Ramadhan Simpel

table-3220967_640.

Tahun ini Ramadhan terasa berbeda.  Persiapan hidangan buka puasa tak seheboh dahulu di saat anak-anak masih kecil. Masa itu  kami suka ngabuburit mencari hidangan berbuka. Di kompleks perumahan kami  ada titik di mana banyak ibu yang jual makanan berbuka.  Semakin beranjak dewasa rupanya tak ada lagi “lapar mata” .  Ramadhan terasa semakin simpel. Tak ada lagi cerita catatan sekitar puasa berburu es pisang ijo  favorit dan jalang kote, selain memang karena si  ibu langganan sudah tak tinggal di kompleks kami lagi.

Aktivitas di bulan Ramadhan masih seperti biasa, aku bekerja dan anak-anak sudah kuliah semua.  Si bungsu sudah  jadi anak kos,  karena jarak kampus dari rumah cukup jauh dan sering macet. Jadi tak efektif dan akan menguras tenaganya bila harus pulang pergi dari rumah ke kampus.

Tapi rupanya ‘bau rumah” masih dirindukan si bungsu. Adek  masih tak merasa nyaman sahur dan berbuka puasa seorang diri. Akhirnya dia jadi lebih banyak pulang ke rumah, naik kereta commuter line atau kujemput.

Jam kerjaku selama Ramadhan  tahun ini sejak jam   07.00 hingga 14.00.  Jam pulang kerjaku lebih cepat, sehingga bisa dimanfaatkan untuk menjemput si bungsu yang kuliah hingga jam 18.00. Akibatnya aku harus menyediakan makanan berbuka untuk kami berdua.  Cari makanan di sekitar kampus saja sekalian. Yang dijual tak beda jauh sih   dengan penjual lainnya di mana pun.  Makanan khas buka puasa ada di sana, bubur sumsum,  bubur biji salak, gorengan dan lain-lain. Kami berdua buka puasa di parkiran he.. he.. dan berlanjut sholat magrib di musholla kampus. Suasana musholla  bikin takjub.  Musholla yang cukup luas itu sampai harus sholat Magrib berjamaah 3 kali. Jamaahnya penuh, sekali sholat bisa 20 orang makmumnya. Dan anak-anak remaja ini pun menyiapkan takjil sederhana, berupa kurma, gorengan dan teh manis.

Bila tak menjemput ke kampus,  makanan berbuka di rumah untukku lebih banyak ke buah-buahan saja. Bosan dengan buah potong  kusiapkan buah dengan  tampilan lain, mirip sop buah hanya tanpa gula dan susu, hanya dengan buah segar tok.  Jus kombinasi buah naga dan semangka, lalu letakkan potongan buah pepaya di dalamnya.  Pilihan lain  jus melon dan pisang ditambah anggur bulat atau lengkeng. Mak nyus banget deh.

Untuk anak-anak masih tetap tersedia  kolak, pisang coklat, bubur sumsum atau kembang kol goreng. Mereka masih nggak terlalu suka  buah.. hadeeh..

Tahun-tahun sebelumnya heboh buat rencana mudik tetapi tak punya waktu libur, karena aku hanya dapat libur di tanggal merah Hari Raya saja. Tahun ini cuti bersama  selama seminggu tapi mungkin tak akan ada cerita mudik. Tak ada  lagi orang tua  di kedua belah pihak yang akan didatangi.. hiiks..   Tak ada lagi persiapan membuat rendang dengan resep andalan keluarga. Mungkin tahun ini aku harus belajar menyiapkan menu  Lebaran, yang simpel saja. Ada usul teman?

Kembali mengangkat cerita Ramadhan karena  trigger tulisan mbak  Julia Amrih di blog KEB, Ramadhan Bersama Keluarga, Ngapain Aja.

4 respons untuk ‘Ramadhan Simpel

  1. lendyagasshi berkata:

    Menu lebaran yang paling dinanti saat di rumah Ibu….opor ayam.
    Huuhuu…enaknya kebangetan.
    Dimakan berhari-hari pun rasanya seddaaap tak terkiraaa..

  2. niaharyanto berkata:

    Iya banget. Semakin besar, anak-anak semakin ngerti arti puasa. Ramadhan jadi serba simpel. Aku sih masih punya anak bocah. Jadinya masih heboh bulan puasa ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s