EF #21  My Weekend Destination

I have  missed the  English challenges for several weeks, oh noooo. Iam trying tocatch up.  BEC’s weekly challenge  # 21 theme is about holiday destination under Rp. 100.000 (or around less than US$10) you must see!

Yes,of course there are many touristic destinations here in the capital that only cost you minimal  fare or even free. You can go to one of the 47 museums in Jakarta .  This time I want to ask you to see one of the several public garden in the city,Taman Ayodya.

Taman Ayodya

To reach this garden situated in southern part of Jakarta was very simple and cheap. The Trans Jakarta bus was  the easiest mode of transportation to get there, use the Blok M – Kota line. It, only cost you  Rp 3,500. From Blok M Station  you  took the Metro Mini number 69, for just  Rp 3,000,  or you could just walk to the west.  The distance was about 1 kilometer, so you just needed a half an hour walk.

The garden was spacious, clean,  and the foliages of the big trees would make you feel fresh. What would you do here? You could just sit on the benches under the gazebos, relaxed and read a book, or  you could jog round the fish pond, or rented a bicycle. There were also a wifi, no need to worry you still can update your status to your social media account easily. Then, if you felt enough, tou could walk  to the north west to find another public garden, Taman Langsat.

Feel hungry? Around the garden there were  street food vendors, bakso or mi ayam.

So, it was easy to find cheap  places here in Jakarta, isn’it?

 

Very Very Important Person

Berita pemesanan pesawat terbang kepresidenan  Indonesia sempat ramai dibicarakan, dan kabarnya pesawat jenis Boeing 747 akan siap mengudara tahun 2013.

Pesawat khusus tentu saja hanya dipergunakan untuk seorang yang amat sangat penting.  Pengusaha terkenal,  banyak pemimpin dunia dan artis terkenal bahkan memiliki pesawat pribadi dan dilayani khusus. Atau jika tidak memiliki pesawat terbang pribadi, ada perusahaan yang menyediakan jasa penyewaan pesawat pribadi, yang pasti harga sewanya tak terbayangkan.

Tetapi tak usahlah kita membicarakan orang-orang yang tinggi di awan itu. Bisakah kita, rakyat biasa ikut merasakan menjadi orang penting dengan harga tiket reguler? Tak bisa ? Atau ada yang menjawab bisa?

Simak ceritaku ya, ehmm..ehm… ada VVIP mau bicara.

Dahulu sering sekali bepergian Jakarta ke Bengkulu atau rute sebaliknya. Berbagai jenis tranportasi pernah kucoba, bis biasa, bis tiga perempat atau dengan pesawat terbang. Suatu kali kupesan tiket pesawat untuk jam 7 pagi, penerbangan waktu itu hanya dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara. Berangkat dari rumah di Jakarta melaju santai seperti jam biasanya ke bandara Sokarno – Hatta. Tetapi karena salah prediksi ternyata ada hambatan macet di jalan  sehingga  aku terlambat sampai di bandara. Ketika melapor, petugas counter mengatakan pesawat sudah lepas landas beberapa menit lalu. Lemaslah aku, masa harus menunggu lama atau pulang lagi ke rumah, pak supir pengantarku sudah pulang, aku cuma diturunkan di depan terminal keberangkatan dalam negeri.

“Ya, sudahlah mbak, tiket saya masih bisa dipakai untuk penerbangan berikutnya kan? Saya bisa berangkat hari ini?”  Waktu itu hanya ada 2 kali penerbangan dalam sehari.

Si mbak petugas kasak-kusuk  di komputernya melihat jadwal atau enatah apalah.

“Ada pesawat ekstra hari ini, berangkat  setengah jam lagi. Mau naik yang itu mbak?”

“Boleh, saya ambil. Tetapi, ngomong-ngomong ini ada buka jadwal baru ya mbak?”

“Bukan, ini hanya penerbangan ekstra yang akan menjemput jemaah haji”.

Dan, ketika masuk ke pesawat terbang, apa yang  kudapati teman?

Pesawat kosong melompong. Penumpangnya hanya 2 orang. Aku dan seorang lagi yang juga terlambat.

Bisa tidak dikatakan aku penumpang VVIP? Meskipun tak ada hantaran permen atau snack, atau layanan khusus lainnya. Serasa  pesawat terbang milik sendiri, bisa memilih mau duduk di mana, mau tiduran juga bisa, mau pindah duduk tiap menit juga bisa, ha..ha..ha…. Pengalaman tak terlupakan.

Euphoria menjadi orang amat sangat penting hanya berlangsung satu jam, seturut lama penerbangan saja.  Ketika mendarat di Bandara Padang Kemiling ( nama bandara berubah menjadi  Fatmawati Soekarno pada 2001  yang  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri) kebingungan yang timbul. Mobil-mobil taksi tak resmi sudah tak ada lagi  di tempat dan  satu-satunya cara untuk ke pusat kota hanyalah angkutan umum, maka terpaksalah  aku berjalan ke pinggir jalan raya untuk menaiki angkutan kota, untunglah tak jauh dan tak membawa apapun selain tas tangan …….:P

Lagi-lagi Angkutan Umum

Kemarin sore Jakarta macet lagi melebihi hari biasa yang memang sudah terkenal macet. Kali ini selain menjelang hari libur, kemacetan terjadi karena ada sebuah  gedung terbakar di jalan utama.   Macet panjang tak dapat dielakkan lagi.

Tak jauh dari terminal, bis tiba-tiba saja berbalik arah untuk menghindari kemacetan sehingga tidak melalui jalur yang seharusnya, padahal penumpang masih sedikit. Aduh, apa jadinya jika tadi aku menunggu di tempat biasa pastilah aku akan lama  menunggu bis yang tak kunjung muncul.  Karena melihat kepadatan lalu lintas  aku memang berjalan ke arah terminal,. Sudah menjadi rahasia umum di tengah kemacetan  supir bis suka mencari alternatif sendiri. Beberapa kali kejadian seperti ini pernah  kualami, kadang-kadang malah polisi yang menyuruh  menghindari jalur bis, seperti di cerita ini, Metromini Nyasar.

Kondektur menarik ongkos dengan harga dinaikkan seribu rupiah, alasannya bila tertangkap yang berwajib  karena berada tidak di jalurnya, mereka mempunyai  kelebihan untuk  salaman. Padahal menurutku itu disengaja karena  jumlah penumpang masih sedikit, dan tarikan  lebih besar dari tarif resmi dimaksudkan untuk menutup  supaya mereka tidak terlalu tekor bayar setoran.

Kemacetan sering terjadi di hari Jumat sore atau bila esok adalah hari libur, mungkin dikarenakan banyak orang yang ingin pulang cepat dan pergi ke luar kota. Hari  lain lagi yaitu Senin pagi, kita harus berangkat jauh lebih pagi bila tak ingin terlambat tiba di kantor.

Kebalikannya pada hari Selasa adalah hari yang cukup sepi. Pernah kudengar obrolan sesama supir angkot yang berpapasan …  :

“Udah berapa rit lu… banyak sewa? “.

Jawaban temannya  : ” Gimana banyak ..? Semua orang  juga  tau dari jaman nenek moyang Selasa itu sepi”.:P

Cerita ini bukan keluh kesah ya teman, sekedar berbagi pengalaman, karena apapun yang dihadapi sehari-hari adalah romantikanya orang hidup, he..he..he..