Smurf Dismurf Di Seluruh Dunia

Dari berita siang di  Metro TV  baru kutahu hari ini adalah hari Smurf. Di Brussel, Belgia   ribuan orang berkumpul berkostum a la Smurf  (kulit dicat biru dan bercelana dan bertopi putih) untuk menciptakan rekor dunia berdandan a la Smurf. Tahun ini rekor baru dicapai di Mexico   dengan terkumpulnya 4.617 orang peserta Hari Smurf dari 12 negara.

Hari  Smurf  ( dalam bahasa Perancis : Les Schtroumpfs )  sebetulnya adalah hari ulang tahun Peyo, sang pencipta.  Smurf  diciptakan Peyo  (nama pena Pierre Culliford ) tahun 1958. Komik Smurf telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dunia dan juga sudah difilmkan. Kisah para Smurf ini juga sudah  terbit dalam bahasa Indonesia. Nama Smurf ini adalah terjemahan ke dalam bahasa Belanda dan akhirnya dipakai juga untuk edisi Inggris.

Tokoh Smurf pertama muncul di komik Johan dan Pirlouit  ( yang juga sudah terbit dalam bahasa Indonesia) dan akhirnya dibuatkan kisah sendiri. Baca lebih lanjut

If I Stay

If I Stay karya Gayle Forman yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini kuterima dari Akin di Samarinda. Buku yang bagus sekali Akin, terima kasih ya.

Buku ini mengisahkan kejadian selama 24 jam dalam kehidupan Mia yang berusia 17 tahun.

Di pagi hari ketika salju turun dengan lebatnya mobil yang ditumpangi keluarga Mia dalam perjalanan menjenguk kakek neneknya mengalami kecelakaan. Orang tuanya tewas dan Mia mengalami koma.

Mia keluar dari tubuhnya dan melihat kejadian usaha penyelamatan dirinya, ketika sanak famili dan temannya mengunjunginya di rumah sakit, usaha kekasih dan temannya menyelusup masuk ke ruang ICU karena mereka tidak diijinkan menjenguk. Kisah ini juga menampilkan kilas balik hubungan Mia dengan ayah ibunya yang pernah menjadi musisi rock, hubungan dengan  kekasihnya Adam, yang juga beraliran musik rock, juga hubungannya dengan temannya Kim.

Mia, meskipun sudah mendengar musik rock sejak kecil, tetapi ia justru tertarik dengan musik klasik. Ia adalah pemain cello yang serius. Diceritakan pula pengalamannya mengikuti music camp. Musik dalam keluarga Mia menjadi semacam cara untuk berkomunikasi. Beraliran lain dari orang tuanya bukan berarti ia dicemooh, tetapi ayah ibu justru mendorong dan memfalisilitasi kesukaannya itu. Hubungan keluarga yang saling mendukung terekam dengan  manis di sini.

Hubungannya dengan Adam yang bintang sekolah sempat membuat Mia yang rendah diri merasa salah pilih, tetapi Adam yang jatuh cinta karena melihatnya bermusik seakan seluruh jiwanya tumpah di permainan cellonya itu, mampu membangkitkan semangat Mia. Hubungan Mia dengan sahabatnya Kim, yang Yahudi menggambarkan persahabatan erat tanpa memandang asal usul.

Cerita Mia ini sangat mempesonaku, dan air mata sempat menetes  walaupun  tak ada kesan cengeng dalam cerita ini.  Novel ini juga menekankan bahwa sebuah kejadian tak terduga  dapat merubah kehidupan yang normal menjadi sebuah tragedi.

The Man Who Loved Books Too Much

Karya : Allison Hoover Bartlett, 2009

Terjemahan Indonesia : Lulu Fitri Rahman

Cetakan 1 : April 2010

Penerbit : alvabet (www.alvabet.co.id)

Minggu ini jadi jarang bw karena terhanyut menamatkan buku menarik ini, tak mau berhenti. Pertama melihat buku ini di Kharisma aku langsung tertarik dengan judulnya.  Kata too much menyiratkan sesuatu yang sudah melampaui batas. Apakah ada orang yang mencintai buku sampai keterlaluan.   Merasa sebagai pencinta buku, aku langsung menariknya dari rak, apa yang akan dikupas oleh buku ini dan langsung membaca sinopsisnya. Dikatakan The Man Who Loved Books Too Much ini berdasarkan kisah nyata. Dan artikel Bartlett ini dinyatakan sebagai  Best American Crime Reporting 2007.

Kisah ini adalah tentang dunia buku langka yang dinyatakan lebih bernilai daripada barang antik lainnya. Kalau ada kalimat “Jangan menilai buku dari covernya” di kalangan penjual buku langka kalimat ini berubah ” Jangan menilai buku dari isinya”.  Kulit buku langka seringkali didesain sangat indah dan dari kulit hewan yang sangat halus. Kulit buku yang masih apik akan meningkatkan harga waklaupun isinya biasa-biasa saja.

Buku edisi pertama adalah buku yang sangat berharga. Contohnya  copy  pertama Harry Potter and the Philosopher’s stone yang hanya dicetak 500.000 eksemplar telah berharga  30,000 dollar. Apalagi buku-buku kuno yang sangat jarang yang berasal dari tahun 1600an.

Di sinilah kita jadi memasuki dunia yang tak pernah kita tahu. Seluk beluk dunia perdagangan buku langka dan kolektor yang rela membeli buku-buku mahal. Mereka disebut bibliofil, pecinta buku dan bibliomania yang lebih fanatik.

John Gilkey, seorang bibliomania,  rela mencuri buku. Dia mencuri buku bukanlah untuk mencari keuntungan dengan menjualnya kembali dengan harga tinggi.  Dia mengkhayalkan  kenikmatan memiliki buku-buku langka  di rak bukunya agar  bisa jadi seperti  rumah para bangsawan.  Tetapi  dia miskin. Lalu  bagaimana  caranya agar bisa punya koleksi buku terkenal dan langka? Gilkey  memesan buku dengan memakai nomor  kartu kredit orang lain atau cek kosong.  Akibatnya berkali-kali dia keluar masuk penjara.

Gilkey yang licin berhadapan dengan Ken Sanders, agen buku langka yang bertindak sebagai detektif (bibliodick) yang sama obsesifnya dengan Gilkey untuk memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.  Kutemukan juga linknya pak Ken Sanders disini yang bercerita pengalamannya berhadapan dengan John Gilkey.

Ceritanya  singkat saja ya, supaya penasaran.

Yang agak merepotkan buku ini  banyak memuat nama orang, nama penulis terkenal, dan judul buku sehingga banyak catatan kaki, seperti layaknya karya ilmiah, jadi harus sering bolak-balik ke halaman belakang.