Between

photo

Between, di antara jalan kecil ini ada deretan kios kosong. Kios ini bukan kios terlantar, tetapi ini adalah kios yang hanya diisi pada hari-hari tertentu. Di desa-desa keadaan seperti ini sangat umum. Pedagang baru akan datang  berjualan pada hari pasar seminggu sekali. Makanya pasar di desa dinamakan sesuai dengan hari pasar dibuka, misal Pasar Kamis. Lokasi pasar tradisional ini di sebuah desa asal Inon Putri Usagi, di Sumatera Barat.

Ancient

Travel theme Ancient tema minggu ini dari blognya Ailsa, rasanya tak bisa dilewatkan karena punya koleksi beberapa  tempat yang sangat layak disebut ancient, kuno.

Foto ini adalah kompleks pemakaman raja-raja Pagaruyung , Sumatera Barat di kota Batusangkar. Kompleks pemakaman ini dinamakan Ustano Raja Alam. Terletak di tepi jalan menuju istano Baso Pagaruyung dari arah Bukittinggi.

ustano Raja Alam Batusangkar

Foto kedua ini ada di kabupaten Lampung Selatan sebuah situs dari jaman batu besar (megalitik) di desa Pugung Raharjo. Tempat ini disebut Situs Megalitik Pugung Raharjo, atau Batu Mayat, demikian masyarakat setempat menamakannya.

IMG_9837

Rendang Lokan

Panen oleh-oleh di setiap kantor atau di perumahan bila selesai lebaran sudah hal jamak.  Pasti di kantor anda juga begitu ya…
Semua teman yang mudik biasanya bawa buah tangan makanan yang khas dari kampung masing-masing.  Makanan  itu berupa makanan kering yang sudah dikemas cantik atau bawa buah-buahan seperti salak Pondoh.

Tahun ini ada  kerabat  yang membawakan  oleh-oleh rendang lokan, makanan khas dari Painan Sumatera Barat. Lokan itu sejenis kerang yang didapat di sekitar muara sungai. Oom abang dulu pernah punya pengalaman mencari lokan sewaktu KKN.  Di lokasi KKN itu ada sungai jernih sehingga terlihat sekali lokan di dasar sungai,  hanya dengan meraup saja sudah dapat.  Tetapi, ketika hendak lebih ke tengah lagi dilarang oleh penduduk, karena katanya lokan itu tempat tidurnya buaya, he..he…, dia langsung kabur naik ke daratan.

Rendang Lokan

Rendangnya enak banget lho,  rendang rumahan yang bumbu-bumbunya pilihan dari bahan terbaik sehingga keluar semua cita rasa rendang  ranah Minang  yang asli ditambah    rasa daging lokan yang agak kenyal, berbeda dengan rasa rendang daging.  Nikmatnyaaa….., sampai dibawa lagi untuk bekal makan siang di puskes.  Rendang lokan bawa kenangan masa lalu. Habisnya sudah lama sekali tidak makan rendang kerang, yang hampir mirip rasanya dengan rendang lokan ini.  Terakhir makan rendang kerang itu ketika dibawa nantulang dari Medan.

Ketika di Medan dulu memang sering sekali makan rendang kerang atau kerang rebus dengan sambal nanas.  Seringkali di rumah opung pesta kerang he..he.., karena salah satu besan opung berasal dari Tanjung Balai, daerah yang dikenal sebagai sumber hidangan laut.  Kalau datang kiriman kerang sekarung dua karung yang jumlahnya tak akan habis hanya oleh keluarga inti. maka diundanglah saudara lain untuk bantu menghabiskan. Acaranya biasanya sampai malam kerumunan di halaman tengah dekat dapur, ada yang merebus kerang di panci besar ada yang memarut nanas, kami anak-anak tinggal tunggu kerang matang dan langsung serbu. He..he.. jadi nostalgia deh..