Rendang Lokan

Panen oleh-oleh di setiap kantor atau di perumahan bila selesai lebaran sudah hal jamak.  Pasti di kantor anda juga begitu ya…
Semua teman yang mudik biasanya bawa buah tangan makanan yang khas dari kampung masing-masing.  Makanan  itu berupa makanan kering yang sudah dikemas cantik atau bawa buah-buahan seperti salak Pondoh.

Tahun ini ada  kerabat  yang membawakan  oleh-oleh rendang lokan, makanan khas dari Painan Sumatera Barat. Lokan itu sejenis kerang yang didapat di sekitar muara sungai. Oom abang dulu pernah punya pengalaman mencari lokan sewaktu KKN.  Di lokasi KKN itu ada sungai jernih sehingga terlihat sekali lokan di dasar sungai,  hanya dengan meraup saja sudah dapat.  Tetapi, ketika hendak lebih ke tengah lagi dilarang oleh penduduk, karena katanya lokan itu tempat tidurnya buaya, he..he…, dia langsung kabur naik ke daratan.

Rendang Lokan

Rendangnya enak banget lho,  rendang rumahan yang bumbu-bumbunya pilihan dari bahan terbaik sehingga keluar semua cita rasa rendang  ranah Minang  yang asli ditambah    rasa daging lokan yang agak kenyal, berbeda dengan rasa rendang daging.  Nikmatnyaaa….., sampai dibawa lagi untuk bekal makan siang di puskes.  Rendang lokan bawa kenangan masa lalu. Habisnya sudah lama sekali tidak makan rendang kerang, yang hampir mirip rasanya dengan rendang lokan ini.  Terakhir makan rendang kerang itu ketika dibawa nantulang dari Medan.

Ketika di Medan dulu memang sering sekali makan rendang kerang atau kerang rebus dengan sambal nanas.  Seringkali di rumah opung pesta kerang he..he.., karena salah satu besan opung berasal dari Tanjung Balai, daerah yang dikenal sebagai sumber hidangan laut.  Kalau datang kiriman kerang sekarung dua karung yang jumlahnya tak akan habis hanya oleh keluarga inti. maka diundanglah saudara lain untuk bantu menghabiskan. Acaranya biasanya sampai malam kerumunan di halaman tengah dekat dapur, ada yang merebus kerang di panci besar ada yang memarut nanas, kami anak-anak tinggal tunggu kerang matang dan langsung serbu. He..he.. jadi nostalgia deh..

Cara Lain Menikmati Hujan Dan…. Kopi…

4 sore di Ranah  Minang selalu dihiasi  dengan guyuran air hujan, terkadang hanya rinai tak berarti,  terkadang hujan selebat-lebatnya. Tetapi hambatan alam ini tak  mau dipakai     sebagai  alasan membatalkan  rencana yang telah disusun.      Bahkan kalau perlu ditunggu  saja sampai hujannya reda.  Jadi, tak perlu hari hujan diisi hanya dengan bermuram durja atau menarik selimut agar kembali lelap.

Sedang asyik berpose di dasar Ngarai Sianok,  mendung yang sedari tadi menggantung berubah menjadi gerimis, lebih  baiklah  berteduh dulu di pondok dan menikmati minuman hangat. Begitupun ketika mendekati Lembah Anai hujan sangat lebat, untunglah ketika tiba di tempat hanya tinggal gerimis saja. Hasrat terpendam untuk duduk di batu gunung besar sedekat mungkin ke air terjun  terkenal itupun  tercapai sudah. Puaaaas …… sambil ditutup dengan  mencerna durian lezat… si kucing lalok. Baca lebih lanjut

Tour de Ranah Minang : Kejutan Mengesankan

Perjalanan di  Ranah Minang dilanjutkan. Hari kedua ini banyak kejutan manis. Salah satunya  sudah kuceritakan ketika kami menemukan rumah makan dendeng baracik  yang ternyata adalah makanan langka.

Awalnya aku sempat ingin membatalkan perjalanan  ke arah sekitar Gunung Talang ini ( gunung api ini sempat aktif beberapa waktu lalu , dan penduduk sempat mengungsi) , karena  merasa jaraknya cukup jauh dan yang dituju hanya dua buah danau kembar yang ukurannya lebih kecil dari danau-danau lainnya di Sumatera Barat, lagipula  aku pun telah pernah melihatnya.  Untunglah  diurungkan.

Apa yang ditemukan  ?  Tak hanya ada danau kembar di wilayah itu  . Baca lebih lanjut

Satu Bait Ranah Minang

20120714-060240.jpg

Ranah Minang nan elok alamnya dipadu  dengan rumah bagonjong, yaitu  rumah dengan atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, sungguh suatu pemadangan menakjubkan.  Lihat lingkungan sekitarnya,ada gunung  gagah, awan berbentuk  indah, sawah dengan berbagai warna padi dan jika jeli bisa  terlihat  sedikit air danau Maninjau. Selain  indah alamnya,  budaya Minangkabau kaya pepatah atau peribahasa, salah satunya kuketahui dari komentar Uni Evi di tulisan tentang saga.

Nan kuriak kundi
Nan merah sago
Nan baik budi
Nan elok baso

Artinya :

yang bermotif itu kundi (biji saga),

yang berwarna merah saga,
yang baik itu budi,

yang indah itu bahasa (sopan santun atau tata krama), kira-kira begitu terjemahan dari eMak Ladang Jiwa, yang mungkin bermakna agar dalam pergaulan kita bisa menjaga tata krama.

Peribahasa ini kutemukan menghiasi bagian atas rumah bagonjong di kelok 44, jalan dari Bukittinggi ke arah danau Maninjau.  Ini oleh-oleh untuk Uni Evi, terima kasih telah memperkaya wawasan budaya uni sayang…

20120714-061119.jpg