Very Very Important Person

Berita pemesanan pesawat terbang kepresidenan  Indonesia sempat ramai dibicarakan, dan kabarnya pesawat jenis Boeing 747 akan siap mengudara tahun 2013.

Pesawat khusus tentu saja hanya dipergunakan untuk seorang yang amat sangat penting.  Pengusaha terkenal,  banyak pemimpin dunia dan artis terkenal bahkan memiliki pesawat pribadi dan dilayani khusus. Atau jika tidak memiliki pesawat terbang pribadi, ada perusahaan yang menyediakan jasa penyewaan pesawat pribadi, yang pasti harga sewanya tak terbayangkan.

Tetapi tak usahlah kita membicarakan orang-orang yang tinggi di awan itu. Bisakah kita, rakyat biasa ikut merasakan menjadi orang penting dengan harga tiket reguler? Tak bisa ? Atau ada yang menjawab bisa?

Simak ceritaku ya, ehmm..ehm… ada VVIP mau bicara.

Dahulu sering sekali bepergian Jakarta ke Bengkulu atau rute sebaliknya. Berbagai jenis tranportasi pernah kucoba, bis biasa, bis tiga perempat atau dengan pesawat terbang. Suatu kali kupesan tiket pesawat untuk jam 7 pagi, penerbangan waktu itu hanya dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara. Berangkat dari rumah di Jakarta melaju santai seperti jam biasanya ke bandara Sokarno – Hatta. Tetapi karena salah prediksi ternyata ada hambatan macet di jalan  sehingga  aku terlambat sampai di bandara. Ketika melapor, petugas counter mengatakan pesawat sudah lepas landas beberapa menit lalu. Lemaslah aku, masa harus menunggu lama atau pulang lagi ke rumah, pak supir pengantarku sudah pulang, aku cuma diturunkan di depan terminal keberangkatan dalam negeri.

“Ya, sudahlah mbak, tiket saya masih bisa dipakai untuk penerbangan berikutnya kan? Saya bisa berangkat hari ini?”  Waktu itu hanya ada 2 kali penerbangan dalam sehari.

Si mbak petugas kasak-kusuk  di komputernya melihat jadwal atau enatah apalah.

“Ada pesawat ekstra hari ini, berangkat  setengah jam lagi. Mau naik yang itu mbak?”

“Boleh, saya ambil. Tetapi, ngomong-ngomong ini ada buka jadwal baru ya mbak?”

“Bukan, ini hanya penerbangan ekstra yang akan menjemput jemaah haji”.

Dan, ketika masuk ke pesawat terbang, apa yang  kudapati teman?

Pesawat kosong melompong. Penumpangnya hanya 2 orang. Aku dan seorang lagi yang juga terlambat.

Bisa tidak dikatakan aku penumpang VVIP? Meskipun tak ada hantaran permen atau snack, atau layanan khusus lainnya. Serasa  pesawat terbang milik sendiri, bisa memilih mau duduk di mana, mau tiduran juga bisa, mau pindah duduk tiap menit juga bisa, ha..ha..ha…. Pengalaman tak terlupakan.

Euphoria menjadi orang amat sangat penting hanya berlangsung satu jam, seturut lama penerbangan saja.  Ketika mendarat di Bandara Padang Kemiling ( nama bandara berubah menjadi  Fatmawati Soekarno pada 2001  yang  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri) kebingungan yang timbul. Mobil-mobil taksi tak resmi sudah tak ada lagi  di tempat dan  satu-satunya cara untuk ke pusat kota hanyalah angkutan umum, maka terpaksalah  aku berjalan ke pinggir jalan raya untuk menaiki angkutan kota, untunglah tak jauh dan tak membawa apapun selain tas tangan …….:P

Model Praktikum Yang Tak Bisa Dikelabui

Sewaktu masih kuliah ke sana kemari membawa model adalah hal biasa,  tentu saja yang dibawa bukanlah foto model yang kutilang, kurus tinggi langsing.

Model yang kubawa adalah model gigi. Model ada yang terbuat dari  lilin yang harus diukir sendiri atau juga model gigi dari bahan gips. Untuk mahasiswa tahun pertama mengukir model ini butuh kesabaran tingkat tinggi, karena semua harus sesuai dengan skala dan bentuk gigi asli.  Cara mengukir itu juga harus hati-hati, karena kalau terlalu banyak memotong berarti harus menambah lagi, kalau model lilin  bisa ditambahkan cairan lilin, tapi kalau model gips harus diulang dari awal. Tentu saja pada tahun pertama praktikum ini yang paling  kurasakan  sulit dibandingkan dengan  praktikum lainnya.

Di semester berikutnya, praktikum  berbeda lagi. Kali ini praktikum untuk belajar menambal gigi.

