Musim Bunga

Lagi-lagi kecelakaan, padahal rencananya baru mau buat konsep saja, tetapi tersentuh “Terbitkan”, dan si Una terlanjur komen, he..he… dan foto pertama yang diunggah harusnya masuk di  tema Weekly Photo Challenge Unfocused.  Mohon maaf kepada teman-teman yang berlangganan blog ini melalui email, pasti ketahuan deh. Maluuu…. Karena sudah terlanjur, baiklah… dilanjut saja.

Pacar Air ( Impatiens balsamina) ini sedang bermekaran di sekeliling rumah kami. Seperti di foto tanaman ini tumbuh di luar pagar, di dalam selokan yang kering. Tak ada yang menanam di sana.  Mungkin biji bunga tersebar dibawa angin atau serangga atau burung, karena mula-mula hanya satu rumah yang menanam bunga ini. Tetapi tak apalah suasana jadi merah meriah, sangat cerah. Baca lebih lanjut

Bila Tabebuia Berbunga

Beberapa hari belakangan ini jalan utama ibukota Jakarta menguning karena  bunga dari pohon penghijauan serentak berbunga. Jika kendaraan telah melalui  jalan Gatot Subroto, jalan Thamrin dan Sudirman mataku tak puas-puasnya memandangi bunga kuning yang cantik itu.  Bunga itu adalah Tabebuia aurea. Bunga kuning ini berbentuk terompet dan bergerombol. Jenis warna sebetulnya ada bermacam-macam dari putih, pink, magenta dan lain-lain, tetapi yang banyak di ibukota memang yang berwarna kuning.

Musim bunga Tabebuia  biasa terjadi di saat musim kemarau hingga menjelang musim hujan.  Pohon yang tahan kekeringan ini menurutku memang cocok ditanam di tepi jalan. Pohon in ditanam berselang-seling dengan pohon peneduh seperti mahoni, angsana  dan  trembesi.

Selain  itu trend gaya rumah saat ini semakin mempopulerkan Tabebuia yang sangat sesuai jika ditanam di halaman rumah bernuansa minimalis karena  bentuk pohonnya yang sederhana dan tidak melebar.

Tabebuia

Kecantikannya membuatku membayangkan andai di ibukota ada hutan kota atau taman kota yang luas, hijau dan teduh dengan pohon-pohon pelindung diselingi dengan Tabebuia, pasti jadi paru-paru kota  yang indah , sehingga Tabebuia mungkin bisa menyamai Sakura bagi Jepang yang selalu dinantikan kehadiran bunganya.

Sampah Elektronik

Perkembangan teknologi masa kini membuat peralatan elektronik cepat berganti model dan fungsi.  Ingat tidak dahulu ada  video player a la Betamax yang kasetnya besar, kemudian berganti dengan LD player, vcd player dan dvd player. Lalu ke mana barang-barang lama yang sudah ketinggalan model itu, dibuang atau disimpan sajakah?

Telepon genggam, dahulu yang besar sekali, sekarang sudah semakin tipis dan kecil. Setelah itu ada pula telepon genggam baru dengan fitur yang lebih baik.

Kitapun tergoda untuk membeli barang dengan model terbaru, karena takut ketinggalan jaman. Memang mungkin untuk sementara kita bisa bilang  telepon lamaku sudah dibeli orang kok. Tetapi bila tiap orang ganti telepon genggam semudah mengganti baju, produk baru akan tumbuh terus. Demikian pula dengan komputer, laptop dan barang lektronik lainnya.

Alat elektronik  terbuat dari berbagai macam bahan. Ada plastik, tembaga, PCB, timah, emas, perak dan kobalt. Zat-zat ini sangat beracun Jika racun dari sampah elektronik ini masuk ke dalam tanah maka akibatnya bisa meracuni mahluk hidup.

Cara pengambilan logam-logam berbahaya itu  dengan ditambang dari dalam perut bumi. Bisa dibaca  di artikel Coltan  yang ditulis oleh Nana Harmanto sebagai penulis tamu di Tuti Nonka’s Veranda. Penambangan coltan dari perut bumi Kongo merusak hutan  habitat gorilla dan menimbulkan lubang menganga di permukaan. Hasilnya dibelikan untuk senjata dan tumpahlah perang saudara.

Telepon genggam dan komputer menghabiskan 3 persen hasil tambang emas dan perak. Padahal tanah bumi harus digali 1 ton hanya untuk mendapat 1 gram emas. Indonesia termasuk salah satu negara di Asia Tenggara yang banyak menghasilkan sampah elektronik.

Maka, untuk alat elektronik tetap dipakai simbol 3 R  : Reduce, Reuse, Recycle. Pilihlah barang elektronik dengan kode ini.

simbol recycle

Untuk mengatur sampah elektronik ini ada perjanjian Basel (Basel Convention) yang diawasi oleh PBB.

Selamat Hari Lingkungan Hidup.

Artikel ini  dibuat untuk  berpartisipasi dalam  tantangan yang dikemukaan oleh sahabat blogger y Mas Alamendah . Selamat  Hari Lingkungan Hidup   5 Juni 2011

Weekly Photo Challenge : Wild Life

Rusa totol (Axis axis) di Taman Wisata Candi Prambanan

Rusa Totol yang berasal dari India ini berada di Taman Wisata Candi Prambanan.  Foto diambil setahun lalu. Status konsernvasinya LC (Least Concern) yang berada di urutan terbawah dari klasifikasi status karena jumlahnya yang masih sangat banyak.

This chital or cheetal  deer (Axis axis),  also called spotted deer  means rusa  totol in Indonesian. I captured this picture at Prambanan Temple Park, Central Java, Indonesia.

Originated from India and conservation status of these deer is listed  Least Concern because it occurs in a very wide range and  are many large populations.