan kain ) dan kebaya  dengan kutu baru (model kebaya tradisional yang sering dipakai almarhumah ibu Tien Soeharto) sedang menjadi mode. Aku suka sekali melihat proses pencucian batik dengan biji lerak, sejenis tumbuhan dengan nama ilmiah Sapindus rarak De Candole atau  S. mukorossi .  Menurut Wikipedia pohon lerak itu bisa mencapai tinggi 10 – 42 m, kekuatannya setara dengan jati, sehingga banyak ditebang karena bernilai ekonomis.

Seingatku setelah dicuci  batik kemudian diangin-anginkan, dijemur di tempat teduh, kemudian  diasapi  dengan ratus memakai anglo, dan setelah kering disimpan dengan menyelipkan akar wangi di lipatan kain  yang menjadikan kain beraroma khas sekali. Kain  batik tulis biasanya yang dapat perlakuan istimewa ini, karena pengerjaannya memang lama dan pewarnaannya memakai bahan alami sehingga cara membersihkannyapun harus hati-hati agar warnanya tetap awet. Kain-kain batik yang dirawat dengan telaten itu sekarang masih ada  dan ada beberapa yang  sudah diberikan kepadaku, dengan kondisi dan warna yang masih sangat baik.

Sewaktu aku SMP mama mencoba berbisnis kain batik, bekerja sama dengan salah seorang temannya yang  mengirimkan batik dari Jogja dan Solo, dan kemudian dijual kembali ke ibu-ibu di kompleks. Karena  mamaku berdagang batik, sudah pasti anaknyapun didandani dengan batik. Jadi sejak kecil  aku sudah berbatik untuk baju main atau kondangan.  Kebiasaan berbusana batik itu terus berlanjut sampai kuliah, kali ini mama membeli batik dari temannya asal Cirebon dan Madura.  Waktu itu tak ada rasa malu memakai batik ke mana-mana walaupun remaja seusiaku belum banyak yang memakai batik karena ada omongan batik itu untuk orang tua, tetapi mama memilihkan warna cerah seperti merah dan motif yang cocok dipakai remaja. Selain  dari daerah-daerah itu akupun pernah memiliki batik Jambi dan  Kalimantan Timur oleh-oleh perjalanan dinas orang tua.

Daerah-daerah penghasil batik itu sudah tentu mempunyai motif-motifnya sendiri yang menjadi ciri khas setiap daerah.  Motif itupun tak hanya tradisional atau motif kuno berusia ratusan tahun yang banyak filsafahnya, tetapi juga berkembang sesuai daerah tempat tinggal karena terjadi akulturasi budaya seperti motif yang dipengaruhi kebudayaan China seperti megamendung dari  Cirebon,  motif burung hong atau phoenix , atau motif kilin. Begitu pula pengaruh budaya Arab terlihat pada batik besurek Bengkulu yang berhiaskan huruf Arab, pengaruh budaya Belanda terlihat pada batik dengan motif buketan (rangkaian bunga). Kini, di daerah yang dulu tak mengenal tradisi membatik  seperti di Papua dikembangkan batik dengan motif yang digali dari tradisi setempat.

Kedua foto di atas adalah kain batik bermotif China yang kuambil di Pameran Akulturasi Cina Indonesia. Sedangkan foto bawah motif batik besurek dari Bengkulu koleksi pribadi. Untuk motif pengaruh Belanda bisa dilihat di  artikel batik Indonesia di sini,  kain batik warisan dari almarhumah Opungku.

batik besurek

“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Batikkan Harimu yang diselenggarakan Nia, Puteri dan Orin