Untuk praktikum ini mahasiswa harus  menyediakan gigi-gigi asli satu rahang lengkap, yang masih utuh. Gigi ditanam dengan gips dalam plat berbentuk lengkung gigi. Plat ini kemudian disekrupkan pada phantom yang berupa model kepala, sehingga ada bagian yang menyerupai rahang atas dan rahang bawah yang bisa digerakkan. Bagian depannya ditutupi lembaran karet sehingga phantom menyerupai keadaan manusia.

Pertama kalinya belajar membor gigi cukup sulit. Cara memegang bur dan kaca mulut harus pas. Untuk  gigi-gigi rahang bawah lebih gampang, karena kita bisa langsung melihat daerah yang akan kita kerjakan.

Bagaimana belajar menambal gigi-gigi rahang atas?.  Mahasiswa harus membiasakan melihat bayangan gigi di kaca mulut. Terus terang saja, pada awalnya hal ini sangat sulit, karena luas pandangan terbatas dan harus pas posisi memegang kaca mulut agar bayangan gigi terlihat jelas.  karena baru belajar pegangan pada  kaca mulut sering terlepas, dan kaca meluncur jatuh.

Karena masih tak terbiasa, tentu saja hal itu memperlambat kerja. Bila sudah kepepet waktu, yang artinya jam praktikum sudah hampir habis, kami tak kehilangan akal. Begitu dosen tak melihat, phantom dipreteli, mulutnya dibuka, baut plat lengkung gigi dilepaskan, rahang dibalik. Rahang atas diletakkan di bagian bawah supaya jelas terlihat.

Mula-mula sih aman saja.  Tetapi karena keasyikan bekerja, tak disadari dosen sudah di belakang. Tentu saja beliau sudah sangat paham membedakan gigi-gigi rahang atas dan bawah, dan bisa langsung melihat kelakuan mahasiswanya.

“Bagaimana nanti kamu bisa kerja  pasien? Pasien kamu suruh jungkir balik? Biasakan memakai model seperti di dalam mulut .”

Artikel ini diikut sertakan di ASKAT, 15 Juni di New BLog Camp

Hari Minggu Berburu Kodok

Hari Minggu kami tak ada kegiatan di luar rumah. Saya dan si adek bungsu hanya diam di rumah, beres-beres alias bebenah saja.

Si kakak dan papa pergi mencari keperluan sekolah untuk praktikum Biologi dan Fisika.  Mereka berdua keliling ke toko elektronik mencari lampu LED, kabel buaya, dll juga mampir ke pasar membeli jeruk lemon. Bahan-bahan ini akan dipakai untuk percobaan listrik sederhana.

Karena sekalian ke pasar mereka mencari kodok juga untuk pelajaran Biologi. Di pasar dekat rumah tak ada penjualnya. Kata si bapak pedagang,  di pasar Jatinegara banyak yang berjualan kodok. Jarak yang cukup jauh  dari rumah, tak mungkinlah ke sana hanya untuk seekor kodok, atau dia mengusulkan  cari di  restoran Chinese Food yang biasa menjual  jual swie kee  saja kalik ya…:P. Tak usahlah, kodok juga banyak di alam, cari saja sendiri, tak harus beli, gitu aja kok repot.

Akhirnya diniatkan untuk mencari saja di sekeliling rumah. Tapi diingat-ingat rasanya sudah lama tak melihat ada kodok berlompatan. Dulu, sewaktu masih ada kolam ikan banyak kodok seliweran. Kebetulan  bertepatan pagi itu ada beberapa bocah  laki-laki berkumpul bermain sepeda di depan rumah. Dipanggillah salah satu di antaranya, anak tetangga.

“Yuk, bantuin Oom cari kodok”

Anak-anak lainnya  langsung ramai mendekat : ” Oom, boleh ikut bantuin? Ntar dikasih apa?”

“Dikasih jajan deh”

“Berapa Oom? Cari kodoknya berapa?”

“Satu aja, ntar dikasih deh ceban”.

Mendengar akan dikasih persenan semuanya menjadi antusias minta ijin untuk ikut mencari

“Oom, kodoknya tiga aja ya…”

Ha..ha… memangnya kakak mau disuruh jualan kodok di sekolah?

Dasar anak-anak.

Dan memang berkat bantuannya, kodok cepat tertangkap.

(Keesokan harinya sepulang sekolah kutanya kesan kakak tentang pelajarannya “Aku geli ma, di mobil aja, kodoknya mau lompat-lompat, sampai di sekolah kusuruh anak cowok aja yang megangin”) <code>:P

Teringat dulu sewaktu praktikum di sekolahku, banyak juga teman-teman yang menjerit-jerit ngeri melihat kodok harus dibedah. Bahkan ada yang tak berani memegang sama sekali. Sahabat punya pengalaman unik  seputar praktikum di sekolah dulu?

Letters To Juliet

Beberapa hari lalu sibuk memainkan  remote control TV membawaku terdampar menonton  film di televisi Letters To Juliet.  Film tak kutonton dari awal .  Hal pertama yang membuatku tertarik adalah setting filmnya yang mengambil lokasi di suatu tempat berpemandangan indah, diiringlagu-lagu Italia terkenal seperti Quando quando. Ternyata lokasi pembuatan film di daerah Tuscany, Italia.

Letters To Juliet,  rilis 2010, sebuah film drama komedi romantik Amerika. jenis film seperti ini yang sering kutonton karena tak banyak menguras emosi dan tidak banyak mikir.:D

Film  dibintangi Amanda Seyfried, Chris Egan, Vanessa Redgrave, Gael Garcia Bernal, dan Franco Nero. Film terinspirasi dari buku non fiksi dengan judul sama karya Lise Friedman dan Ciel Friedman, yang menceritakan fenomena menulis surat kepada  tokoh wanita paling terkenal dari  karya Shakespeare, Juliette.

Sophie, seorang gadis asal New York sedang berada di Italia bersama tunangannya. Sesampainya di sana rencana berlibur dihabiskan sang tunangan dengan mengeksplor kesukaannya, segala hal yang berhubungan dengan dunia kuliner. Merasa tak dipedulikan Sophie berjalan sendiri, hingga sampai di sebuah rumah di Verona, rumah Juliet Capulet, tokoh dalam Romeo dan Juliet.

Di sini banyak surat ditulis oleh para wanita yang patah hati, ditujukan kepada Juliet. Surat-surat dibalas oleh seorang sekretaris. Sophie menemukan surat yang belum dibalas  dari seorang wanita 50 tahun lalu, Claire. 

I didn’t go to him, Juliet. I didn’t go to Lorenzo. His eyes were so full of trust I promised I’d meet him and run away together because my parents don’t approve. But, instead, I left him waiting for me below our tree – waiting and wondering where I was. I’m in Veronoa now. I return to London in the morning and I am so afraid. Please, Juliet tell me what I should do. My heart is breaking and I have no one else to turn to. Love, Claire

Sophie segera membalasnya.

Dear Claire, “What” and “If” are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if? I don’t know how your story ended but if what you felt then was true love, then it’s never too late. If it was true then, why wouldn’t it be true now? You need only the courage to follow your heart. I don’t know what a love like Juliet’s feels like – love to leave loved ones for, love to cross oceans for but I’d like to believe if I ever were to feel it, that I will have the courage to seize it. And, Claire, if you didn’t, I hope one day that you will. All my love, Juliet

Balasan surat ini membawa Claire datang ke Italia ditemani cucunya, Charlie, untuk menemukan kekasih masa remajanya, Lorenzo Bartolini. Sophie, seorang penulis, merasa kisah Claire mungkin bisa meningkatkan karir menulisnya, bersemangat membantu Claire mencari Lorenzo.

Pria bernama Lorenzo Bartolini ternyata banyak sekali, 74 orang. Usaha pencarian ini yang menimbulkan kelucuan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya Claire menyerah dan memutuskan meninggalkan Italia. Tetapi dalam perjalanan pulang Claire sendiri melihat seorang pemuda di ladang anggur yang disebutnya Lorenzo.

Pemuda itu memang bernama Lorenzo, ayahnya bernama Lorenzo dan kakeknya juga Lorenzo Bartolini. Singkat kata Claire bertemu dengan kekasih masa remaja dan menikah. Sophie  dan Charlie sempat saling tertarik , agak sedikit rumit, tetapi akhirnya cerita berakhir bahagia buat semua tokoh utama.

Quotes dari sini

Wisata Ke Raja Ampat

“Waktu sering jalan-jalan ke pulau dulu itu kita sudah sampai Raja Ampat nggak?” itu pertanyaan mamaku beberapa waktu lalu.

Sejak Raja Ampat dikenal sebagai salah satu titik penyelaman yang terkenal di dunia, sering kami lihat liputannya di berbagai media.  Tempat penyelaman lainnya yang terkenal di Indonesia ada di kepulauan Wakatobi, Bunaken, dan perairan pulau Simeulue. Rupanya mamaku juga  penasaran, karena waktu kami sekeluarga menetap di sana, tempat itu belum terkenal sebagai lokasi olahraga selam, kurasa hanya masyarakat setempat yang tahu. Akupun tahu karena menghafal dari pelajaran Ilmu Bumi Kabupaten Sorong.

Kuingatkan bahwa mama dulu sudah pernah sampai ke pulau Salawati, satu dari  4 pulau besar di Kepulauan Raja Ampat. Ketika itu ada acara kunjungan mantan Presiden Soeharto yang meresmikan proyek di sana, dan  para pegawai dan kaum ibu datang ke pulau  mempersiapkan acara penyambutan, termasuk orang tuaku. Ketiga pulau besar  lainnya di Raja Ampat  adalah Waigeo, Batanta dan Misool. Raja Ampat dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Sorong, setelah pemekaran menjadi kabupaten Raja Ampat dengan ibukotanya di pulau Waigeo. Kabupaten ini terletak di sebelah barat daya kepala burung pulau Papua.

 

Raja Ampat  banyak  memukau penyelam dari mancanegara.  Kepulauan ini terletak di pusat segitiga karang dunia dan memiliki keaneka-ragaman hayati yang mempesona.  75 persen sepesies karang dunia ada di sini, begitu menurut survey The Nature Conservancy.  Jenis ikannyapun mencapai  lebih dari 1000 jenis  – kekayaan ini  membuat Raja Ampat disebut “ibukota ikan dunia”.  Sebagai lokasi penyelaman tempat ini baru dikenal tahun 1990an.

Dahulu sewaktu kami masih tinggal di sana papaku  dan teman-temannya sering pergi memancing di tengah laut di daerah ini. Ikan yang didapat cukup besar, bahkan pernah mendapat ikan tenggiri setinggi adikku yang saat itu kelas 4 SD.

Kami cukup sering berwisata ke pulau-pulau kecil di kepulauan ini, tetapi rasanya belum pernah sampai masuk jauh ke dekat empat pulau besar itu. Ratusan pulau-pulau kecil menyebar di sini, bahkan jaraknyapun sangat berdekatan satu sama lain, jadi sering ditemui ada selat yang sangat sempit. Beberapa kali kami berwisata dalam rangka acara family gathering kantor papa. Pulau yang didatangi ada pulau Sop, yang masih relatif  sangat dekat dari pantai  Sorong. Selain itu kami berwisata ke pulau-pulau kecil yang tak berpenduduk dan tak bernama.

Mungkin karena tak dihuni, pantainya sangat putih bersih, tak ada sampah tentu saja. Laut sangat bening dan bisa jelas melihat ikan-ikan berenang. Tentu saja pemandangan indah ini tak dapat menahan  kami hanya untuk bermain di pantai. Kamipun ikut berenang di laut dangkal. Lokasi pulau-pulau yang kami datangi ini di sekitar pulau Jefman, yang pernah menjadi bandara.  Bandara ini sendiri dibangun Jepang di masa Perang Dunia II, tetapi kini tak difungsikan lagi sejak dibukanya bandara di kota Sorong. Pulau ini masih di wilayah Raja Ampat dan  di sini ditemukan juga gua-gua pertahanan Jepang dan termasuk situs sejarah , meskipun belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Dari  Jefman ke  lokasi penyelaman Raja Ampat  kira-kira 1 sampai 2 jam perjalanan lagi.

Wisata ke pulau- ini dihentikan sejak hampir terjadi kejadian tak diinginkan. Ketika turun dari kapal yang lempar sauh di tengah laut,  di selat sempit antara dua pulau kosong kecil karena tak ada dermaga, satu persatu bisa turun dengan aman dan dibantu dengan berjalan  di laut dangkal ke pantai.  Di pantai para ibu membuka bekal makanan dan semua  menyantap hidangan sebelum menjelajah pantai dan berenang.

Suasana riang gembira tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan-teriakan. Adik lelakiku  yang ikut berenang dangan  para bapak terlihat menggapaikan tangannya.  Kiranya  tak dinyana ada pusaran air  yang sangat tiba-tiba datangnya, padahal sebelumnya air laut tampak tenang.  Dia tak bisa menghindar dan terhisap terbawa arus ke bawah, empat orang dewasa  yang  berusaha menolongnya harus berusaha sekuat tenaga, kurasa cukup lama juga  kejadian itu. Mereka berhasil meski salah seorang bapak itu sempat terhisap arus  putar itu juga. Yang kuingat waktu itu mereka semua terkulai lemas di pantai, anak buah kapal kemudian menaburkan nasi di lokasi itu sesuai kebiasaan  di sana. Pengalaman yang sangat mendebarkan dan sejak itulah tak pernah berwisata ke pulau lagi.

Artikel kali ini untuk menyambut Hari Kelautan Sedunia atau World Oceans Day 8 Juni.

Selamat hari laut,  sahabat. Yuk, lestarikan keindahan laut kita.